KETIK, KEDIRI – Di balik kemegahan puncak Gunung Kelud yang berselimut kabut, terdapat sebuah koordinat yang seolah terlupakan oleh detak jam pembangunan.
Kampung Onggoboyo, sebuah permukiman terpencil di Kaki Gunung Kelud yang secara administratif tampak dekat dengan peta namun terasa begitu jauh dalam realistas akses.
Kampung yang secara administratif masuk wilayah Desa Babadan Kecamatan Ngancar Kabupaten Kediri ditengah perkebunan tebu itu menyimpan sisa-sisa memori kolonial yang bekelindan dengan perjuangan hidup manusia modern.
Di sini waktu seolah berjalan lebih lambat, terbelenggu oleh isolasi geografis yang memisahkan warganya dari hingar bingar kemajuan zaman.
Di balik rimbunnya area perkebunan, warga Kampung Onggoboyo masih setia merajut mimpi sederhana yaitu hidup lebih layak tanpa harus merasa dibuang oleh keadaan. Selama bertahun-tahun kata terisolir bukan sekedar label geografis, melainkan realistas aspek kehidupan nyata.
Bagi warga setempat, rutinitas harian adalah sebuah perjuangan berat. Tanpa akses memadai menjadikan tantangan bagi anak sekolah saat menimba ilmu untuk mengejar mimpi demi mendapatkan kehidupan yang lebih layak.
Menyusuri jalan setapak di tengah rindangan perkebunan tanpa penerangan memadai menjadi kenyataan yang tidak bisa dihindari.
Kampung ini bukan permukiman biasa. Bangunan-bangunan bergaya Indis dengan tembok tebal khas Belanda masih berdiri kokoh di sana.
Dahulu, ada sekitar 20 rumah yang selalu penuh sesak oleh para pekerja perkebunan PTPN X. Kini, hanya tersisa 11 rumah dan dihuni 14 kepala keluarga yang masih bertahan di tengah kepungan kebun.
Kepala Desa Babadan Arif Priyo Wiyoko mengisahkan bahwa saat ini penghuni Kampung Onggoboyo adalah potret regenerasi. Bukan lagi hanya pekerja aktif, namun telah turun temurun hingga anak cucu yang sebagian kini melakoni pekerjaan diluar perkebunan.
"Status tanah dan bangunan tetap milik PTPN. Warga boleh menempati, tapi dengan catatan ketat tidak boleh mengubah struktur bangunan apalagi menjualnya," kata Arif kepada Ketik.com.
Perjalanan Kampung Onggoboyo menuju 'kemerdekaan' fasilitas dasar tergolong sangat panjang. Sebelum listrik token masuk sekitar satu-dua tahun lalu, warga harus bergantung pada aki.
Mereka sempat memiliki panel surya, namun rusak dimakan usia. Penggunaan genset pun pernah dicoba, meski akhirnya menyerah karena tingginya biaya BBM. "Jam 6 sore hingga 9 malam butuh 1 liter," imbuhnya.
Menariknya, aliran listrik yang ada sekarang bukan hasil proyek instansi pemerintah, melainkan inisiasi pribadi seorang dermawan yang peduli.
Kabel ditanam sejauh satu kilometer dari kampung terdekat untuk menyalurkan setitik cahaya ke Onggoboyo. Itupun hanya satu meteran untuk seluruh rumah yang ada.
Pemerintah melalui Dinas Perumahan dan Kawasan Permukiman (Perkim) baru-baru ini mulai menyentuh kampung ini dengan bantuan rehabilitasi atap dan penyaluran air bersih (PAM) langsung ke rumah warga.
Meski atap tak lagi bocor dan air mengalir, persoalan aksesibilitas tetap menjadi momok. Jalan masuk sepanjang satu kilometer menuju Onggoboyo adalah jalan setapak milik PTPN yang belum tersentuh aspal. Saat hujan turun, jalur tersebut berubah menjadi medan yang licin dan berbahaya.
Kondisi ini menyisakan trauma tersendiri bagi para ibu seperti Winarti salah satu warga Onggoboyo. Saat senja tiba, ia kerap didera kecemasan jika anaknya belum pulang sekolah saat hujan mengguyur. Minimnya penerangan jalan membuat perjalanan satu kilometer tersebut terasa sangat jauh dan mencekam.
Kondisi itu harus dialami anak Winarti dan anak warga lainnya yang bersekolah. Meskipun hidup ditengah keterbatasan, ditengah area perkebunan, anak-anak tetap bersemangat menempuh ilmu ditengah rasa was-was saat pulang sekolah jika senja tiba.
"Ada yang kuliah juga. Bahkan ada anak yang berprestasi di olahraga Bulutangkis dari Kampung Onggoboyo," katanya.
Melihat realistas kehidupan warganya yang bertolak belakang dengan deru perkembangan zaman, Arif mengaku bukannya tanpa upaya.
Ia mengaku sempat bertolak ke Surabaya untuk beraudiensi langsung dengan pihak PTPN, namun langkahnya terganjal jalan buntu lantaran gagal menemui pihak yang berkompeten memberikan kebijakan.
Pihak desa berada dalam posisi dilematis. Secara kewilayahan, Onggoboyo adalah bagian dari Desa Babadan, namun secara aset, jalan hingga bangunan adalah wewenang penuh perusahaan. Desa hanya bisa masuk melalui bantuan sosial seperti pangan dan kesejahteraan warga.
"Solusi yang saya tawarkan sebenarnya adalah memindahkan warga ke titik yang lebih dekat dengan jalan raya, tetap di kawasan PTPN. Tujuannya agar akses lebih mudah dan mereka punya rumah tinggal yang layak, tidak lagi terisolir," jelas Arif.
Arif optimistis jika usulan relokasi ini disetujui, pihak desa siap memberikan dukungan penuh dalam pembangunan fisik, termasuk menjalin kolaborasi dengan Pemkab Kediri maupun Pemprov Jatim. Namun, ia mengakui kendala utama ada pada kebijakan perusahaan yang masih kaku.
"Ada pendapat yang bilang tidak bisa, tapi ada juga yang berargumen bisa, karena tanah PTPN adalah tanah negara yang peruntukannya bisa untuk masyarakat. Saya hanya berharap ada solusi konkret demi kemanusiaan," pungkasnya.
Di sisi lain Arif mengaku pernah membedah potensi area itu untuk dijadikan objek wisata sehingga menambah pundi perekonomian warga. Namun lagi-lagi upaya itu masih menemui jalan buntu.
Meski terhimpit keterbatasan, urat nadi kehidupan di Onggoboyo tidak berhenti berdenyut. Warga secara swadaya bahu membahu merawat dan saling menguatkan. Semangat gotong-royong menjadi mesin penggerak yang menjaga kampung ini tetap ada ditengah deru pembangun zaman.(*)
