KETIK, JAKARTA – Realisasi investasi nasional selama dua tahun pemerintahan Presiden Prabowo Subianto mencapai Rp3.923,2 triliun dengan penyerapan tenaga kerja sebanyak 5.485.944 orang.
Capaian tersebut dihitung sejak triwulan IV 2024 hingga triwulan III 2026.
Menteri Investasi dan Hilirisasi/Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM), Rosan Roeslani, menyampaikan capaian tersebut dalam keterangannya di Istana Merdeka, Jakarta, Senin, 19 Oktober 2026.
“Ini adalah capaian realisasi investasi dua tahun pemerintahan Bapak Presiden Prabowo. Jadi kami menghitung dimulainya pada triwulan empat 2024. Jadi kami menghitung dari awal tahun, tapi adalah dari triwulan empat 2024, tahun 2025 tahun penuh, 2026 hanya sampai triwulan ketiga,” ucap Rosan.
Dari total investasi tersebut, penanaman modal dalam negeri (PMDN) mencapai Rp1.998,7 triliun atau 50,9 persen.
Sementara itu, penanaman modal asing (PMA) tercatat sebesar Rp1.924,5 triliun atau 49,1 persen.
Menurut Rosan, komposisi tersebut menunjukkan kontribusi investasi dalam negeri sedikit lebih besar dibandingkan investasi asing selama periode penghitungan tersebut.
Dari sisi persebaran wilayah, investasi di luar Pulau Jawa juga mencatatkan kontribusi lebih besar. Realisasinya mencapai Rp2.031 triliun atau 51,8 persen dari total investasi nasional.
Adapun investasi di Pulau Jawa mencapai Rp1.892,2 triliun atau 48,2 persen.
Pemerintah selanjutnya berupaya menjaga momentum investasi dengan meningkatkan kualitas iklim usaha, memperkuat hilirisasi, dan mendorong industrialisasi nasional.
Langkah tersebut diharapkan membuat investasi yang masuk memberikan dampak lebih luas bagi perekonomian Indonesia.
Rosan mengatakan, kebutuhan investasi nasional hingga 2029 telah ditetapkan oleh Kementerian Perencanaan Pembangunan Nasional/Bappenas sebesar Rp13.032,8 triliun.
Kebutuhan tersebut untuk mendukung target pertumbuhan ekonomi nasional sebesar delapan persen pada 2029.
“Memang sejauh ini alhamdulillah target yang dicanangkan oleh Bappenas, yang diberikan kepada Menteri Investasi dan Hilirisasi ini alhamdulillah tercapai ya,” ungkapnya.
Untuk meningkatkan capaian ke depan, Rosan menekankan pentingnya pendekatan aktif dalam menjaring peluang investasi serta mendengarkan masukan dari pelaku usaha.
Pemerintah juga berupaya memperbaiki iklim investasi dan industri agar penanaman modal semakin memperkuat sektor produktif di dalam negeri.
“Tentunya kita juga harus senantiasa jemput bola dan mendengarkan juga masukan, inputan agar iklim investasi kita, iklim industri kita ini makin meningkat karena memang yang kita inginkan dari investasi yang masuk adalah ujungnya industrialisasi ya, hilirisasi di antaranya kemudian industrialisasi,” pungkasnya.(*)
