KETIK, MALANG – Warga Kota Malang mulai mempertanyakan proses pendaftaran Sekolah Rakyat. Sebab hingga kini, petunjuk teknis (juknis) penjaringan siswa masih menunggu arahan resmi dari Kementerian Sosial RI.
Kepala Dinsos-P3AP2KB Kota Malang, Donny Sandito, menjelaskan, siswa Sekolah Rakyat berasal dari masyarakat yang masuk pada Desil 1 dan 2 berdasarkan data di DTKS. Penjaringan dilakukan melalui Pendamping Program Keluarga Harapan (PKH), dan Puskesos.
"Kalau untuk Sekolah Rakyat, memang petunjuk syarat teknis untuk pendaftaran masih belum ada dari Kementerian Sosial. Cuma, dari kita di Pendamping PKH dan Puskesos baru mulai mendata. Masyarakat yang ada di DTKS yang masuk desil 1 dan 2, yang umurnya usia SMP atau SMA terutama yang mau lulus SD atau SMP," ujarnya, Kamis, 28 Mei 2026.
Donny menyebut banyak masyarakat yang telah mengajukan untuk mendaftarkan anaknya ke Sekolah Rakyat. Namun data-data tersebut masih dikumpulkan oleh Dinsos Kota Malang sebab menunggu persyaratan dari Kemensos.
"Sudah ada beberapa juga yang mengajukan pendaftaran. Kemarin itu sudah ada sekitar 5 sampai 7 orang yang tanya-tanya dan meninggalkan nomor telepon di Dinsos Kota Malang," lanjutnya.
Juknis tersebut nantinya menginformasikan tentang jumlah murid yang diterima, rombongan belajar (rombel) yang dibuka, dan lainnya. Apabila juknis telah keluar, maka Dinsos Kota Malang baru dapat membuka pendaftaran secara resmi maupun aktif mencari siswa menggunakan basis data yang ada di DTKS.
"Misal ditetapkan tiga rombel untuk SMP dan tiga rombel untuk SMA di Kota Malang, nah kita baru membuka pendaftaran secara resmi. Selain itu, teman-teman PKH juga sambil menyisir data yang ada di DTKS untuk memenuhi kuota," katanya.
Nantinya Sekolah Rakyat juga akan selaras dengan dimulainya tahun ajaran baru 2026/2027 pada sekolah reguler. Pada tahun sebelumnya, Sekolah Rakyat di Kota Malang medapatkan jatah 3 rombel untuk setiap jenjang SMP dan SMA.
"Sekolah Rakyat tahun lalu itu untuk SMP ada 3 rombel, dan SMA juga 3 rombel. Satu rombelnya kalau tidak salah isi 25 siswa. Jadi totalnya SMP ada 75 siswa dan SMA 75 siswa. Tahun ajaran ini kemungkinan masih di Poltekom karena lokasi yang diusulkan oleh Pemkot Malang masih belum dibangun tahun ini, kalau tidak salah ikut gelombang kedua," tuturnya. (*)
