KETIK, PROBOLINGGO – Di tengah gempuran teknologi kecerdasan buatan (AI) yang kian membingungkan, KH. Moh. Zuhri Zaini memberikan pesan mengenai pentingnya menjaga sanad keilmuan. Ini disampaikan saat menerima kunjungan Yayasan Pesantren Nurul Ulum Bondowoso di Pondok Pesantren Nurul Jadid, Paiton, Probolinggo, Minggu, 10 Mei 2026. Ia mengingatkan bahwa kepintaran tanpa guru bisa menjerumuskan seseorang pada kesesatan.
"Ada orang yang hanya bermodalkan kepintaran lalu berani menentang para imam Mujtahid. Ini sikap yang terlalu percaya diri," tutur Kiai Zuhri dengan nada prihatin.
Ia mencontohkan fenomena orang yang memahami agama secara dangkal, seperti anggapan bahwa cukup "ingat Allah" tanpa perlu menjalankan salat.
Kiai Zuhri mengibaratkan sanad keilmuan sebagai penyaring kebenaran. Di zaman sekarang, ketika video AI bisa memanipulasi wajah presiden hingga tokoh agama, umat Islam harus kembali pada tradisi tabayyun (verifikasi) dan merujuk pada otoritas informasi yang jelas.
Ia juga mengajak para pengajar untuk menata niat. "Belajar dan mengajar apapun, baik ilmu agama maupun ilmu umum sebagai penunjang hidup, niatnya harus benar dan diorientasikan untuk akhirat," pesannya.
Dalam kesempatan itu, Kiai Zuhri berharap agar pendidikan pesantren tetap menjadi benteng terakhir yang tidak hanya mencetak santri cerdas secara akademik, tetapi juga memiliki karakter yang kokoh sesuai tuntunan Rasulullah SAW. (*)
