Abdul Waseh Hasas: Pancasila Lahir dari Sejarah Perjuangan Bangsa

1 Juni 2026 11:45 1 Jun 2026 11:45

Abdul Kohar

Editor
Thumbnail Abdul Waseh Hasas: Pancasila Lahir dari Sejarah Perjuangan Bangsa

Ilustrasi saat penjajahan. (Foto: Gemini)

KETIK, LEBAK – Ketua LKBH Nasional PB PGRI, Abdul Waseh Hasas, menegaskan bahwa Pancasila lahir dari pemikiran, gagasan, dan semangat perjuangan bangsa Indonesia dalam melawan penjajahan. Tanggal 1 Juni 1945 menjadi momen bersejarah ketika Presiden Soekarno menyampaikan pidato mengenai gagasan dasar negara Indonesia dalam sidang Dokuritsu Junbi Chōsakai (BPUPKI). Tanggal tersebut kemudian ditetapkan sebagai Hari Lahir Pancasila.

Dalam keterangannya kepada wartawan pada peringatan Hari Lahir Pancasila, Senin (1/6/2026), Abdul Waseh mengajak seluruh elemen bangsa untuk merefleksikan kembali perjuangan para pendiri bangsa dalam merancang jalan menuju kemerdekaan agar Indonesia terbebas dari penjajahan. 

Pada saat yang sama, para pendiri bangsa juga merumuskan berbagai gagasan dan konsep keindonesiaan yang menjadi landasan kokoh bagi perjuangan kemerdekaan.

"Setiap tanggal 1 Juni, bangsa Indonesia memperingati Hari Lahir Pancasila. Namun, di tengah derasnya arus digitalisasi, perkembangan kecerdasan buatan, dan perubahan sosial yang begitu cepat, muncul pertanyaan yang patut kita renungkan bersama, yakni masih saktikah Pancasila bagi generasi Indonesia masa depan," ujar Abdul Waseh.

Menurutnya, pertanyaan tersebut bukan dimaksudkan untuk meragukan kedudukan Pancasila sebagai dasar negara. Sebaliknya, hal itu menjadi bahan refleksi untuk melihat sejauh mana nilai-nilai Pancasila benar-benar diimplementasikan dalam sistem pendidikan, kehidupan sosial, budaya, maupun praktik politik di Indonesia.

"Pancasila bukan sekadar dokumen sejarah atau simbol kenegaraan. Pancasila adalah panduan moral yang dirancang oleh para pendiri bangsa untuk menjawab berbagai tantangan yang dihadapi Indonesia dari masa ke masa," katanya.

"Kita harus jujur melihat kenyataan. Di era digital, tantangan yang dihadapi generasi muda jauh lebih kompleks. Informasi mengalir tanpa batas, hoaks menyebar sangat cepat, polarisasi sosial mudah terjadi, budaya instan semakin kuat, sementara keteladanan publik sering kali dipertanyakan," lanjutnya.

Abdul Waseh juga menyoroti momentum bonus demografi yang sedang dihadapi Indonesia. Menurutnya, kondisi tersebut dapat menjadi peluang besar bagi kemajuan bangsa apabila diiringi pembangunan sumber daya manusia yang berkarakter serta penguatan pengamalan nilai-nilai Pancasila yang ditanamkan secara konsisten.

"Dalam beberapa tahun mendatang, mayoritas penduduk Indonesia akan berada pada usia produktif. Ini bisa menjadi kekuatan besar bagi Indonesia. Namun, tanpa karakter yang kuat, bonus demografi justru berpotensi menjadi beban," ujarnya.

Karena itu, ia menekankan bahwa masa depan Indonesia tidak hanya ditentukan oleh penguasaan teknologi, kecerdasan buatan, maupun kemampuan bersaing secara global, tetapi juga oleh kemampuan generasi muda dalam mempertahankan nilai-nilai kemanusiaan, persatuan, keadilan sosial, dan semangat gotong royong.

Ia menegaskan bahwa selama nilai-nilai Pancasila tetap menjadi ruh dalam pendidikan, hukum, politik, ekonomi, dan kehidupan sosial masyarakat, Pancasila akan terus relevan serta menjadi pedoman bangsa Indonesia.

"Yang harus kita jaga bukan hanya Pancasila, tetapi juga komitmen untuk mengamalkan nilai-nilai Pancasila dalam kehidupan nyata. Indonesia membutuhkan generasi yang bukan hanya pintar, tetapi juga berkarakter, berintegritas, dan berjiwa Pancasila," pungkas Abdul Waseh.

Pada momentum Hari Lahir Pancasila 2026, Abdul Waseh mengajak seluruh komponen bangsa untuk mengingat perjuangan para pendiri bangsa serta terus menjaga dan menghidupkan nilai-nilai luhur yang mereka wariskan sebagai bekal menghadapi berbagai tantangan masa depan Indonesia.(*)

Tombol Google News

Tags:

Ketua Lkbh Nasional Pb Pgri Abdul Waseh Hasas Hari Lahir Pancasila 2026 ketik.com Penjajahan