Memasuki Musim Kemarau Dua Desa Alami Kekeringan, BPBD Cilacap Salurkan Bantuan Air Bersih

20 Juni 2026 16:20 20 Jun 2026 16:20

Nani Ekowati, Rahmat Rifadin

Redaksi Ketik.com
Thumbnail Memasuki Musim Kemarau Dua Desa Alami Kekeringan, BPBD Cilacap Salurkan Bantuan Air Bersih

BPBD Cilacap salurkan bantuan air bersih kedua desa terdampak kekeringan yakni Desa Kedungbenda Nusawungu dan Karangkemiri Jeruklegi. (Foto: Nani Eko/Ketik.com)

KETIK, CILACAP – Musim kemarau 2026 mulai berlangsung. Menurut prediksi Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Kabupaten Cilacap, musim kemarau terjadi pada bulan Mei dan puncaknya di bulan Agustus. Sejumlah desa di wilayah Kabupaten Cilacap mulai mengalami kekeringan.

Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Cilacap, Jawa Tengah, mencatat dua desa mulai terdampak kekeringan yakni Desa Kedungbenda Kecamatan Nusawungu dan Desa Karangkemiri Kecamatan Jeruklegi.

Kondisi tersebut mendapat perhatian BPBD untuk menyalurkan bantuan air bersih untuk memenuhi kebutuhan pokok masyarakat.

"Jadi air bersih merupakan kebutuhan pokok, pasca mendapat laporan, kami segera melakukan pendistribusian air bersih ke dua desa yang terdampak," ujar Kepala Pelaksana BPBD Kabupaten Cilacap Taryo, Jumat 19 Juni 2026.

BPBD bersama unit pelaksana teknis penanggulangan bencana telah menyalurkan total 23.000 liter air bersih ke wilayah terdampak. Sebanyak 3.000 liter air bersih didistribusikan ke Desa Kedungbenda pada 9 Juni. Bantuan tersebut disalurkan ke tiga titik di RT 1 dan RT 4 RW 3 Dusun Api-Api.

Bantuan air bersih itu diperuntukkan bagi 40 keluarga atau 120 jiwa yang mulai mengalami kesulitan memperoleh air bersih akibat berkurangnya ketersediaan sumber air.

Sementara itu, di Desa Karangkemiri, Kecamatan Jeruklegi, BPBD telah menyalurkan 20.000 liter air bersih kepada warga terdampak kekeringan.

Taryo mengatakan hasil kaji cepat yang dilakukan pada 15 Juni menunjukkan wilayah Dusun Karangkemiri RT 05 RW 01 mengalami keterbatasan air bersih akibat menurunnya debit sumber air yang selama ini dimanfaatkan warga untuk kebutuhan sehari-hari.

Dari hasil asesmen tersebut, tercatat sebanyak 49 keluarga atau 192 jiwa terdampak kekeringan. Sejumlah sumur warga mengalami penurunan debit sehingga tidak mampu memenuhi kebutuhan harian masyarakat.

Menurut dia, kondisi tersebut membuat sebagian warga harus mencari sumber air dari lokasi yang lebih jauh. Untuk mengurangi dampak yang ditimbulkan, BPBD melakukan distribusi air bersih secara berkala.

Selain menyalurkan bantuan air bersih, BPBD juga berkoordinasi dengan pemerintah desa, memantau perkembangan kondisi sumber air, serta mengedukasi masyarakat mengenai pentingnya penghematan penggunaan air selama musim kemarau.

Taryo memastikan BPBD akan terus memantau perkembangan situasi di lapangan dan menyiapkan distribusi bantuan lanjutan apabila kondisi kekeringan masih berlangsung.

"Sebagai antisipasi agar kebutuhan air bersih pada masyarakat yang terdampak, kami melakukan penguatan koordinasi antara pemerintah desa, kecamatan, dan instansi terkait," terang Taryo.

Sementara itu, Taryo mengimbau penguatan sarana penyediaan air bersih perlu disiapkan sebagai upaya jangka menengah untuk meningkatkan ketahanan masyarakat menghadapi ancaman kekeringan pada musim kemarau mendatang.

"Penting sekali pemerintah desa berkoordinasi dengan pihak terkait untuk mendirikan sarana penyediaan air bersih sebagai upaya ketahanan masyarakat dalam menghadapi kekeringan pada musim kemarau berikutnya," tandasnya. (*)

Tombol Google News

Tags:

BERITA CILACAP Bantuan Air Bersih Dampak Kemarau Bdbp Cilacap Info Cilacap