Elpanta Tarigan, Pria 215 cm Hidup dengan Gigantisme dan Tunanetra yang Jadi Tenaga Pendidik Unesa: Berdamailah dengan Kekuranganmu

4 September 2026 22:27 4 Sep 2026 22:27

M. Rifat, Rahmat Rifadin

Redaksi Ketik.com
Thumbnail Elpanta Tarigan, Pria 215 cm Hidup dengan Gigantisme dan Tunanetra yang Jadi Tenaga Pendidik Unesa: Berdamailah dengan Kekuranganmu

Elpanta Tarigan di Universitas Negeri Surabaya. (Foto: Kiagus Firdaus/Ketik.com)

KETIK, SURABAYA – Menjalani hidup dengan postur tubuh ora umum ditambah tunanetra adalah takdir yang tak bisa ditawar bagi Elpanta Tarigan. Tapi dia memilih bangkit. Berdamai dengan kondisi fisiknya dan kini mampu berdiri dengan kaki sendiri di tanah perantauan, Surabaya.

***

Di salah satu ruang kantor administrasi kampus Universitas Negeri Surabaya (Unesa) itu Elpanta Tarigan setiap hari sibuk dengan persuratan yang menumpuk di salah satu kampus negeri terbesar kota pahlawan tersebut.

Dengan postur tubuh setinggi 215 cm, tak sulit bagi Elpanta untuk mencuri perhatian setiap orang yang melihatnya.

Begitu juga yang dirasakan Ketik.com saat berkunjung ke kantornya bersama Ketua Kwartir Daerah (Kwarda) Pramuka Jawa Timur Arum Sabil siang itu (2/9/2026). Postur tubuh Elpanta saat itu mencuri perhatian Arum Sabil. Ketua Pramuka Jatim itu pun lantas menghampiri dan mengajaknya mengobrol.

Dialah Elpanta Tarigan. Pria asal Sibiru-biru, Kabupaten Deli Serdang, Sumatera Utara tersebut bekerja sebagai salah satu tenaga pendidik di Unit Layanan Terpadu (ULT) Unesa.

Kondisi fisiknya yang menjulang tinggi dan tunanetra tidak membuatnya kagok dalam melaksanakan tanggung jawabnya sehari-hari di kantor.

Dia begitu cekatan. Tangannya lincah saat berjibaku dengan surat-surat yang ada di meja kerjanya. Dia juga mampu mengetik dengan lihai.

"Selain menyortir surat-surat, saya juga bertugas sebagai pemberi informasi jika ada mahasiswa yang membutuhkan informasi terkait administrasi akademik atau lainnya," jelas Elpanta kepada Ketik.com.

Foto Elpanda Tarigan bersama Ketua Kwarda Pramuka Jatim Arum Sabil di Universitas Negeri Surabaya. (Foto: Kiagus/Ketik.com)Elpanta Tarigan bersama Ketua Kwarda Pramuka Jatim Arum Sabil di Universitas Negeri Surabaya. (Foto: Kiagus/Ketik.com)

Elpanta bukan orang baru di Unesa. Dia juga merupakan seorang sarjana lulusan kampus tersebut dari Fakultas Pendidikan, tepatnya Program Studi Pendidikan Luar Biasa.

Jenjang S1 dia selesaikan dengan prestasi gemilang pada April 2026 lalu. Dia lulus dalam tujuh semester dengan IPK 3,68.

Selain berprestasi di bidang akademik, selama menjalani pendidikan di Unesa dia juga dikenal sebagai atlet multitalenta, meraih medali di cabang olahraga tolak peluru, juara satu Goalball tingkat provinsi, hingga aktif dalam turnamen catur.

Atas perjuangan dan prestasinya itu, Rektor Unesa, Prof. Dr. Nurhasan, M.Kes., memberikan penghargaan khusus untuk Elpanta. Prof Nurhasan menawarinya dua pilihan istimewa: beasiswa penuh S2 atau menjadi pegawai tetap di Unesa.

Elpanta akhirnya memilih untuk menjadi pegawai tetap, yang secara otomatis memberinya kesempatan untuk melanjutkan studi ke jenjang S2 dan S3 di masa depan.

Elpanta pun kini akhirnya berkarir di almamaternya sendiri sekaligus mempersiapkan pendidikan S2 yang ingin dia tempuh.

