KETIK, SLEMAN – Grha Kriya Dekranasda Sleman menjadi saksi lahirnya para wirausahawan muda batik pada Rabu 9 September 2026. Mengusung semangat “9 Alumni, 9 September, 1 Ruang Karya”.
Dewan Kerajinan Nasional Daerah (Dekranasda) Kabupaten Sleman menggelar ajang pamer karya hasil program Pelatihan Gen Z Batik Preneur Pendidikan Kecakapan Wirausaha Tahun 2026.
Kegiatan yang bertepatan dengan rangkaian Peringatan Hari Batik Tahun 2026 ini hadir untuk memberi panggung bagi sembilan alumni dalam memamerkan karya, memperluas jejaring, dan membuka peluang transaksi bisnis.
Sebanyak 27 produk batik ciptaan para perajin muda resmi diperkenalkan kepada publik, dengan enam karya terbaik tampil memukau dalam sesi fashion show.
Ketua Dekranasda Sleman, Parmilah (Mila Harda), berinteraksi dan memberikan motivasi langsung kepada para alumnus Gen Z Batik Preneur dalam acara Gelar Karya di Grha Kriya Dekranasda Sleman. (Foto: Pemkab Sleman for Ketik.com)
Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Kabupaten Sleman, Dwi Wulandari, menegaskan bahwa pameran ini bukan sekadar ajang seremonial, melainkan bagian dari strategi penguatan kapasitas, kreativitas, dan promosi industri kecil dan menengah (IKM) batik.
“Produk selanjutnya akan tetap ditata di Grha Kriya Dekranasda hingga akhir tahun 2026, sehingga gelar produk tidak berhenti sebagai kegiatan satu hari, tetapi juga sebagai pintu masuk untuk promosi dan pengembangan usaha yang berkelanjutan,” kata Dwi.
Langkah berani para alumnus muda ini mendapat apresiasi tinggi dari Ketua Dekranasda Kabupaten Sleman, Parmilah Harda Kiswaya. Ia menekankan bahwa ruang apresiasi sangat dibutuhkan agar potensi bisnis para perajin muda dapat terus berkembang.
“Yang baik harus diberi ruang untuk dilihat, diapresiasi, dan dikembangkan menjadi peluang usaha. Gelar produk ini bukanlah akhir, justru awal dari perjalanan usaha yang sesungguhnya,” ujarnya.
Parmilah (Mila Harda) juga menyuntikkan semangat agar para alumni tak berkecil hati jika produk atau jaringan pasar mereka belum sempurna. Menurutnya, konsistensi, disiplin, mental pantang menyerah, dan inovasi tiada henti adalah kunci utama dalam mengarungi dunia usaha.
Dampak positif dari program pelatihan ini dirasakan langsung oleh para peserta. Amanda, salah satu alumnus pelatihan, membagikan pengalamannya selama mengikuti program yang tidak hanya mengasah keahlian teknis, tetapi juga menggembleng mentalitas perajin.
“Pelatihan ini memberi pengalaman berharga, bukan hanya tentang teknik membatik, tetapi juga mengenai proses riset, kesabaran, dan kreativitas dalam menghasilkan karya yang layak dijual,” ungkap Amanda.
Selain bekal keterampilan, Amanda menyebut rasa kebersamaan dan saling mendukung antar-alumni sebagai kenangan paling berkesan. Ia berharap hubungan baik dan ikatan kolaborasi ini terus terjaga sebagai modal bersama untuk memajukan industri batik di masa depan. (*)
