KETIK, MALANG – Akhir-akhir ini lagu-lagu berbahasa Arab kembali marak di media sosial. Sayangnya, tak sedikit yang menganggap lagu-lagu tersebut sebagai shalawat, padahal isinya jauh dari pujian kepada Allah maupun Nabi Muhammad SAW.
Ada beberapa faktor yang memicu kesalahpahaman ini.
Pertama, kurangnya pemahaman orang-orang mengenai bahasa Arab sehingga mereka tak benar-benar tahu apa arti lirik yang didengarkan.
Kedua, lagunya dibawakan oleh grup atau orang yang berhijab/bernuansa islami. Ketiga, tak sedikit netizen yang memberi hashtag #shalawat pada unggahannya tanpa mengecek dulu makna liriknya.
Bagaimana cara membedakannya?
Sebenarnya cukup mudah untuk membedakannya, kita bisa melihat makna atau arti dari lagu-lagu tersebut. Shalawat berisi doa/pujian untuk Allah serta Nabi SAW. Sedangkan lagu Arab pop menceritakan tema yang jauh lebih luas, mulai dari cinta, kecantikan, rindu, patah hati, dan lain-lain.
Berikut 5 lagu Arab yang sering dikira shalawat:
- Qaddukal Mayyas: dipopulerkan Sabah Fakhri, sering dibawakan dengan nuansa religius di acara-acara islami, padahal liriknya menggambarkan pinggang ramping seorang wanita, bukan pujian untuk Nabi.
- Ala Bali: lagu yang dibawakan Shiren Abdel Wahab ini bercerita tentang cinta dalam diam. Lagu ini sering diputar di acara keagamaan meski tidak mengandung unsur religius.
- Qusad Einy (Qusad Ainy): Liriknya sebenarnya bercerita tentang cinta jarak jauh (LDR), namun sering dibawakan pakai hadrah sehingga dikira sholawat atau lagu religi.
- Ghannili: yang dipopulerkan oleh diva legendaris Arab, Umm Kulthum ini menceritakan tentang keindahan alam dan kekuatan musik sebagai terapi
- Inta Eyh: lagu populer milik penyanyi Lebanon, Nancy Ajram, yang rilis pada 2004 ini menceritakan tentang seseorang yang mempertanyakan kekasihnya ("Apa maumu?") karena terus-menerus disakiti, namun tetap mencintainya.
Sebelum menjadikan lagu-lagu Arab tersebut sebagai backsound, khususnya untuk acara-acara islami, sebaiknya cek dulu lirik beserta terjemahannya. (*)
