KETIK, LEBAK – Kota Rangkasbitung, Kabupaten Lebak, Banten, tidak hanya dikenal sebagai pusat pemerintahan dan perdagangan. Di balik perkembangan kota tersebut, tersimpan jejak sejarah industri yang memiliki keterkaitan erat dengan perjalanan ekonomi, transportasi, hingga perjuangan mempertahankan kemerdekaan Indonesia.
Salah satu peninggalan penting itu adalah eks pabrik minyak kelapa N.V. Maatschappij tot Exploitatie van Olie-fabriek, yang lebih dikenal dengan nama Mexolie. Pabrik yang berdiri pada masa Hindia Belanda sekitar 1918 tersebut pernah menjadi salah satu pusat pengolahan minyak kelapa penting di wilayah Banten dan disebut-sebut sebagai salah satu yang terbesar di Asia Tenggara pada masanya.
Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Lebak, M. Yosep Holis, mengatakan keberadaan eks pabrik tersebut merupakan bagian penting dari sejarah perkembangan Rangkasbitung yang patut diketahui dan diwariskan kepada generasi muda.
“Rangkasbitung bukan hanya memiliki sejarah sebagai ibu kota Kabupaten Lebak, tetapi juga mempunyai jejak sejarah industri yang sangat penting. Eks pabrik minyak Mexolie menjadi salah satu bukti bahwa sejak dahulu Rangkasbitung sudah memiliki aktivitas industri dan perdagangan yang terhubung dengan wilayah lain,” ujar M. Yosep Holis kepada wartawan, Selasa 11 Agustus 2026.
Menurut Yosep, keberadaan pabrik minyak kelapa tersebut tidak dapat dipisahkan dari perkembangan jalur transportasi kereta api di Rangkasbitung. Aktivitas industri pada masa itu turut mendorong pergerakan barang dan manusia sehingga kawasan sekitar stasiun berkembang menjadi bagian penting dari denyut perekonomian masyarakat.
“Industri pada masa itu tentu membutuhkan sarana transportasi untuk mengangkut bahan baku maupun hasil produksi. Karena itu, perkembangan pabrik dan perkeretaapian memiliki keterkaitan yang sangat kuat dalam membentuk pertumbuhan Kota Rangkasbitung,” katanya.
Sejumlah catatan sejarah menyebutkan pabrik tersebut memiliki keterhubungan dengan Stasiun Rangkasbitung melalui jalur khusus yang digunakan untuk mengangkut bahan baku dan mendistribusikan hasil produksi minyak kelapa. Kondisi itu memperlihatkan bagaimana industri, perdagangan dan transportasi tumbuh secara beriringan di Rangkasbitung.
Tidak berhenti pada sektor industri, bangunan pabrik tersebut juga memiliki cerita dalam perjalanan perjuangan kemerdekaan. Pada masa mempertahankan kemerdekaan, kawasan pabrik minyak Mexolie pernah dimanfaatkan untuk kegiatan pembuatan senjata bagi kebutuhan para pejuang di Banten.
Yosep menilai fakta tersebut membuat eks pabrik Mexolie memiliki nilai sejarah yang semakin kuat.
“Yang menarik, tempat ini bukan hanya berbicara mengenai sejarah industri, tetapi juga memiliki keterkaitan dengan sejarah perjuangan mempertahankan kemerdekaan. Artinya, ada nilai sejarah yang sangat besar di kawasan tersebut, dan ini menjadi bagian dari identitas sejarah masyarakat Lebak,” ucapnya.
Ia menambahkan, perjalanan panjang kawasan industri tersebut juga ikut membentuk perkembangan permukiman dan aktivitas ekonomi masyarakat di sekitar Rangkasbitung. Kehadiran jalur kereta api dan aktivitas perdagangan membuat kawasan tersebut semakin ramai dan berkembang.
“Sejarah sebuah kota tidak berdiri sendiri. Ada industri, ada transportasi, ada perdagangan dan ada masyarakat yang tumbuh di dalamnya. Semua itu menjadi rangkaian yang membentuk Rangkasbitung seperti yang kita kenal sekarang,” ujar Yosep.
Menurut dia, peninggalan sejarah seperti eks pabrik Mexolie perlu dipandang bukan sekadar sebagai bangunan tua, melainkan sebagai sumber pengetahuan yang dapat memberikan gambaran mengenai perjalanan Kabupaten Lebak dari masa ke masa.
“Kami ingin sejarah seperti ini terus dikenal masyarakat, khususnya generasi muda. Jangan sampai perkembangan zaman membuat kita melupakan tempat-tempat yang menjadi saksi perjalanan daerah. Sejarah harus menjadi pengetahuan sekaligus kebanggaan bersama,” katanya.
Sejumlah bagian bangunan eks pabrik minyak Mexolie hingga kini masih dapat ditemukan di kawasan Rangkasbitung. Dokumentasi sejarah juga menunjukkan kondisi bangunan yang tersisa pernah mengalami kerusakan dan kurang terawat.
Yosep berharap keberadaan jejak sejarah industri tersebut dapat terus diperhatikan dan dikaji sehingga memiliki nilai edukasi, kebudayaan, sekaligus potensi untuk memperkuat daya tarik wisata sejarah di Kabupaten Lebak.
“Kita harus melihat warisan sejarah sebagai aset kebudayaan. Kalau dikelola dengan baik, bukan hanya menjadi tempat untuk mengenang masa lalu, tetapi juga bisa menjadi ruang edukasi bagi masyarakat dan generasi muda serta memperkuat wisata sejarah di Kabupaten Lebak,” tuturnya.
Ia menegaskan, perjalanan sejarah Rangkasbitung merupakan bagian tidak terpisahkan dari perjalanan Kabupaten Lebak dan Banten secara keseluruhan.
“Rangkasbitung memiliki perjalanan sejarah yang panjang, mulai dari perkembangan industri, perkeretaapian, perdagangan hingga perjuangan kemerdekaan. Semua itu merupakan kekayaan sejarah yang harus kita jaga, kita pelajari dan kita wariskan kepada generasi berikutnya,” pungkas M. Yosep Holis.(*)
