KETIK, BATU – Penguatan Desa Tangguh Bencana (Destana) menjadi salah satu langkah yang didorong untuk meningkatkan kesiapsiagaan menghadapi ancaman bencana hidrometeorologi di Kota Batu.
Upaya tersebut dilakukan melalui pemetaan wilayah rawan hingga tingkat desa dan kelurahan, sekaligus mengoptimalkan peran masyarakat dalam mengantisipasi serta meminimalkan risiko bencana.
Kapolres Batu, AKBP Panji Gedhe Prabawa, menekankan pentingnya mengaktifkan kembali Destana sebagai bagian dari upaya memperkuat kesiapan menghadapi potensi bencana.
Hal itu disampaikannya saat Apel Gelar Pasukan Kesiapsiagaan Penanggulangan Bencana Hidrometeorologi Tahun 2026 di Lapangan Rest Area Jalibar, Desa Oro-Oro Ombo, Kecamatan Batu, Kota Batu, pada Rabu, 4 November 2026.
Menurutnya, terdapat lima langkah penting yang perlu menjadi pedoman seluruh pemangku kepentingan dalam menghadapi potensi bencana.
Pertama, melakukan pemetaan ulang secara akurat terhadap kawasan rawan banjir, tanah longsor, serta pohon tumbang hingga tingkat desa dan kelurahan.
Kedua, memperkuat mitigasi melalui tindakan pencegahan sedini mungkin untuk melindungi keselamatan masyarakat maupun infrastruktur vital.
Ketiga, memastikan kesiapan personel dan seluruh sarana prasarana agar dapat digunakan sewaktu-waktu ketika terjadi keadaan darurat.
Selanjutnya, menyiapkan sekaligus menyosialisasikan jalur evakuasi yang aman beserta lokasi penampungan pengungsi yang layak dan terkoordinasi.
Langkah kelima adalah memperkuat sinergi lintas sektor melalui penyusunan standar operasional prosedur (SOP) yang mengatur pembagian tugas serta rantai komando agar penanganan bencana berjalan responsif.
AKBP Panji menjelaskan, urgensi penguatan kesiapsiagaan tersebut juga didasarkan pada peningkatan jumlah kejadian bencana di wilayah hukum Polres Batu.
Sepanjang 2025, tercatat sebanyak 73 kejadian yang terdiri dari 52 tanah longsor, sembilan banjir, serta 12 kejadian angin kencang dan pohon tumbang.
Sementara itu, sepanjang 2026 jumlah kejadian meningkat menjadi 122 kasus. Rinciannya meliputi 20 kejadian kebakaran hutan dan lahan (karhutla), 52 tanah longsor, 11 banjir, serta 39 kejadian angin kencang atau puting beliung.
“Data peningkatan kejadian bencana yang kita miliki menegaskan bahwa ancaman bencana bukan hanya soal jumlah, tetapi soal kesiapan sistem, sinergi antarinstansi, dan partisipasi aktif masyarakat,” ujarnya AKBP Panji.
Ia menilai, peningkatan kejadian tersebut harus diimbangi dengan kesiapan seluruh unsur yang terlibat dalam penanggulangan bencana. Tidak hanya kesiapan personel dan peralatan, tetapi juga kesamaan pemahaman serta kecepatan dalam mengambil tindakan ketika situasi darurat terjadi.
“Saya berharap melalui apel kesiapsiagaan ini, kita semua tidak hanya siap secara fisik dan peralatan, tetapi juga memiliki kesamaan persepsi, kecepatan bertindak, serta kepedulian yang tinggi. Mari kita niatkan tugas kemanusiaan ini sebagai pengabdian terbaik bagi masyarakat Kota Batu,” pungkasnya.
Terpisah, Kepala Pelaksana BPBD Kota Batu, Suwoko, menyampaikan bahwa keberadaan Destana sebenarnya telah tersedia di seluruh desa.
Namun, penguatan kembali tetap diperlukan, terutama melalui penyegaran pengetahuan dan peningkatan pemahaman masyarakat mengenai potensi bencana di lingkungannya.
“Sebenarnya di kita semua desa tanggap bencana itu semua sudah ada. Kita tinggal penyegaran lagi di potensi-potensi,” ungkap Suwoko.
Ia menyebut, keterlibatan masyarakat dalam kegiatan kebencanaan di Kota Batu selama ini menunjukkan antusiasme yang tinggi. Hal tersebut terlihat dari partisipasi relawan, Destana, hingga Forum Pengurangan Risiko Bencana (FPRB) dalam berbagai kegiatan penanganan kejadian di lapangan.
Menurutnya, partisipasi warga menjadi salah satu kekuatan dalam penanganan bencana. Dalam berbagai kejadian, petugas tidak bekerja sendiri karena masyarakat turut hadir dan terlibat membantu proses penanganan.
Bahkan, kepedulian tersebut tidak hanya terbatas pada wilayah tempat tinggal masing-masing. Ketika masyarakat di lingkungan lain membutuhkan bantuan, warga juga bersedia hadir untuk memberikan dukungan.
“Terbukti apa, begitu ada insiden apapun kita enggak turun sendiri. Masyarakat kita banyak, itu terlibat tidak hanya dari Forkopimda, masyarakat kita banyak sekali,” jelasnya.
Suwoko berharap semangat gotong royong tersebut terus dipertahankan dan diperkuat melalui upaya mitigasi bersama. Sebab, penanggulangan bencana tidak hanya berkaitan dengan respons ketika kejadian berlangsung, tetapi juga menyangkut kepedulian dalam menjaga keseimbangan alam dan lingkungan.
“Tetangga kita membutuhkan kita, kita hadir di sana. Karena ini musibah, juga bencana alam, kita harus mitigasi, menjaga bagaimana keseimbangan alam itu benar-benar terjaga,” pungkasnya.(*)
