KETIK, LEBAK – Ketua Tim Penggerak PKK Provinsi Banten Tinawati Andra Soni menyerahkan bantuan peralatan usaha bagi lulusan Panti Sosial Rehabilitasi Tuna Sosial Provinsi Banten di Rangkasbitung, Kabupaten Lebak, Sabtu 31 Oktober 2026.
Bantuan yang diserahkan secara simbolis itu berupa mesin jahit, perlengkapan bengkel, perangkat perkakas montir, dan kompresor. Bantuan tersebut diharapkan menjadi modal awal bagi peserta setelah menyelesaikan pembinaan selama enam bulan.
Penyerahan bantuan dilakukan di sela penutupan Pelatihan Keterampilan Montir Motor dan Menjahit di UPTD Panti Sosial Rehabilitasi Tuna Sosial Dinas Sosial Provinsi Banten.
Dalam kunjungan itu, Tinawati juga menyempatkan diri berdialog dengan anak-anak peserta rehabilitasi, orang tua, dan para pengasuh. Ia ingin memastikan pembinaan yang dijalani tidak berhenti pada pelatihan, tetapi benar-benar menjadi bekal untuk hidup mandiri.
Menurut Tinawati, pelatihan keterampilan bukan sekadar memberikan kemampuan teknis, melainkan membuka kesempatan bagi kelompok rentan untuk mengembangkan potensi dan membangun masa depan yang lebih baik.
"Jangan pernah merasa rendah diri dan jangan mudah menyerah. Teruslah belajar, berlatih, dan manfaatkan keterampilan yang telah diperoleh. Jangan berhenti pada selesainya pelatihan, jadikan keterampilan sebagai peluang usaha dan jalan menuju kehidupan yang mandiri," pesan Tinawati.
Ia menilai, peserta yang sebagian masih berusia produktif, bahkan usia sekolah, membutuhkan perhatian dan pendampingan berkelanjutan. Karena itu, ia mendorong Dinas Sosial berkolaborasi dengan organisasi perangkat daerah (OPD) terkait serta pemerintah kabupaten/kota untuk membuka peluang usaha setelah peserta kembali ke masyarakat.
"Pemerintah Provinsi Banten berkomitmen mendorong pelayanan sosial yang tidak hanya memberikan perlindungan, tetapi juga memperkuat pemberdayaan dan kemandirian masyarakat," ujarnya.
Sementara itu, Kepala Dinas Sosial Provinsi Banten Lukman menjelaskan, program rehabilitasi sosial dasar Tahun Anggaran 2026 diikuti 80 peserta. Sebanyak 40 orang mengikuti pelatihan montir motor dari kelompok penyandang masalah kesejahteraan sosial (PMKS), dan 40 lainnya mengikuti pelatihan menjahit dari kelompok disabilitas, termasuk tuna rungu, tuna daksa, dan tuna grahita.
Selama enam bulan, seluruh peserta tinggal di asrama dan mendapatkan pembinaan keterampilan atau _hard skill_, serta penguatan mental dan spiritual atau _soft skill_ melalui pendampingan instruktur, pembimbing, dan tenaga psikologi.
Lukman menambahkan, selain pelatihan, peserta juga didorong melakukan aktivitas produktif seperti menanam sayuran dan budidaya ikan. Hasil produksi peserta disabilitas bahkan mulai dipasarkan setiap dua minggu sekali di kawasan Alun-Alun Rangkasbitung.
Ia berharap bantuan mesin jahit hingga kompresor tersebut dapat dimanfaatkan secara optimal untuk merintis usaha dan memperoleh penghasilan secara mandiri. (*)
