KETIK, SLEMAN – Pendapa Parasamya Kabupaten Sleman terasa hangat pada Jumat 21 Agustus 2026. Siang itu, suasana penuh kekeluargaan menyelimuti acara pisah sambut Kepala Kejaksaan Negeri (Kajari) Sleman. Jabatan yang selama ini dipegang dengan penuh dedikasi oleh Bambang Yunianto SH MH secara resmi diserahterimakan kepada penggantinya, Dr Dinar Kripsiaji SH MH.
Bupati Sleman Harda Kiswaya tampak duduk berdampingan dengan jajaran Forum Koordinasi Pimpinan Daerah (Forkopimda). Ada guratan berat di wajah Harda saat ia menyampaikan sambutan perpisahan. Perpisahan dengan seorang pejabat daerah terkadang bukan sekadar urusan pergantian administratif birokrasi, melainkan kehilangan seorang rekan diskusi yang sudah terbiasa bergerak cepat mengatasi dinamika wilayah.
"Mas Bambang adalah sosok mitra kerja yang luar biasa responsif. Dinamika hukum dan ketertiban di Sleman selama dua tahun terakhir terjaga dengan sangat baik berkat komunikasi yang cair dan ketegasan beliau," ungkap Harda Kiswaya di hadapan para tamu undangan, memuji dedikasi sang pejabat lama.
Selama dua tahun dua bulan menjadi Kajari Sleman, Bambang Yunianto telah meninggalkan rekam jejak pengabdian yang mendalam di hati masyarakat. Dirinya memang bukanlah tipe pejabat yang betah berlama-lama duduk di balik meja kerja yang kaku. Bambang memilih jalan yang jauh lebih membumi dan dekat dengan denyut nadi masyarakat.
Selama bertugas di Sleman, ia gelisah melihat benteng pendidikan tinggi di Yogyakarta seolah berjalan terpisah dari ruang lingkup penegakan hukum praktis. Dari kegelisahan intelektual itulah lahir sebuah terobosan birokrasi yang paling dikenang, yakni program inovatif bertajuk "Jabat Kampus" (Jaksa Sahabat Kampus).
Menembus Batas Akademik: Merangkul Puluhan Kampus di Yogyakarta
Momen kebersamaan Bupati Sleman Harda Kiswaya bersama mantan Kajari Sleman Bambang Yunianto SH MH, didampingi pasangan masing-masing. Sebuah akhir dari sebuah babak pengabdian yang sarat akan sinergitas, ketegasan hukum, dan pendekatan humanis bagi masyarakat Sleman. (Foto: Fajar R/Ketik.com)
Bagi Bambang Yunianto, Kabupaten Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta secara luas bukan sekadar wilayah tempatnya menjalankan tugas sehari-hari. Ia melihat wilayah ini sebagai miniaturnya Indonesia, sebuah pusat kebudayaan dan Kota Pelajar di mana puluhan institusi pendidikan tinggi berdiri megah melahirkan kaum intelektual muda. Sadar akan potensi besar sekaligus kerentanan sosial yang kerap mengintai kalangan mahasiswa, Bambang Yunianto menginisiasi program "Jabat Kampus" untuk menjangkau sekitar 35 hingga 40 perguruan tinggi, baik negeri maupun swasta, yang tersebar di wilayah Sleman.
Program ini dirancang secara matang untuk membedah dan meruntuhkan cara pandang lama yang keliru. Selama bertahun-tahun, instansi penegak hukum kerap dipandang sebelah mata sebagai lembaga yang angker, kaku, berjarak, dan hanya muncul ketika ada perkara pidana. Bambang mendobrak dinding psikologis tersebut dengan turun langsung ke ruang-ruang kuliah. Berdiskusi santai dengan mahasiswa, membahas soal pencegahan tindak pidana korupsi, bahaya laten penyalahgunaan narkotika. Hingga jebakan hukum dalam Undang-Undang ITE menggunakan bahasa yang segar dan dekat dengan dunia anak muda.
"Kami ingin menghadirkan kejaksaan yang humanis, merangkul dunia pendidikan tinggi bukan untuk mencari-cari kesalahan, melainkan untuk membentengi masa depan generasi muda agar tercerahkan secara hukum sejak dini," ujar Bambang dalam suatu kesempatan sebelumnya.
Lebih dari sekadar penyuluhan hukum pasif yang bersifat satu arah, "Jabat Kampus" dirajut seirama dengan kebijakan nasional Merdeka Belajar Kampus Merdeka (MBKM). Melalui terobosan ini, pintu Kantor Kejari Sleman dibuka seluas-luasnya bagi mahasiswa dari berbagai lintas jurusan. Bukan hanya dari fakultas hukum semata, tetapi juga ilmu sosial, teknik, hingga ekonomi untuk menjalankan program magang. Para mahasiswa diajak melihat secara langsung bagaimana dunia peradilan bekerja di balik meja hijau, menjembatani teori yang didapat di ruang kuliah dengan realitas penanganan perkara di dunia profesional.
