BPS Sumsel Rilis 5 Indikator Strategis: Inflasi 0,21 Persen, Ekspor Naik 15,67 Persen, Wisman Naik 128,66 Persen

1 Oktober 2026 16:39 1 Okt 2026 16:39

Septi Nurhidayati, Fisca Tanjung

Redaksi Ketik.com
Thumbnail BPS Sumsel Rilis 5 Indikator Strategis: Inflasi 0,21 Persen, Ekspor Naik 15,67 Persen, Wisman Naik 128,66 Persen

Suasana rilis inflasi di kantor BPS Prop Sumsel 1 Oktober 2026. (Foto: Septi N/Ketik.com)

KETIK, PALEMBANG – Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Sumatera Selatan merilis 5 indikator strategis dalam Berita Resmi Statistik (BRS) pada Rabu, 1 Oktober 2026. Lima indikator tersebut meliputi perkembangan Inflasi, Nilai Tukar Petani (NTP), Ekspor-Impor, Pariwisata, dan Transportasi.

Kepala BPS Provinsi Sumatera Selatan, Moh Wahyu Yulianto, menyampaikan data yang dirilis hari ini merupakan data terkini untuk periode September 2026 dan Agustus 2026.

Untuk perkembangan Indeks Harga Konsumen (IHK), Sumatera Selatan pada September 2026 mengalami inflasi sebesar 0,21 persen secara bulanan (m-to-m), inflasi tahun kalender 1,90 persen, dan inflasi tahunan (y-on-y) sebesar 2,55 persen. Inflasi y-on-y tertinggi terjadi di Kabupaten Muara Enim sebesar 3,16 persen dan terendah di Kota Palembang sebesar 2,40 persen.

Inflasi September 2026 terjadi karena kenaikan harga pada 104 komoditas, didominasi kelompok makanan, minuman dan tembakau. Lima komoditas utama penyumbang inflasi terbesar adalah beras, cabai merah, cabai rawit, telur ayam ras, dan pisang. 

"Kenaikan dipicu oleh kenaikan harga BBM Non Subsidi per 2 September 2026, kenaikan harga gabah di tingkat produsen, harga emas fluktuatif di kisaran Rp2,58 - 2,67 juta, serta kenaikan biaya pakan ternak," kata Moh Wahyu Yulianto di Kantor BPS Sumsel dan daring melalui kanal YouTube BPS Provinsi Sumatera Selatan. 

Upaya pengendalian inflasi telah dilakukan Pemprov Sumsel melalui Operasi Pasar Khusus Beras 2 ton per titik pada 30 Agustus - 5 September 2026 dan Gerakan Pangan Murah bersama Badan Pangan Nasional di Lapangan TVRI Sumsel pada 2 September 2026, serta operasi pasar murah di Sekayu, Musi Banyuasin.

Moh Wahyu juga mengungkapkan, pada sektor pertanian, Nilai Tukar Petani (NTP) September 2026 tercatat sebesar 156,67 atau naik 4,09 persen dibanding Agustus 2026. Kenaikan NTP terjadi karena Indeks Harga yang Diterima Petani (It) naik 4,42 persen menjadi 207,33, sementara Indeks Harga yang Dibayar Petani (Ib) hanya naik 0,32 persen menjadi 132,33. 

"Kenaikan tertinggi terjadi pada subsektor Tanaman Perkebunan Rakyat (NTPR) sebesar 4,99 persen menjadi 178,44, yang ditopang komoditas karet, sawit, dan gabah," jelasnya

Lanjut Moh Wahyu, untuk perdagangan internasional, nilai ekspor Sumatera Selatan pada Agustus 2026 mencapai US$ 636,62 juta, naik 15,67 persen secara y-on-y dibanding Agustus 2025. Kenaikan didorong oleh ekspor migas yang melonjak 243,20 persen menjadi US$ 107,64 juta dan nonmigas naik 1,92 persen. Namun secara kumulatif Januari-Agustus 2026, total ekspor masih turun 6,29 persen menjadi US$ 3.983,03 uta.

Sementara, impor Agustus 2026 tercatat US$ 96,88 Juta naik 7,16 persen y-on-y. Secara kumulatif Januari-Agustus 2026, impor mencapai US$ 842,11 Juta naik 20,15 persen dibanding periode yang sama tahun lalu.

Kenaikan terbesar terjadi pada barang konsumsi 36,91 persen dan bahan baku penolong 33,32 persen, dengan komoditas utama mesin dan peralatan mekanis share 53,27 persen, pupuk 13,88 persen, dan kayu 9,42 persen.

Di sektor pariwisata, jumlah kunjungan wisatawan mancanegara (wisman) ke Sumatera Selatan pada Agustus 2026 sebanyak 2.154 kunjungan, naik signifikan 128,66 persen dibanding Juli 2026 yang hanya 942 kunjungan dan naik 89,28 persen dibanding Agustus 2025. 

"Kunjungan didominasi kebangsaan Amerika Serikat 44,29 persen, Malaysia 26,88 persen, Tiongkok 8,36 persen, dan Singapura 4,50 persen," paparnya

Perjalanan wisatawan nusantara (wisnus) ke Sumsel pada Agustus 2026 tercatat 2,14 juta perjalanan, turun 3,07 persen (m-to-m) namun naik 1,89 persen (y-on-y). Sebesar 77,17 persen merupakan perjalanan di dalam provinsi (intra) dan 22,83 persen antar provinsi (inter). 

Provinsi asal terbanyak adalah Lampung 31,73 persen, Jambi 14,43 persen, dan Bengkulu 10,83 persen. TPK Hotel Bintang tercatat 50,57 persen turun 1,40 poin m-to-m namun naik 4,40 poin y-on-y, dengan TPK tertinggi pada hotel bintang 5 sebesar 60,15 persen.

Sedangkan, pada sektor transportasi, jumlah penumpang angkutan udara Agustus 2026 sebanyak 229.935 orang turun 1,74 persen m-to-m, angkutan laut 16.171 orang naik 19,17 persen m-to-m dan naik 872,40 persen y-on-y, kereta api 97.614 orang turun 2,51 persen m-to-m namun naik 12,36 persen y-on-y, dan LRT Sumsel 361.406 orang turun 9,21 persen m-to-m.

Untuk angkutan barang laut, muat barang 155,6 ribu ton turun 31,32 persen m-to-m, sementara bongkar barang 145,2 ribu ton naik 23,57 persen y-on-y.(*)

Tombol Google News

Tags:

Rilis Beritainflaai Provinsi Sumatera Selatan Inflasi Sumatera Selatan Kepala Bps Provinsi Sumatera Selatan Moh Wahyu Yulianto Indeks Harga Konsumen