KETIK, JAKARTA – Pemerintah Amerika Serikat (AS) dan Arab Saudi resmi mencapai kesepakatan kerja sama nuklir sipil sebagai langkah memperkuat hubungan strategis kedua negara.
Dilansir dari Aljazeera pada Kamis, 23 Juli 2026 dijelaskan, departemen Energi AS menyebut perjanjian itu sebagai kesepakatan bersejarah yang akan menjadi kemitraan jangka panjang bernilai miliaran dolar antara Washington dan Riyadh.
Kesepakatan tersebut mencakup perjanjian berdasarkan Pasal 123 Undang-Undang Energi Atom AS Tahun 1954 atau dikenal sebagai 123 Agreement, serta perjanjian perlindungan bilateral terkait pengawasan penggunaan teknologi nuklir.
Menteri Energi AS Chris Wright mengatakan kerja sama tersebut mencerminkan komitmen kedua negara dalam memperkuat hubungan ekonomi dan keamanan.
“Kesepakatan ini mencerminkan komitmen bersama untuk memperkuat hubungan komersial AS-Saudi, menghadirkan kemakmuran di dalam negeri serta keamanan bagi para sekutu kami,” kata Wright.
Ia menegaskan kerja sama tersebut tetap mengedepankan standar keselamatan nuklir dan prinsip nonproliferasi.
“Kesepakatan ini memenuhi standar tertinggi dalam keselamatan nuklir dan nonproliferasi, dengan mengandalkan teknologi serta ilmuwan nuklir terbaik Amerika Serikat,” ujarnya.
Meski demikian, sejumlah laporan media Amerika Serikat menyebut kesepakatan tersebut berpotensi memberikan ruang bagi Arab Saudi untuk melakukan pengayaan uranium secara mandiri di dalam negeri.
Departemen Energi AS belum memberikan penjelasan rinci terkait isu tersebut. Jika Arab Saudi nantinya memperoleh izin untuk melakukan pengayaan uranium domestik, langkah itu diperkirakan akan menuai perdebatan di Kongres AS.
Pemerintah AS menyebut kerja sama ini akan memberikan dampak ekonomi melalui penciptaan lapangan kerja di Amerika, sekaligus memperkuat standar global terkait pencegahan penyebaran teknologi nuklir untuk kepentingan militer.
Kesepakatan tersebut selanjutnya akan diajukan kepada Kongres AS untuk menjalani proses peninjauan. (*)
