Leptospirosis Tembus 157 Kasus, DKPP Pacitan Tak Terima Tikus Sawah Disebut Jadi Biangnya

6 Juli 2026 15:39 6 Jul 2026 15:39

Al Ahmadi

Editor
Thumbnail Leptospirosis Tembus 157 Kasus, DKPP Pacitan Tak Terima Tikus Sawah Disebut Jadi Biangnya

Masyarakat saat melakukan gerakan pengendalian (Gerdal) hama tikus di area persawahan Kabupaten Pacitan. Di tengah meningkatnya serangan hama, kasus leptospirosis di Pacitan tercatat telah mencapai 157 kasus sepanjang 2026. (Foto: DKPP for Ketik.com)

KETIK, PACITAN – Kasus leptospirosis di Kabupaten Pacitan terus bertambah. 

Dinas Kesehatan (Dinkes) Pacitan mencatat jumlah kasus kumulatif sepanjang 2026 telah mencapai 157 kasus di tengah maraknya serangan hama tikus di sejumlah wilayah pertanian.

Data tersebut disampaikan Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) Dinkes Pacitan, Nur Farida, saat dikonfirmasi pada Jumat, 3 Juli 2026.

"Total kumulatif 2026 sebanyak 157," ujarnya.

Meningkatnya kasus leptospirosis bertepatan dengan merebaknya serangan hama tikus di sejumlah kawasan pertanian, salah satunya di Kecamatan Ngadirojo. 

Namun, Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian (DKPP) Pacitan membantah bahwa tikus sawah disebut sebagai penyebab utama penyebaran leptospirosis.

Kepala Bidang Tanaman Pangan dan Hortikultura DKPP Pacitan, Agus Rustamto, mengatakan masyarakat perlu memahami perbedaan karakteristik kedua jenis tikus tersebut agar tidak muncul kesalahpahaman.

"Nah, ini yang perlu diluruskan. Hama tikus itu berbeda dengan tikus yang ada di rumah. Tikus sawah hidup di sawah atau tegal. Berdasarkan penjelasan teman-teman Pengendali Organisme Pengganggu Tanaman (POPT), tikus sawah tidak membawa bakteri penyebab leptospirosis. Yang menjadi pembawa bakteri justru tikus rumah," kata Agus, Senin, 6 Juli 2026.

Menurutnya, tikus sawah memiliki habitat, jenis makanan, dan perilaku yang berbeda dengan tikus rumah. 

Tikus sawah lebih banyak memakan tanaman pertanian dan hidup di area persawahan maupun tegalan, sedangkan tikus rumah hidup di lingkungan permukiman dengan sumber makanan yang lebih beragam.

Ia menegaskan korelasi antara meningkatnya populasi tikus sawah dan kasus leptospirosis tidak berarti tikus sawah menjadi penyebab utama penularan penyakit tersebut.

"Yang berkembang memang sama-sama populasi tikus karena kondisi cuaca mendukung. Tetapi bukan berarti tikus sawah berpindah ke rumah lalu menyebabkan leptospirosis. Secara teori, jenisnya berbeda," ujarnya.

DKPP bersama petugas Pengendali Organisme Pengganggu Tanaman (POPT) dan penyuluh pertanian lapangan (PPL) saat ini terus melakukan pengendalian hama melalui gerakan gropyokan, penggunaan rodentisida, hingga pelatihan pembuatan emposan untuk menekan populasi tikus di lahan pertanian.

Agus juga menyebut pihaknya telah berkoordinasi dengan Dinas Kesehatan mengenai perbedaan karakteristik tikus sawah dan tikus rumah. 

Menurutnya, dari sisi pertanian, penjelasan yang disampaikan mengacu pada kajian teknis petugas POPT yang menangani hama tanaman.

Di sisi lain, masyarakat tetap diimbau menerapkan perilaku hidup bersih dan sehat serta menjaga kebersihan lingkungan rumah untuk menekan populasi tikus rumah yang berpotensi menjadi media penularan leptospirosis. 

Warga juga diminta segera memeriksakan diri ke fasilitas kesehatan apabila mengalami gejala seperti demam tinggi, nyeri otot, mata kemerahan, atau keluhan lain yang mengarah pada leptospirosis.

"Meningkatnya populasi tikus sawah saat ini dipicu perubahan musim dari penghujan menuju kemarau. Kondisi tanah yang masih lembap membuat tikus lebih aktif membuat liang dan berkembang biak di lahan pertanian," ungkapnya.(*)

Tombol Google News

Tags:

Farida Dinkes Agus Rustamto DKPP Pacitan dinkes pacitan kabupaten pacitan Leptospirosis Pacitan hama tikus Tikus Sawah Tikus Rumah Kecamatan Ngadirojo Pengendalian Hama Info Pacitan Berita pacitan