KETIK, SURABAYA – Lagu “Sesi Potret” dari enau dan Ari Lesmana membawa cerita tentang seorang anak yang terlalu lama menunda pulang hingga akhirnya harus menghadapi kehilangan orang yang dicintainya. Lagu yang dirilis pada 30 Januari 2026 ini menggambarkan perantauan, perjuangan ekonomi, kerinduan, hingga penyesalan yang datang ketika semuanya sudah terlambat.
Cerita dalam lagu dimulai dari sosok yang belum bisa pulang karena kondisi ekonominya. Hal tersebut tergambar melalui lirik, “Maaf tak bisa pulang penghasilanku pas-pasan”. Ketika kondisi kehidupannya mulai membaik, ia akhirnya bisa pulang sambil membawa oleh-oleh. Namun, kepulangan yang seharusnya menjadi momen bahagia justru berubah menjadi duka karena orang yang ditunggunya sudah lebih dulu pergi.
Perasaan kehilangan kemudian digambarkan lewat lirik “Tak ada kamu, hanya papan dan namamu”. Kalimat tersebut memperlihatkan bahwa sosok yang dahulu memenuhi rumah dengan kehadirannya kini hanya tersisa nama. Bahkan, kerinduan yang biasanya bisa terobati dengan pulang tidak lagi memiliki tempat untuk dituju. Makna ini sejalan dengan pembacaan RRI yang melihat lagu tersebut sebagai kisah tentang perantau yang terlambat pulang dan tidak sempat menemani orang tercintanya untuk terakhir kali.
Lagu ini juga menyoroti kenangan keluarga melalui bagian “Sesi potret yang selalu kubenci, aneh rasanya kau tak di sini”. Foto keluarga yang biasanya menjadi momen bersama kini terasa berbeda karena ada satu sosok yang tidak lagi berada di dalamnya. “Susunan barisannya tak sama lagi” menjadi gambaran sederhana tentang perubahan keluarga setelah seseorang pergi untuk selamanya.
Penyesalan semakin kuat ketika sang tokoh menyadari bahwa dirinya tidak sempat memberikan hal-hal yang seharusnya disampaikan saat masih ada kesempatan. Lirik “Sesal hatiku tak sempat temani kamu” dan “Harusnya kubisikkan kata ajaib ke telingamu” menunjukkan adanya kata-kata kasih sayang yang tertunda. Sementara itu, pengakuan “Soal ikhlas ternyata aku masih amatir” memperlihatkan bahwa kehilangan tidak mudah diterima begitu saja.
Pada akhirnya, “Sesi Potret” bukan hanya lagu tentang kematian atau kehilangan. Lagu ini berbicara tentang waktu yang terus berjalan, alasan untuk menunda pulang, serta penyesalan ketika kesempatan bersama orang terdekat ternyata tidak datang untuk kedua kalinya. Lewat kisah tersebut, eńau dan Ari Lesmana menggambarkan bahwa kehadiran dan waktu bersama keluarga memiliki nilai yang tidak selalu bisa digantikan oleh keberhasilan setelahnya. (*)