"Program ini memberikan warna baru bagi dunia kampus kami. Mahasiswa tidak lagi melihat hukum sebagai teori mati di atas kertas, melainkan sebuah instrumen keadilan yang hidup dan bersentuhan langsung dengan realitas sosial," puji salah seorang perwakilan rektor perguruan tinggi swasta di Yogyakarta menyambut baik inisiatif tersebut.
Ketegasan Tanpa Kompromi: Memimpin Tuntutan Mati 13 Bandar Sabu di Sukabumi
Namun, di balik senyum ramah, pendekatan humanis, dan inovasi edukatifnya yang membumi di Sleman, sedikit yang tahu bahwa rekam jejak kepemimpinan Bambang Yunianto di masa lalu diwarnai oleh nyali baja dan ketegasan tanpa kompromi. Jauh sebelum ia menanam benih kesadaran hukum di kampus-kampus Yogyakarta, namanya pernah menjadi momok yang paling ditakuti oleh para gembong narkotika lintas negara.
Kisah ketegasan itu bermula pada rentang tahun 2019 hingga 2022, ketika ia dipercaya mengemban amanah sebagai Kepala Kejaksaan Negeri Kabupaten Sukabumi. Periode penugasan tersebut beririsan langsung dengan masa-masa panas ketika institusi Kepolisian Republik Indonesia di bawah komando Listyo Sigit Prabowo selaku Kepala Badan Reserse Kriminal (Kabareskrim) Polri sedang gencar-gencarnya mengobarkan perang total terhadap sindikat kejahatan terorganisasi internasional.
Kala itu, Satgas Merah Putih Bareskrim Polri berhasil mengungkap dan menggulung jaringan peredaran gelap narkotika internasional kelas kakap dengan barang bukti ratusan kilogram sabu-sabu bernilai ratusan miliar rupiah. Ketika proses penyidikan rampung, berkas perkara beserta para tersangka dilimpahkan ke Kejari Sukabumi. Di sinilah sinergitas erat dalam kerangka sistem peradilan pidana (criminal justice system) diuji secara nyata di lapangan.
Berlandaskan pada semangat penegakan hukum yang tidak kenal kompromi terhadap kejahatan luar biasa (extraordinary crimes),
Bambang Yunianto tidak membuang waktu. Ia memimpin langsung tim Jaksa Penuntut Umum (JPU) untuk menyusun dakwaan dan tuntutan yang paling maksimal demi menyelamatkan masa depan bangsa dari ancaman racun narkotika. Tanpa keraguan sedikit pun, Kejari Sukabumi dengan keberanian moral yang tinggi menuntut hukuman mati terhadap 13 orang terdakwa sekaligus yang berperan sebagai bandar besar jaringan internasional tersebut.
"Terhadap kejahatan narkotika yang merusak sendi-sendi kehidupan bangsa, tidak ada kata kompromi. Negara harus hadir dengan ketegasan mutlak melalui hukuman yang paling setimpal," tegas Bambang Yunianto, Jumat, 21 Agustus 2926, mengingatkan dirinya saat mengawal proses persidangan perkara tersebut di Pengadilan Negeri Cibadak dengan pengawalan ketat aparat penegak hukum.
Langkah progresif dan tegas ini tidak hanya menjadi simbol keberhasilan kolaborasi penegakan hukum yang padu antara Bareskrim Polri dan Kejaksaan, tetapi juga dikabulkan sepenuhnya oleh majelis hakim. Putusan tersebut memberikan efek jera yang masif sekaligus membuktikan kepada publik bahwa negara tidak pernah kalah menghadapi gembong sindikat maut.
Warisan Kepemimpinan Menuju Babak Baru di Kejagung
Dua sisi mata uang inilah yang melekat secara utuh pada diri seorang Bambang Yunianto. Di satu sisi, ia adalah seorang penegak hukum bermental baja yang bertindak sebagai algojo keadilan yang tak kenal ampun bagi para pengedar racun perusak peradaban bangsa. Di sisi lain, ia adalah seorang pendidik dan reformis humanis yang dengan sabar merangkul dunia pendidikan tinggi untuk mencetak generasi intelektual yang sadar dan taat hukum.
Kini, setelah lembaran pengabdiannya selama dua tahun dua bulan di Sleman tuntas dengan catatan paripurna, langkah kakinya bergeser menuju koridor pusat kekuasaan yudisial di Kejaksaan Agung Republik Indonesia di Jakarta. Perpisahan ini meninggalkan kesan yang amat mendalam bagi jajaran Pemkab Sleman, masyarakat luas, serta para akademisi di Kota Pelajar.
Meninggalkan Sleman yang konon sempat ia guraukan ingin ia tinggali sebagai petani di masa pensiun nanti. Warisan kepemimpinan Bambang telah tertanam rapi. Dirinya telah membuktikan bahwa seorang jaksa sejati tidak harus selalu tampil garang melainkan juga mampu merangkul masyarakat dengan kehangatan dan ketulusan hati. (*)
.png)