PBNU Resmi Terbitkan Pedoman Pelaksanaan Hari Santri Nasional 2026, Ini Poin Pentingnya

5 Oktober 2026 14:04 5 Okt 2026 14:04

Rusmanto, Gumilang

Redaksi Ketik.com
Thumbnail PBNU Resmi Terbitkan Pedoman Pelaksanaan Hari Santri Nasional 2026, Ini Poin Pentingnya

Lambang Nahdlatul Ulama

KETIK, JAKARTA – Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) terbitkan surat edaran ( SE) tentang pedoman pelaksanaan Hari Santri Nasional tahun 2026. SE ber Nomor : 3/PB.01/A.II.10.47/99/10/2026 tertanggal 01 Oktober 2026.

SE ditujukan kepada Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama se-Indonesia, Pengurus Cabang dan Pengurus Cabang Istimewa Nahdlatul Ulama dan ditandatangani oleh Ketua Umum KH.Kikin A Hakim, Sekretaris Jenderal H.Gudfan Arif, S.IP, Rais Aam KH.Miftachul Akhyar serta Katib Aam Prof.Dr.KH.Mohammad Nuh. 

Adapun poin poin SE tersebut yaitu Hari Santri Nasional tahun 2026 kali ini mengusung tema “Menguatkan Akar Tradisi, Menjaga Keutuhan Negeri”.

PBNU meminta seluruh rangkaian kegiatan Hari Santri 2026 dilaksanakan dengan mengedepankan prinsip kekhidmatan, kesederhanaan, serta berorientasi pada layanan kepada jamaah dan warga NU serta agar tidak hanya berpusat pada kegiatan seremonial. 

Dengan agenda utama ialah Apel Hari Santri yang dilaksanakan secara serentak pada Kamis, 22 Oktober 2026. “Seluruh tingkat kepengurusan Nahdlatul Ulama agar melaksanakan Apel Hari Santri Nasional Tahun 2026 secara serentak pada hari Kamis, tanggal 22 Oktober 2026,tulis SE tersebut. 

Dengan ketentuan peserta apel yaitu, bagi laki-laki mengenakan sarung berwarna gelap, atasan putih, dan peci hitam. Sementara peserta perempuan mengenakan busana muslimah bernuansa putih dengan bawahan bebas atau menyesuaikan.

Selain apel, pembacaan naskah “Resolusi Jihad NU"dapat dilakukan oleh jajaran Tanfidziyah atau Badan Otonom NU dan apel dapat dipusatkan di halaman sekretariat NU sesuai tingkat kepengurusan masing-masing atau di lingkungan pondok pesantren, rumah sakit atau klinik, sekolah atau madrasah, dan perguruan tinggi NU.

PBNU meminta seluruh tingkatan kepengurusan NU mengawali rangkaian hari santri nasional dengan ziarah ke makam para ulama,aulia, atau muhharik Nahdlatul Ulama di wilayah masing masing sebagai bagian dari penghormatan terhadap ulama dan para penggerak Nahdlatul Ulama. 

Selain kegiatan internal organisasi, PBNU juga menyerukan pelaksanaan “Mujahadah Kemanusiaan untuk Palestina”. Kegiatan tersebut ditempatkan sebagai bagian dari ikhtiar dan gerakan batiniyah (riyadhah bathiniyyah) untuk kemajuan Indonesia dan kejayaan Jam'iyah Nahdlatul Ulama.

Sekaligus sebagai wujud solidaritas kemanusiaan terhadap Bangsa Palestina yang telah menjadi korban aksi genosida selama tiga tahun terakhir (Oktober 2023-Oktober 2026), agar setiap jenjang kepengurusan Nahdlatul Ulama melaksanakan ‘Mujahadah Kemanusiaan untuk Palestina’ melalui majelis istighotsah, pembacaan shalawat, zikir berjamaah serta majelis do’a lainnya. 

Selain itu PBNU juga memberikan sejumlah pilihan kegiatan yang dapat dilaksanakan seluruh tingkatan kepengurusan NU. Kegiatan tersebut mencakup layanan sosial seperti konsultasi kesehatan gratis, donor darah atau kegiatan sejenis dan konsultasi keagamaan.

Yaitu konsultasi keluarga, zakat serta peduli lingkungan seperti sanitasi pondok/pesantren, bersih bersih masjid hingga halaqah yang melibatkan Ulama dan pondok pesantren di wilayah khidmah masing masing. 

Demikian surat edaran ini kami sampaikan untuk dijadikan pedoman dan ditindaklanjuti sebagaimana mestinya. (*)

 

Tombol Google News

Tags:

PBNU Hari Santri Nasional