KETIK, BANDUNG – Minat masyarakat Jawa Barat untuk berinvestasi di pasar modal terus meningkat. Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Provinsi Jawa Barat mencatat jumlah investor pasar modal di Jawa Barat menjadi yang tertinggi di Indonesia hingga Triwulan I 2026.
Kepala OJK Provinsi Jawa Barat Darwisman mengatakan jumlah Single Investor Identification (SID) di Jawa Barat per Maret 2026 mencapai 4.867.627 investor atau tumbuh 63,76 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Angka tersebut menjadi yang tertinggi secara nasional.
Menurut Darwisman, pertumbuhan jumlah investor tersebut menunjukkan semakin meningkatnya pemahaman dan kepercayaan masyarakat terhadap instrumen investasi di sektor formal.
“Peningkatan jumlah investor ini menunjukkan masyarakat semakin mengenal dan memanfaatkan berbagai produk investasi yang diawasi secara resmi,” kata Darwisman, Selasa (2/6/2026).
Selain mencatat jumlah investor terbesar nasional, nilai transaksi saham investor asal Jawa Barat juga mencapai Rp36,4 triliun dan menjadi yang terbesar kedua di Indonesia setelah DKI Jakarta.
Saat ini terdapat 85 perusahaan asal Jawa Barat yang telah tercatat di Bursa Efek Indonesia. Perusahaan tersebut berasal dari berbagai sektor, mulai dari perbankan, telekomunikasi, properti, industri makanan dan minuman, otomotif hingga jasa konsumen.
Darwisman mengatakan peningkatan partisipasi masyarakat dalam pasar modal tidak terlepas dari berbagai program edukasi dan literasi keuangan yang terus dilakukan OJK bersama pelaku industri jasa keuangan.
Sepanjang Januari hingga April 2026, OJK Jawa Barat bersama OJK Cirebon dan OJK Tasikmalaya telah melaksanakan 1.004 kegiatan edukasi keuangan yang diikuti sekitar 1,81 juta peserta dari berbagai kalangan masyarakat.
Program edukasi tersebut menyasar pelajar, mahasiswa, perempuan, pelaku UMKM, petani, nelayan hingga kelompok disabilitas sebagai bagian dari upaya memperluas inklusi keuangan di Jawa Barat.
Darwisman menegaskan OJK akan terus memperkuat literasi dan perlindungan konsumen agar pertumbuhan jumlah investor berjalan seiring dengan meningkatnya pemahaman masyarakat terhadap risiko dan manfaat investasi.
“OJK akan terus mendorong terciptanya sektor jasa keuangan yang inklusif, sehat, dan berkelanjutan sehingga mampu mendukung pertumbuhan ekonomi daerah,” katanya.(*)
