Menyuarakan yang Bisu, Jejak Purnawan Dwikora Negara Mengadvokasi Lingkungan

28 Juli 2026 11:22 28 Jul 2026 11:22

Moh. Faiz, Dendy Ganda K.

Redaksi Ketik.com
Thumbnail Menyuarakan yang Bisu, Jejak Purnawan Dwikora Negara Mengadvokasi Lingkungan

Dr. Purnawan Dwikora Negara, dosen Fakultas Hukum Universitas Widya Gama Malang sekaligus pakar Hukum Lingkungan, saat menjadi narasumber utama dalam Diklat Paralegal Iklim dan Lingkungan yang digelar LBH Surabaya di Harris Hotel & Conventions Malang. (Foto: Humas UWG)

KETIK, MALANG – Mengadvokasi ekosistem yang tak mampu bersuara menjadi benang merah perjalanan Dr. Purnawan Dwikora Negara, S.H., M.H. Selama lebih dari tiga dekade, akademisi Universitas Widyagama (UWGM) Malang itu konsisten memperjuangkan hukum lingkungan dan masyarakat adat melalui tulisan, ruang kuliah, hingga advokasi.

Pria yang akrab disapa Pupung itu mulai aktif menulis isu lingkungan sejak menjadi mahasiswa pada era 1990-an. Ia bukan bagian dari pers kampus, melainkan kontributor di harian sore Surabaya Post yang mengisi rubrik mingguan Rukita (Rubrik Cinta Alam).

"Lingkungan itu tidak bisa berbicara, tidak bisa bersuara. Maka lewat media itulah kita suarakan lingkungan itu," ujarnya, Senin, 27 Juli 2026. 

Prinsip itulah yang kemudian menjadi pijakan dalam setiap langkahnya. Melalui tulisan-tulisannya, ia mendokumentasikan berbagai persoalan ekologis. Langkahnya membawanya menyusuri Sungai Brantas, Sungai Surabaya, hingga Sungai Bedadung di Jember. Gunung-gunung pun didakinya bukan sekadar untuk menikmati panorama, melainkan sebagai bagian dari upaya konservasi sekaligus menyampaikan kondisi alam kepada masyarakat.

"Kalau cuman mendaki aja biasa, semua orang bisa. Tapi bagaimana kita mendaki itu juga sambil mengabarkan dan menjadi bagian dari konservasi, perlindungan, menjadi pembelaan, itu jarang," jelasnya.

Pengalaman di lapangan itu tidak berhenti ketika ia memasuki dunia akademik. Setelah diangkat sebagai dosen Pegawai Negeri Sipil (PNS) pada 1991, Purnawan tetap aktif mengadvokasi isu lingkungan melalui Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (WALHI). Di luar aktivitas tersebut, ia juga dipercaya menjadi anggota Majelis Etik Aliansi Jurnalis Independen (AJI).

Pengalaman advokasi itu kemudian ia bawa ke ruang kuliah. Data lapangan, fakta hukum, hingga pengalaman mendampingi berbagai persoalan lingkungan menjadi materi yang melengkapi teori-teori yang dipelajari mahasiswa.

"Dari lapangan saya hidangkan di ruang kuliah. Supaya mahasiswa memahami antara apa yang ada di buku dan apa yang ada di kenyataan," katanya.

Menurutnya, banyak persoalan lingkungan bukan semata-mata lahir dari perilaku masyarakat. Kebijakan yang tidak berpihak pada kelestarian alam justru kerap menjadi akar berbagai kerusakan ekologis.

Ketertarikannya pada hubungan manusia dengan alam kemudian membawanya meneliti masyarakat Tengger sejak 1994. Penelitian tersebut terus berlanjut hingga menjadi tema tesis saat menempuh pendidikan magister sekaligus disertasi doktoralnya.

Baginya, masyarakat Tengger belajar tentang kehidupan dari alam. Nilai-nilai yang mereka pegang bukan sekadar tradisi, melainkan pedoman hidup yang diwariskan lintas generasi.

"Orang Tengger mengenal kearifan lokal, orang Tengger belajar soal kehidupannya dari alam. Air mengalir dari atas ke bawah, itu dipraktikkan dalam kehidupannya dia. Ucapan harus seperti air mengalir, ucapan dan perbuatan harus sama. Nah, itu hukum," imbuhnya.

Ia menilai identitas masyarakat Tengger mampu bertahan di tengah modernisasi. Menurutnya, perubahan hanya tampak pada ekspresi, sementara nilai-nilai yang mereka pegang tetap terjaga.

"Secara ekspresi dia modern, secara esensi dia Tengger," ungkapnya.

Hingga kini, Purnawan tetap aktif mengajar, meneliti, menulis, dan mengadvokasi berbagai persoalan lingkungan. Baginya, pena, ruang kuliah, dan advokasi merupakan tiga jalan yang saling melengkapi untuk memastikan alam tetap memiliki suara di tengah berbagai kepentingan pembangunan.

Sebab, seperti keyakinan yang dipegangnya sejak masih menjadi mahasiswa, ketika lingkungan tidak bisa berbicara, manusialah yang harus menyuarakannya.

Tombol Google News

Tags:

Dosen Uwg Suku Tengger Bromo Tengger Purnawan Dwikora Negara universitas widya gama malang