KETIK, SIDOARJO – Pemerhati kesehatan menyoroti pentingnya keamanan pangan dalam pelaksanaan program Makan Bergizi Gratis (MBG) menyusul dugaan keracunan yang dialami ratusan santri dan santriwati Pondok Pesantren Manbaul Hikam, Desa Putat, Kecamatan Tanggulangin, Kabupaten Sidoarjo, Selasa, 1 September 2026.
Pemerhati kesehatan, Dr. Elis Anita Farida, M.M., mengatakan, kejadian tersebut menjadi perhatian, khususnya terkait pentingnya aspek keamanan dan kualitas pangan dalam pelaksanaan program MBG.
Menurutnya, penanganan medis secara cepat menjadi prioritas untuk mencegah kondisi korban semakin memburuk.
“Keselamatan dan kesehatan anak-anak harus menjadi prioritas utama. Setiap kejadian seperti ini perlu ditangani secara cepat sekaligus menjadi bahan evaluasi agar tidak terulang kembali,” ujar Elis yang turut meninjau kondisi darurat para santri yang dilarikan ke sejumlah rumah sakit, Selasa malam, 1 September 2026.
Selain penanganan korban, Elis menekankan pentingnya evaluasi menyeluruh terhadap proses penyediaan makanan MBG.
Evaluasi tersebut mencakup proses pengolahan, penyimpanan, distribusi hingga makanan dikonsumsi oleh penerima manfaat.
Menurut perempuan yang juga Wakil Ketua DPC PKB Sidoarjo itu, program MBG memiliki tujuan yang sangat baik dalam mendukung pemenuhan gizi masyarakat, khususnya anak-anak.
Namun, tujuan tersebut harus dibarengi dengan penerapan standar keamanan pangan dan pengawasan kesehatan yang ketat.
Berdasarkan informasi yang dihimpun hingga saat ini, sedikitnya 293 santri jenjang SMP dan SMA telah dilarikan ke rumah sakit dan menjalani perawatan yang tersebar di delapan rumah sakit di wilayah Sidoarjo.
Sejumlah rumah sakit yang menerima pasien di antaranya RSUD Notopuro, RS Islam Siti Hajar, RS Bhayangkara Pusdik Porong, RS Delta Surya, dan RSU Aisyiyah Siti Fatimah.
Merespon hal tersebut, Bupati Sidoarjo Subandi memastikan para santri yang menjalani perawatan telah mendapatkan penanganan medis dengan maksimal.
“Semua pasien tertangani dengan baik. Jadi kalau ada berita yang meninggal itu, enggak benar,” tegas Subandi usai mengecek langsung kondisi santri di RSUD Notopuro Sidoarjo bersama Kapolresta Sidoarjo dan Dandim 0816.
Subandi mengatakan kondisi para santri yang menjalani perawatan terus membaik.
Pemerintah daerah juga terus memantau kondisi pasien yang tersebar di sejumlah rumah sakit.
Ia menegaskan para santri tidak akan dipulangkan sebelum dinyatakan benar-benar pulih oleh tim medis.
“Sudah kita instruksikan direktur rumah sakit, sampai anak ini selesai semuanya baru kita bolehkan pulang,” tegas Subandi.
Sementara itu, Subandi menyampaikan Pemkab Sidoarjo bakal mengecek Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Kalitengah, Tanggulangin, pada Rabu, 2 September 2026.
Pemeriksaan tersebut akan dilakukan bersama organisasi perangkat daerah (OPD) terkait untuk mengetahui persoalan yang terjadi.
“Besok insyaallah akan kita cek ke sana. Kita akan cek persoalannya apa di sana,” pungkasnya.
Sebagai informasi, dugaan keracunan bermula setelah para santri menyantap menu MBG pada siang hari.
Sejumlah santri mulai mengeluhkan pusing dan mual setelah melaksanakan salat asar.
Kondisi tersebut kemudian membuat ratusan santri dilarikan ke sejumlah rumah sakit setelah waktu magrib untuk mendapatkan penanganan medis.
Makanan yang dikonsumsi disebut berasal dari SPPG Kalitengah.
Menu MBG yang disajikan terdiri dari nasi putih, telur orak-arik, tempe bumbu bali, tumis buncis baby corn, dan apel.
Hingga berita ini diturunkan, penyebab pasti dugaan keracunan yang dialami para santri masih dalam penelusuran.(*)
