KETIK, SURABAYA – Ashanty Hastuti, istri dari musisi Anang Hermansyah berhasil meraih gelar doktor dari Universitas Airlangga (Unair) Surabaya pada Rabu, 13 Mei 2026 lalu. Gelar ini ia dapatkan usai menjalani sidang terbuka di Ruang Ujian Doktor Terbuka, Lantai 2 Sekolah Pascasarjana, Kampus B, Unair.
Dalam disertasinya yang berjudul "Respons Adaptif Penyanyi Baby Boomers dan Generasi X Terhadap Transformasi Digital di Industri Musik Indonesia”. Ia berhasil mempertahankan disertasinya ini di hadapan para penguji.
Judul disertasi ini ia buat karena berangkat dari pengamatan mendalam mengenai distrupsi digital yang mengubah total lanskap ekosistem musik nasional serta dampaknya terhadap keberlangsungan karya para musisi senior.
Selama proses mengerjakan disertasi, Ashanty mengaku harus dijalani dengan tidak mudah. Tantangan justru hadir dari dalam dirinya sendiri. Ia sempat panik lantaran tak kunjung diterima oleh pembimbing.
"Jujur saya setakut dan sepanik itu. Setiap kali mau ujian, saya sering stres seharian," katanya dikutip dari laman Unair pada Selasa, 19 Mei 2026.
Kendati mendapatkan kendala, Ashanty tetap bertekad untuk bisa menyelesaikan. Selain itu, omongan netizen, soal umur juga tak menjadi soal baginya. Justru sebaliknya, menurutnya menuntut ilmu tidak mengenal batas usia. Maka dari itu, Ashanty tetap semangat mengejar gelar S3.
Usai mendapatkan gelar doktor, Ashanty langsung berbicara mengenai rencana kedepan. Ia berencana untuk melakukan aksi nyata, sesuai dengan judul disertasi, yaitu persoalan hak cipta.
"Jangka pendek mungkin akan meminta pemerintah untuk hak cipta ya, karena hal cipta ini penting banget. Terutama Baby Boomers dan di atasnya, sampai hari ini memerlukan hak-hak dan transparansi dari lembaga. Bekerja sama dengan pemerintah untuk merealisasikan ini itu penting," jelasnya.
Sebagaimana diketahui inti dari penelitian disertasi Ashanty itu menghasilkan rumusan komparatif mengenai bagaimana para pelaku industri musik dari generasi terdahulu merespons kemajuan teknologi.
Penelitian ini menyoroti bahwa musisi senior yang mampu bertahan di era digital bukanlah mereka yang sepenuhnya tunduk pada sistem komputasi, melainkan mereka yang mampu menegosiasikan logika digital dengan esensi karya seni manusia.
“Adaptasi ini sangat ditentukan oleh kemampuan seorang seniman dalam bernegosiasi antara tuntutan sistem digital saat ini. Jadi bagaimana mereka bisa adaptasi, tapi mereka juga tidak harus benar-benar mengerti teknologi yang ada saat ini,” jelasnya di hadapan para penguji. (*)
