KETIK, SURABAYA – Nasi goreng masih menjadi salah satu pilihan makanan malam yang banyak diburu anak kos dan pekerja di Surabaya.
Harga yang terjangkau, porsi mengenyangkan, serta mudah ditemukan membuat menu sederhana ini tetap memiliki pelanggan di tengah beragam pilihan kuliner.
Salah satunya terlihat pada gerobak nasi goreng milik Sucipto yang berada di pinggir jalan dekat kawasan perumahan di Surabaya.
Pedagang kaki lima (PKL) tersebut menyediakan sejumlah menu seperti nasi goreng, mi goreng, dan nasi mawut.
Dari sejumlah menu yang ditawarkan, nasi goreng menjadi makanan yang paling banyak dipesan.
Sucipto mengatakan pelanggan umumnya memilih menu tersebut karena rasanya sesuai dengan selera, porsinya cukup banyak, dan harganya masih terjangkau.
“Yang paling banyak dipesan nasi goreng. Mungkin karena rasanya cocok, porsinya juga lumayan dan harganya masih terjangkau,” ujar Sucipto saat ditemui Ketik.com, Senin, 14 September 2026.
Pelanggan yang datang didominasi anak kos dan pekerja yang tinggal maupun beraktivitas di sekitar lokasi.
Warung tersebut menjadi pilihan bagi mereka yang membutuhkan makanan malam setelah menjalani aktivitas sepanjang hari tanpa harus mengeluarkan biaya terlalu besar.
Aktivitas penjualan biasanya mulai ramai setelah Magrib hingga sekitar Isya.
Pada waktu tersebut, masyarakat mulai mencari makanan untuk makan malam.
Jika kondisi sedang ramai, Sucipto dapat menjual sekitar 100 porsi dalam sehari.
Jumlah tersebut menunjukkan bagaimana makanan sederhana seperti nasi goreng masih memiliki pasar yang kuat di kawasan perkotaan.

Bagi anak kos dan pekerja, makanan yang praktis, mengenyangkan, dan ramah di kantong menjadi pertimbangan utama ketika memilih menu makan malam.
Setiap pesanan juga dimasak langsung setelah pelanggan melakukan pemesanan.
Selain membuat makanan tersaji hangat, proses tersebut dilakukan untuk menjaga cita rasa dan kualitas makanan yang diberikan kepada konsumen.
Usaha yang dijalankan Sucipto tersebut tidak dibangun tanpa pengalaman.
Sebelum membuka warung sendiri, ia pernah bekerja di sebuah restoran.
Dari pekerjaan tersebut, ia mendapatkan pengalaman mengenai cara memasak, melayani pelanggan, hingga mengelola usaha kuliner.
Berbekal pengalaman itu, Sucipto kemudian membuka usaha sendiri dengan modal awal sekitar Rp5 juta.
Ia menjalankan usaha secara mandiri dengan mengandalkan cita rasa, kualitas bahan baku, dan pelayanan sebagai modal untuk mempertahankan pelanggan.
Meski tidak selalu ramai, kondisi sepi pembeli tidak membuat Sucipto berhenti berjualan.
Ia memilih mempertahankan kualitas makanan dan pelayanan agar pelanggan lama tetap kembali dan pembeli baru tertarik mencoba.
Kebersihan bahan makanan juga menjadi perhatian dalam menjalankan usaha.
Bahan baku dijaga agar tetap dalam kondisi baik, sementara makanan baru dimasak ketika ada pesanan.
Persaingan dengan warung nasi goreng lain juga menjadi tantangan.
Untuk mempertahankan pelanggan, Sucipto berusaha memberikan pelayanan yang ramah dan cepat selain menjaga rasa makanan.
Lokasi strategis turut menjadi faktor pendukung.
Warung yang berada di pinggir jalan dan dekat dengan kawasan perumahan serta tempat tinggal anak kos membuat pelanggan lebih mudah mengaksesnya.
Bagi Sucipto, tingginya permintaan pada waktu tertentu menjadi peluang untuk mempertahankan usaha kuliner tersebut.
Sementara bagi pelanggan, nasi goreng tetap menjadi pilihan praktis untuk mengisi perut setelah bekerja, kuliah, maupun beraktivitas hingga malam.(*)
