KETIK, SAMPANG – Kemarau panjang disertai cuaca terik yang menerpa Kabupaten Sampang, Madura, memicu krisis air bersih di sejumlah wilayah. Dampaknya, warga di kecamatan belasan terpaksa merogoh kocek pribadi demi memenuhi kebutuhan udara sehari-hari.
Salah satu wilayah terdampak parah adalah Desa Gunung Rancak, Kecamatan Robatal. Untuk mendapatkan air bersih yang layak dikonsumsi, warga setempat harus membeli tangki air dengan harga bervariasi.
Matheri (39), warga Dusun Arnih Timur, mengungkapkan bahwa dirinya sudah berkali-kali membeli air bersih untuk kebutuhan keluarganya. Harga tangki air dijual mulai dari Rp150.000 hingga Rp300.000, tergantung pada kapasitas yang dipesan.
"Akibat kemarau ini, kami mengalami kekeringan dan sangat kekurangan air bersih. Rata-rata warga di sini semua membeli air demi kebutuhan sehari-hari," ujarnya, Sabtu, 5 September 2026 .
Ia menambahkan, keberadaan sumur bor di sekitar pemukiman pun tidak banyak membantu. Teriknya cuaca dan durasi kemarau yang panjang membuat debit air sumur menyusut hingga mengering total.
12 Kecamatan Status Kering Kritis
Kondisi krisis ini selaras dengan pemetaan dari Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Sampang. Dari total 14 kecamatan di Sampang, sebanyak 12 kecamatan berada dalam status kering kritis pada musim kemarau 2026 ini.
Kasi Kedaruratan dan Logistik BPBD Sampang, Mohammad Hozin, menjelaskan bahwa potensi kekeringan kritis tersebut tersebar di puluhan desa.
“Kekeringan di Kabupaten Sampang tahun 2026 ini melanda 12 kecamatan dan 78 desa yang masuk kategori kering kritis. Hanya dua kecamatan yang tidak masuk status kering kritis, yaitu Ketapang dan Pangarengan,” terangnya.
Adapun 12 kecamatan yang berstatus kering kritis meliputi Robatal, Karang Penang, Jrengik, Camplong, Kedungdung, Omben, Banyuates, Sampang, Sokobanah, Sreseh, Tambelangan, dan Torjun. (*)
