KETIK, SURABAYA – Fenomena meningkatnya kasus diabetes di kalangan anak muda belakangan ini cukup mengkhawatirkan. Banyak yang merasa bingung karena merasa tidak terlalu sering mengonsumsi makanan manis, tetapi tetap mengalami kenaikan gula darah.
Padahal, jika ditelusuri lebih dalam, ada beberapa kebiasaan sehari-hari yang tanpa disadari justru berkontribusi besar terhadap risiko diabetes. Hal ini juga dijelaskan oleh dr. Nadhira Afifa melalui akun TikTok-nya @nadhiraafifa_ pada 1 Januari 2026.
Salah satu penyebab yang cukup sering terjadi adalah kebiasaan begadang. Banyak anak muda yang terbiasa tidur larut malam, entah karena tugas, pekerjaan, atau sekadar scrolling media sosial. Secara fisiologis, ketika tubuh kekurangan tidur, hormon stres seperti kortisol dan adrenalin akan meningkat.
Kedua hormon ini memberi sinyal pada hati untuk memecah cadangan gula agar tubuh tetap memiliki energi. Akibatnya, kadar gula darah bisa meningkat meskipun kita tidak mengonsumsi gula berlebih. Tidak hanya itu, kurang tidur juga dapat menurunkan sensitivitas insulin, sehingga glukosa yang beredar di dalam darah menjadi lebih sulit masuk ke dalam sel dan akhirnya menumpuk.
Selain itu, pola makan juga sering kali menjadi “jebakan” yang tidak disadari. Banyak orang mengira bahwa selama mereka tidak makan makanan manis, maka aman dari risiko diabetes. Padahal, sumber karbohidrat tidak selalu terasa manis.
Makanan seperti seblak, gorengan, kerupuk, hingga saus botolan mengandung karbohidrat sederhana yang cukup tinggi. Di dalam tubuh, karbohidrat ini tetap akan dipecah menjadi glukosa. Jika dikonsumsi secara berlebihan, hal ini dapat memicu lonjakan gula darah yang signifikan. Inilah yang sering luput dari perhatian, karena rasa gurih atau asin membuat kita tidak menyadari kandungan gulanya.
Kombinasi antara kurang tidur dan pola makan tinggi karbohidrat sederhana inilah yang perlahan dapat meningkatkan risiko diabetes di usia muda. Apalagi jika ditambah dengan gaya hidup yang minim aktivitas fisik, seperti terlalu lama duduk atau jarang berolahraga.
Oleh karena itu, penting untuk mulai memperbaiki gaya hidup sejak sekarang. Menjaga pola tidur yang cukup dan teratur bisa membantu menstabilkan hormon dalam tubuh.
Selain itu, meningkatkan aktivitas fisik seperti berjalan kaki, olahraga ringan, atau sekadar tidak terlalu lama duduk juga sangat berpengaruh dalam menjaga kadar gula darah tetap normal. Dari segi pola makan, cobalah untuk lebih seimbang dengan memperbanyak asupan protein dan serat, serta mengurangi konsumsi karbohidrat sederhana.
Pada akhirnya, mencegah diabetes bukan hanya soal menghindari makanan manis, tetapi juga tentang memahami kebiasaan sehari-hari yang secara diam-diam memengaruhi kesehatan tubuh. Gaya hidup yang lebih seimbang adalah kunci utama agar tetap sehat, bahkan di usia muda. (*)
