KETIK, JAKARTA – Alif Hijriah membeber prediksinya ihwal kandidat juara Piala Dunia 2026. Bukan berdasarkan intuisi atau dukungan fanatik, prediksi ini disusun menggunakan pendekatan statistik dan simulasi matematis terhadap ribuan data pertandingan internasional.
Melalui video yang diunggah di akun Instagram @aliftowew, matematikawan lulusan Instituy Teknologi Bandung (ITB) ini menjelaskan bagaimana model probabilitas digunakan untuk memperkirakan perjalanan setiap tim hingga fase final.
Metode utama yang digunakan adalah distribusi Poisson, sebuah model statistik yang umum dipakai untuk memperkirakan jumlah kejadian diskrit dalam rentang waktu tertentu. Dalam konteks sepak bola, distribusi ini digunakan untuk memperkirakan jumlah gol yang dicetak masing-masing tim selama 90 menit pertandingan.
“Gol merupakan angka diskrit, sehingga distribusi Poisson cocok digunakan untuk memodelkan peluang terjadinya gol dalam pertandingan sepak bola,” jelasnya dalam video tersebut.
Dalam model tersebut, setiap tim memiliki parameter kekuatan yang direpresentasikan melalui nilai ekspektasi gol atau lambda. Nilai ini dipengaruhi oleh beberapa faktor, antara lain kemampuan menyerang tim, kekuatan bertahan lawan, serta keuntungan bermain di kandang.
Untuk menjaga nilai prediksi tetap realistis, perhitungan menggunakan fungsi eksponensial sehingga hasil ekspektasi gol selalu bernilai positif.
Namun model tidak berhenti pada asumsi dasar bahwa gol kedua tim saling independen. Alif menjelaskan adanya koreksi terhadap kondisi skor tertentu, seperti 0–0, 1–0, 0–1, dan 1–1.
Koreksi ini dibuat karena dalam situasi pertandingan nyata, perilaku tim dapat berubah. Tim yang unggul tipis di akhir laga cenderung bermain lebih defensif, sehingga distribusi peluang gol tidak sepenuhnya independen.
Dalam penyusunan model, digunakan data pertandingan internasional dari rentang 2021 hingga 2026 dengan total 5.359 pertandingan. Data tersebut mencakup skor akhir dan informasi mengenai tim tuan rumah.
Agar performa terbaru lebih berpengaruh dibanding pertandingan lama, model menerapkan sistem pembobotan waktu (time decay weighting). Konsep ini bekerja menyerupai peluruhan radioaktif, di mana data yang lebih baru mendapat bobot lebih besar dalam proses estimasi parameter.
Parameter-parameter model kemudian diestimasi menggunakan metode maximum likelihood yang diubah ke bentuk logaritmik untuk mempermudah optimasi.
Setelah parameter diperoleh, langkah berikutnya adalah menjalankan simulasi Monte Carlo sebanyak 20 ribu kali. Simulasi ini digunakan untuk menghasilkan berbagai kemungkinan hasil pertandingan dan melihat tim mana yang paling sering muncul sebagai pemenang turnamen.
Hasil simulasi menunjukkan tim-tim yang diproyeksikan lolos dari fase grup hingga babak gugur. Dalam skenario yang paling sering muncul, partai final mempertemukan Spanyol melawan Argentina.
Dari ribuan simulasi tersebut, Argentina muncul sebagai tim dengan peluang tertinggi untuk mengangkat trofi dan diprediksi menjadi juara Piala Dunia 2026.
Meski demikian, Alif menegaskan bahwa prediksi berbasis statistik tetap merupakan gambaran probabilitas, bukan kepastian hasil. Dalam sepak bola, faktor tak terduga seperti cedera, strategi pertandingan, hingga dinamika turnamen tetap dapat mengubah hasil di lapangan.
"Apakah ini pasti akurat? Tentu tidak," tegas Alif.
"Matematika menghitung probabilitas terbaik, bukan meramal masa depan. Berdasarkan backtest, tetap ada ruang kurang lebih 60 persen untuk factor yang tak bisa dimodelkan algoritma. Sisanya adalah keindahan sepak bola," ia menandaskan.
.png)