KETIK, JAKARTA – Kelompok Houthi mengatakan Arab Saudi melancarkan serangan di sebuah desa dekat ibu kota Yaman, Sanaa. Sebanyak 33 orang tewas.
Dilansir Reuters, Minggu (8/11/2026), kantor berita Saba yang dikelola Houthi, melaporkan setidaknya 33 orang tewas dan 39 lainnya terluka dalam peristiwa itu pada Sabtu (7/11/2026).
Ini menjadi salah satu serangan paling mematikan yang dilaporkan sejak pertempuran antara Arab Saudi dan kelompok yang berafiliasi dengan Iran tersebut kembali pecah pada bulan Juli. Reuters tidak dapat memverifikasi laporan tersebut secara independen.
Pusat Komunikasi Internasional Arab Saudi menyatakan bahwa mereka sedang menyelidiki laporan tersebut. Pertempuran yang kembali berkobar antara Arab Saudi dan kelompok Houthi telah meruntuhkan gencatan senjata tahun 2022 yang ditengahi oleh PBB.
Gencatan senjata tersebut sebelumnya sempat menghentikan sebagian besar serangan antara koalisi pimpinan Arab Saudi dan kelompok Houthi, yang menguasai Sanaa. Sejak saat itu, kelompok Houthi telah melancarkan serangan rudal dan pesawat nirawak (drone) ke bandara serta fasilitas minyak di Arab Saudi, sementara Riyadh membalas dengan serangan udara di Yaman untuk mendukung sekutu-sekutunya di negara tersebut.
Kementerian terkait menyatakan serangan tersebut menghantam rumah-rumah penduduk di kota Bani Hushaysh, sebuah wilayah yang menjadi basis kelompok Houthi di sebelah timur Sanaa. Sebagian besar korban tewas adalah perempuan dan anak-anak.
Abdul-Aziz al-Dailami, direktur Rumah Sakit Sehatuna di Sanaa, mengatakan banyak korban masih terjebak di bawah reruntuhan, termasuk petugas tanggap darurat.
"Serangan terus berlanjut. Saat tim penyelamat tiba, serangan lain kembali menghantam. Kami bahkan kehilangan beberapa petugas medis kami sendiri yang gugur," ujarnya.
"Kami menerima sejumlah korban luka dalam kondisi yang sangat kritis, dengan cedera di bagian kepala, dada, dan kaki, serta berbagai patah tulang," tambah al-Dailami.
Konflik ini-yang merupakan dampak dari perseteruan yang lebih luas antara Amerika Serikat dan Iran-telah menghidupkan kembali perang kompleks yang telah berlangsung selama 12 tahun di Yaman. Perang tersebut telah memicu salah satu krisis kemanusiaan terburuk di dunia dan memecah belah negara termiskin di dunia Arab itu. (*)
