KETIK, TULUNGAGUNG – Di tengah hembusan angin dingin musim bediding, pemandangan penuh kesederhanaan tersaji di halaman rumah pribadi seorang pejabat yang sengaja dibuka bebas untuk warga.
Tanpa sekat protokoler kaku, Pelaksana Tugas (Plt) Bupati Tulungagung Ahmad Baharudin tampak duduk lesehan bersama masyarakat, menikmati kehangatan bara api sembari membakar jagung hasil panen lokal pada Jumat 10 Juli 2026 malam.
Sepinta seperti kegatan biasa saja, namun momen ini bukan sekadar cerminan gaya kepemimpinannya yang merakyat dan bersahaja, melainkan menjadi ruang diskusi serius bagi Ahmad Baharudin untuk memetakan masa depan ketahanan pangan di Tulungagung.
Baginya, jagung bukan komoditas remeh, melainkan pilar strategis yang harus digarap dengan sungguh-sungguh demi kesejahteraan warga. Maka jangan kaget, mulai dari wilayah Pagerwojo, Besuki, Pakel, hingga Tanggunggunung dan Pucanglaban, lahan menguning keemasan terhampar luas.
Meski Musim bediding, istilah masyarakat Jawa menggambarkan suhu dingin ekstrem, kali ini bertepatan dengan masa panen raya jagung di Tulungagung. Suhu yang biasanya biasa saja, tapi dalam beberapa hari terakhir ini memang terasa menusuk tulang.
Di sela-sela obrolan santai namun berbobot dengan para petani, aroma jagung bakar menjadi simbol kedekatan pemimpin dengan akar rumputnya.
Dengan gaya bicara lugas, tenang, dan penuh keseriusan, Plt Bupati Ahmad Baharudin memaparkan visinya tentang kemandirian pangan daerah. Ia menekankan bahwa optimalisasi potensi lokal adalah harga mati untuk membawa Tulungagung ke arah yang lebih baik.
"Jagung ini tak hanya makanan alternatif atau pakan ternak. Ini adalah jawaban atas tantangan pangan masa depan. Komoditas ini kaya karbohidrat kompleks, serat, vitamin B kompleks, vitamin A, serta mineral penting seperti kalium dan magnesium. Kita harus serius mengelolanya dari hulu ke hilir," ujar Ahmad Baharudin dengan nada penuh penekanan.
Ahmad Baharudin menambahkan, ketangguhan tanaman jagung terhadap iklim Tulungagung menjadikannya solusi konkret di tengah ketidakpastian cuaca global. Oleh karena itu, lanjut dia, keseriusan pemerintah dalam mendampingi petani dan menyiapkan infrastruktur pertanian yang tepat sasaran menjadi prioritas utamanya saat ini.
"Saya tidak ingin melihat ketahanan pangan hanya sebagai jargon di atas kertas. Ketahanan pangan itu berarti makanan bergizi tersedia melimpah, harganya terjangkau oleh warga miskin dan diproduksi secara mandiri di tanah kita sendiri. Jagung Tulungagung memenuhi semua syarat itu, tinggal bagaimana kita berkomitmen memajukannya," tegasnya.
Melalui pendekatan humanis ini, Ahmad Baharudin tidak hanya ingin membangkitkan kebanggaan warga terhadap hasil bumi sendiri, tetapi juga memacu dinas terkait dan pelaku usaha untuk menelurkan inovasi hilirisasi jagung menjadi produk bernilai ekonomi tinggi.
"Kita harus punya target jelas. Keunggulan jagung Tulungagung tidak boleh jago kandang, tapi harus menjadi komoditas andalan yang diperhitungkan di tingkat Jawa Timur dan nasional," tuturnya optimis.
Malam semakin larut, namun diskusi mengenai masa depan Tulungagung di halaman rumah itu terus bergulir. Lewat perpaduan karakter yang sederhana dalam pembawaan namun sangat visioner dan tegas dalam bekerja,
Ahmad Baharudin menunjukkan bahwa membangun Tulungagung yang lebih baik harus dimulai dengan mendengarkan langsung suara dari bawah dan menyelesaikannya dengan kerja keras yang nyata. (*)
.png)