KETIK, MOJOKERTO – Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa menekankan pentingnya menyeimbangkan kerja produktif dengan ikhtiar religius sebagai kunci meraih kesuksesan yang penuh keberkahan. Pesan itu disampaikan saat menghadiri Haflah Ikhtitamiddurus XXI Pondok Pesantren Al-Amin di Sunrise Hotel, Kota Mojokerto, Sabtu, 27 Juni 2026.
Menurut Khofifah, pendidikan pesantren telah membuktikan bahwa keberhasilan seseorang tidak hanya ditentukan oleh kerja keras, tetapi juga harus diiringi dengan riyadhah atau ikhtiar spiritual yang menjadi fondasi keberkahan dalam kehidupan.
"Kerja-kerja produktif harus diberseiringi dengan berbagai ikhtiar spiritualitas. Itulah yang akan menghadirkan keberkahan dalam setiap langkah kehidupan," ujarnya.
Dalam kesempatan itu, Khofifah juga memberikan apresiasi kepada Pondok Pesantren Al-Amin yang didirikan lima tokoh, salah satunya Plt Asisten Administrasi Umum Sekretariat Daerah Provinsi Jawa Timur, Akhmad Jazuli, yang juga menjabat Ketua Dewan Pengasuh Pondok Pesantren Al-Amin.
Menurutnya, Akhmad Jazuli memiliki kontribusi besar dalam memperkuat jejaring ulama dan masyayikh, baik di tingkat nasional maupun internasional.
"Almukarom Bapak Kiai Jazuli ini luar biasa. Beliau tidak sekadar menjadi Plt Asisten di Pemprov Jawa Timur, tetapi juga menjadi bagian dari penguat jejaring ulama dan masyayikh dunia. Insyaallah berkahnya luar biasa," kata Khofifah.
Gubernur menjelaskan, nilai keberkahan juga menjadi semangat yang terus dibangun Pemerintah Provinsi Jawa Timur melalui visi pembangunan yang tertuang dalam Nawa Bhakti Satya, khususnya Jatim Amanah dan Jatim Berkah.
"Berkah itu tidak mudah. Bagaimana kita hari ini lebih baik dari hari kemarin, dan besok lebih baik dari hari ini. Itu harus terjadi di semua sektor dan seluruh lapisan masyarakat," ungkapnya.
Di hadapan para santri dan alumni Pondok Pesantren Al-Amin, Khofifah mengingatkan bahwa perjalanan menuju kesuksesan membutuhkan proses panjang, kesabaran, serta pengabdian yang berkesinambungan.
Ia juga membagikan pengalamannya meniti karier dari anggota DPR, menjadi menteri termuda di kabinet, hingga dipercaya memimpin Provinsi Jawa Timur.
"Apa yang saya lalui bukan sesuatu yang mudah, karena saya bukan anak jenderal, bukan anak guru besar, bukan anak kiai besar. Semua membutuhkan proses panjang dan penguatan yang saya peroleh dari lingkungan pesantren," tuturnya.
Khofifah berharap para santri tidak melupakan nilai-nilai yang telah diajarkan selama mondok, meskipun nantinya melanjutkan pendidikan maupun bekerja di berbagai bidang.
"Di mana pun nanti melanjutkan pendidikan atau bekerja, iringi kerja-kerja produktif dengan riyadhah untuk mencari keberkahan," pesannya.
Sementara itu, Plt Asisten Administrasi Umum Sekdaprov Jawa Timur sekaligus Ketua Dewan Pengasuh Pondok Pesantren Al-Amin, Akhmad Jazuli, mengatakan pesantren yang berdiri sejak tahun 2000 tersebut dibangun untuk mencetak generasi yang tidak hanya berilmu, tetapi juga memiliki akhlak mulia, sikap tawadhu, dan karakter kuat.
Ia berpesan kepada para santri yang diwisuda agar tetap menjaga identitas sebagai santri dan mengamalkan ilmu yang telah diperoleh.
"Santri yang dilepas hari ini harus tetap menjaga jati dirinya sebagai santri. Akhlakul karimah, ilmu yang diamalkan, dan amal yang ilmiah harus terus dipegang," ujarnya.
Selain pendidikan keagamaan, Pondok Pesantren Al-Amin juga membekali santri dengan berbagai keterampilan, mulai dari program vokasi hingga hidroponik, sehingga para lulusan memiliki bekal ilmu, karakter, dan kemampuan hidup ketika kembali ke tengah masyarakat.(*)
.png)