Hidup dengan Gigantisme dan Tunanetra

Elpanta bercerita, dokter menyebut tubuhnya bisa tinggi menjulang mencapai 215 cm ini karena dirinya mengalami gigantisme. Di dunia kedokteran, gigantisme merupakan kondisi gangguan pertumbuhan langka yang membuat seseorang memiliki tinggi atau ukuran tubuh jauh di atas rata-rata usia normal yang disebabkan hormon pertumbuhan berlebih.

"Sejak lahir sebenarnya orang tua sudah merasa, kok saya besar sekali. Saat SD semakin kelihatan. Saya jauh lebih tinggi dibanding teman-teman sepantaran," ceritanya.

Kekhawatiran keluarganya makin besar ketika dia duduk di kelas 6 SD. Saat itu Elpanta mulai kehilangan penglihatan. "Terjadi di bulan pertama tahun 2012. Kata dokter itu akibat postur berlebih saya menjepit syaraf penglihatan," ceritanya.

Dia mengakui saat itu dirinya sempat berkecil hati. Minder mulai menyelimuti. Dia merasa hidupnya sudah selesai. Tidak bisa apa-apa lagi.

Berdamai dengan Kekurangan

Namun, perlahan dia belajar. Dia mendengar cerita tentang teman-teman tunanetra lain yang masih mampu beraktivitas. Semangatnya akhirnya kembali tumbuh. Apalagi keluarga dan orang-orang terdekatnya terus mendukung.

"Saya melihat teman-teman tunanetra lain itu kok luar biasa. Ada yang tetap kerja mencari nafkah. Menikah. Ada yang sampai bisa S2. Pikir saya, kalau mereka bisa saya juga harus bisa," ucapnya.

Semangat itu juga yang akhirnya mengantar Elpanta sampai ke kota pahlawan untuk berkuliah.

Meski demikian, dia mengakui jelas ada suka duka sehari-hari yang harus dia rasakan dengan kondisi fisik seperti yang dia miliki. Misalnya untuk membeli pakaian. Dia harus berusaha lebih keras mencari ukuran yang cocok untuknya.

"Terutama ukuran celana. Karena jarang sekali yang panjangnya pas buat saya," katanya lantas tertawa.

Dia juga mengaku sering kesulitan saat menggunakan transportasi umum. "Kalau di Surabaya saya nggak bisa naik wira-wiri (angkutan umum terintegrasi kota Surabaya, red). Sulit masuknya. Karena mobilnya kan kecil. Mentok kepala saya," jelasnya lantas terkekeh.

"Saya cukupnya naik yang besar-besar, seperti Suroboyo bus," tambah Elpanta.

Namun demikian, bagi Elpanta hal-hal seperti sudah dia anggap bukan masalah besar. Dia mengaku sudah berdamai dengan keadaannya. Itu juga yang membuatnya tetap bersemangat.

Saat ditanya apa yang ingin dia sampaikan untuk orang-orang yang masih sering merasa minder atau berkecil hati dengan keadaan dan selalu merasa kurang, Elpanda hanya berpesan satu hal. "Berdamailah dengan kekuranganmu," ucapnya.

"Kekurangan untuk setiap orang selalu ada. Tapi bagaimana cara menutupinya. Cara menyembuhkannya. Itu yang penting. Kalau saya sendiri, saya merasa sudah berdamai dengan kekurangan saya ini. Itu yang membuat saya kuat sampai sekarang," ucap Elpanta yang hobi bermain catur tersebut.

Arum Sabil mengaku kagum dengan semangat juang Elpanta. Menurutnya, meski memiliki kondisi fisik berbeda dengan orang kebanyakan, Elpanta membuktikan masih mampu berprestasi. "Itu yang harus dicontoh untuk anak-anak muda lain," ucapnya.

Arum Sabil juga mengapresiasi setinggi-tingginya Unesa dan sang Rektor Prof Nurhasan yang memberi perhatian dan ruang untuk Elpanta maupun teman-teman berkebutuhan khusus lainnya untuk tetap bisa berkarya. "Kita butuh sosok-sosok pemimpin visioner seperti Prof Nurhasan yang lebih banyak," ucapnya. (*)

Tombol Google News

Tags:

Gigantisme Manusia Tertinggi Unesa Universitas Negeri Surabaya Elpanta Tarigan