Halloween, dari Festival Kuno Samhain hingga Jadi Fenomena Budaya Populer

3 November 2026 01:00 3 Nov 2026 01:00

Devi Permatasari, Fisca Tanjung

Redaksi Ketik.com
Thumbnail Halloween,  dari Festival Kuno Samhain hingga Jadi Fenomena Budaya Populer

Happy Halloween 2026 (Foto : Edit oleh Devi Permatasari)

KETIK, JAKARTA – Halloween merupakan perayaan yang identik dengan dekorasi labu berwajah menyeramkan atau dikenal sebagai Jack-O'-Lantern, kostum unik, hingga tradisi Trick or Treat yang dilakukan dengan mengunjungi rumah-rumah untuk meminta permen.

Perayaan yang identik dengan nuansa horor ini ternyata memiliki sejarah panjang yang berakar dari tradisi masyarakat kuno di Eropa.

Untuk mengenal lebih jauh asal-usulnya, sejarah Halloween dapat ditelusuri hingga sekitar 2.000 tahun lalu. Pada masa itu, masyarakat Celtic yang mendiami wilayah yang kini dikenal sebagai Irlandia, Inggris, dan Prancis Utara memiliki festival kuno bernama Samhain.

Festival Samhain dirayakan setiap 31 Oktober sebagai penanda berakhirnya musim panas dan masa panen sekaligus menyambut datangnya musim dingin. Masyarakat Celtic meyakini bahwa pada malam tersebut, batas antara dunia orang hidup dan dunia roh menjadi sangat tipis. Kondisi ini dipercaya memungkinkan roh-roh, baik maupun jahat, untuk kembali berkeliaran di bumi.

Kepercayaan tersebut kemudian melahirkan sejumlah tradisi untuk melindungi diri dari roh jahat. Masyarakat Celtic menyalakan api unggun besar (bonfires) dan mengenakan kostum yang terbuat dari kulit maupun kepala binatang.

Mereka meyakini penyamaran tersebut dapat membuat roh-roh tidak mengenali keberadaan manusia. Selain itu, makanan juga diletakkan di luar rumah sebagai persembahan untuk menenangkan roh-roh yang berkeliaran.

Seiring berjalannya waktu, tradisi Samhain mulai mengalami perubahan akibat percampuran budaya. Ketika Kekaisaran Romawi menguasai wilayah Celtic, sejumlah tradisi Romawi turut memengaruhi perayaan tersebut, di antaranya Feralia, sebuah festival untuk mengenang orang yang telah meninggal, serta festival Pomona yang berkaitan dengan dewi buah dan kelimpahan.

Perkembangan berikutnya terjadi pada abad ke-8, ketika Paus Gregorius III menetapkan 1 November sebagai All Saints' Day atau Hari Semua Orang Kudus. Perayaan tersebut bertepatan dengan periode Samhain dan turut memengaruhi tradisi yang berkembang di masyarakat. Malam sebelum perayaan tersebut, yakni 31 Oktober, kemudian dikenal sebagai All Hallows' Eve, yang seiring waktu disingkat menjadi Halloween.

Dari Tradisi Kuno Menjadi Perayaan Populer

Halloween kemudian mengalami perkembangan, terutama ketika tradisinya dibawa oleh para imigran Irlandia dan Skotlandia ke Amerika Serikat. Di wilayah tersebut, berbagai kebiasaan mulai berkembang menjadi bentuk perayaan yang lebih modern.

Tradisi Trick or Treat, misalnya, memiliki keterkaitan dengan praktik souling, yaitu kebiasaan masyarakat miskin meminta makanan sebagai imbalan atas doa bagi orang yang telah meninggal, serta guising, ketika anak-anak mengenakan kostum dan berkeliling untuk mendapatkan makanan atau hadiah.

Sementara itu, tradisi mengukir labu menjadi Jack-O'-Lantern berakar dari cerita rakyat Irlandia tentang sosok bernama Stingy Jack yang berhasil mengelabui Iblis. Kisah tersebut kemudian berkembang menjadi simbol khas Halloween yang dikenal hingga saat ini.

Memasuki awal abad ke-20, Halloween semakin berkembang menjadi perayaan yang bersifat sekuler dan berorientasi pada hiburan masyarakat. Pesta kostum, parade, hingga berbagai permainan mulai menjadi bagian utama perayaan.

Perkembangan industri perfilman Hollywood dan media massa turut memperkuat citra Halloween melalui gambaran rumah berhantu, penyihir, kelelawar, serta berbagai ornamen menyeramkan.

Halloween dan Pengaruh Budaya Global di Indonesia

Popularitas Halloween kemudian menyebar ke berbagai negara, termasuk Indonesia. Masuknya perayaan ini tidak terlepas dari arus globalisasi dan pertukaran budaya yang semakin intens di era modern.

Media massa, industri hiburan, pemasaran dan bisnis, internet, serta media sosial menjadi sejumlah faktor yang memperkenalkan Halloween kepada masyarakat Indonesia. Selain itu, keberadaan komunitas ekspatriat dan internasional juga turut memperkenalkan tradisi tersebut melalui berbagai kegiatan perayaan.

Pada awalnya, Halloween lebih banyak dirayakan dalam lingkungan terbatas, seperti komunitas internasional, pusat hiburan, maupun acara tertentu. Namun, seiring berkembangnya budaya populer dan media sosial, perayaan ini mulai dikenal oleh masyarakat yang lebih luas dengan berbagai bentuk kegiatan, mulai dari pesta kostum hingga dekorasi bertema Halloween.

Meski demikian, kehadiran Halloween di Indonesia memunculkan beragam respons. Sebagian masyarakat memandangnya sebagai bentuk hiburan dan kesempatan untuk mengekspresikan kreativitas melalui kostum maupun dekorasi.

Di sisi lain, terdapat pula masyarakat yang menganggapnya sebagai budaya asing yang kurang relevan dengan tradisi lokal, bahkan memilih untuk tidak merayakannya karena pertimbangan keyakinan agama.

Perjalanan Halloween dari festival kuno Samhain hingga menjadi fenomena budaya populer menunjukkan bagaimana sebuah tradisi dapat mengalami perubahan seiring perkembangan zaman.

Lebih dari sekadar perayaan dengan kostum dan dekorasi menyeramkan, Halloween menjadi salah satu gambaran bagaimana budaya dapat menyebar, beradaptasi, dan memperoleh makna yang berbeda ketika bertemu dengan masyarakat di berbagai belahan dunia. (*) 

Tombol Google News

Tags:

sejarah Halloween Halloween 2026 Festival Samhain asal usul halloween jack o lantern trick or treat Masyarakat Celtic