Pada tahun 2025, Badan Pusat Statistik (BPS) menyajikan gambaran lengkap struktur dan dinamika penduduk Indonesia dengan melakukan survey melalui program Survei Penduduk Antar Sensus (Supas) dengan sasaran berbagai kelompok yaitu generasi z, generasi milenial dan generasi post-gen z.
Hasil survei menempatkan populasi generasi z (24.93%) di posisi puncak, diikuti oleh generasi milenial (24,34%) dan generasi post-gen Z (19,65%) dari total populasi nasional yang tercatat mencapai 288.315.089 jiwa.
Generasi Z (Gen Z) adalah sebutan bagi kelompok orang yang lahir antara tahun 1997-2012. Kelompok ini juga dikenal luas dengan beberapa julukan lain seperti zoomer, digital native (lahir di era digital), generasi internet atau igen.
Mereka merupakan pilar utama penentu arah kemajuan masa depan Indonesia yang dipersiapkan untuk mewujudkan visi Indonesia Emas 2045.
Generasi Z memiliki karakter kepedulian tinggi serta sebagai agen perubahan sosial dan calon pemimpin masa depan yang aktif menyuarakan perubahan positif dalam kehidupan bermasyarakat.
Kondisi kehidupan generasi z saat ini sangatlah kompleks diwarnai oleh dominasi jumlah populasi terbesar namun dihimpit oleh berbagai tantangan ekonomi, pasar kerja yang ketat, dan krisis kesehatan mental.
Generasi Z harus peduli pada kesehatan mental yang sama pentingnya dengan kesehatan fisik. Mental yang sehat dan positif memungkinkan tubuh berfungsi dengan baik dan membantu menentukan cara mengelola stres, berhubungan dengan orang lain, dan membuat sebuah pilihan.
Cara untuk mendeteksi gangguan mental atau stress yaitu dengan mengenali jenis-jenis stres yang terbagi menjadi tiga yaitu stres positif, stres akut dan stres kronis.
Stres positif (sering disebut eustres) adalah respons tubuh terhadap tantangan yang justru memicu motivasi, kreativitas, dan semangat misalnya saat mengejar tenggat waktu (deadline), berolahraga, atau bersiap untuk presentasi.
Stres akut adalah reaksi psikis dan fisik intens yang muncul sesaat setelah seseorang mengalami peristiwa traumatik atau mendesak seperti bencana alam atau kecelakaan dan biasanya berlangsung kurang dari satu bulan, kondisi ini memicu kecemasan tinggi dan mengganggu fungsi sehari-hari.
Stres kronis adalah tekanan mental atau fisik yang berlangsung lama, sering kali berminggu-minggu hingga berbulan-bulan akibat masalah yang tak kunjung usai berakibat memicu peningkatan hormon kortisol yang dapat memicu gejala fisik dan psikologis serta meningkatkan risiko penyakit berat jika diabaikan.
Berdasarkan data Kementerian Kesehatan periode tahun 2025–2026 melalui program Cek Kesehatan Gratis (CKG) ditemukan hampir 10% dari sekitar 7 juta anak terindikasi mengalami masalah kesehatan jiwa.
Rinciannya 4,4% (sekitar 338 ribu anak) mengalami gejala gangguan kecemasan dan 4,8% (sekitar 363 ribu anak) bergejala depresi.
Maraknya kasus bunuh diri di Indonesia didorong oleh berbagai faktor kompleks, dengan masalah ekonomi seperti jeratan utang dan judi online serta gangguan kesehatan mental depresi dan beban ganda sebagai pemicu utama.
Berdasarkan data Pusiknas Bareskrim Polri terdapat 1.270 kasus bunuh diri yang ditangani secara nasional dari bulan Januari hingga awal bulan November 2025. Berikut adalah rincian profil korban dari data tersebut:
Rentang Usia Korban: Sebanyak 7,66% dari total korban merupakan anak-anak di bawah usia 17 tahun.
Profesi dengan Angka Tertinggi: Petani/pekebun (107 jiwa), Karyawan swasta (91 jiwa), Wiraswasta (83 jiwa), Buruh harian lepas (54 jiwa), Pelajar/mahasiswa (50 jiwa).
Untuk tingkat daerah, wilayah Jawa Timur diperkirakan mencatat sekitar 165 kasus sepanjang tahun 2025. Secara tren kasus ini dilaporkan paling banyak terjadi di pagi hari.
Dalam Pandangan Islam masalah bukanlah hukuman atau tanda kebencian Allah Swt melainkan sebagai ujian untuk meningkatkan kualitas keimanan, sarana penggugur dosa, alat untuk introspeksi diri (muhasabah), dan batu loncatan agar manusia lebih dekat (tawakal) kepada-Nya.
Penerapan ilmu agama Islam sejak dini merupakan pondasi krusial dalam membentuk karakter, akhlak, dan moral anak. Di lingkungan keluarga keteladanan sikap kedua orang tua sangat menentukan generasi yang tangguh dan berakhlak mulia.
Sebagaimana mengutip pepatah Arab “Al-Ummu Madrasatul Ula" yang berarti ibu adalah sekolah (madrasah) pertama bagi anak-anaknya yang mengenalkan tauhid, bahasa, dan nilai kehidupan sehari-hari.
Disiplin mengerjakan salat memiliki korelasi yang sangat kuat dengan mental yang tangguh dan kesehatan emosional yang stabil. Ibadah ini bukan hanya sekadar kewajiban spiritual, tetapi juga latihan psikologis yang mendalam.
Kepatuhan pada aturan waktu dan tata cara shalat melatih pengendalian diri yang sangat efektif untuk menolak godaan dan menghadapi berbagai cobaan hidup. Menolong agama Allah dapat diwujudkan dengan berbagai cara salah satunya melalui zakat, infak, dan sedekah.
Harta yang kita keluarkan dengan ikhlas tidak akan berkurang, melainkan menjadi sumber keberkahan dan pintu datangnya rezeki. Dengan berbagi sedekah dapat memberikan dampak positif bagi kesehatan mental dan bernilai pahala yang bisa dilakukan setiap hari.
Seperti sedekah senyum dan sapa, sedekah ilmu, sedekah tenaga dan menjaga kebersihan lingkungan sekitar untuk menciptakan suasana sejuk dan mencegah kerusakan alam.
Jangan pernah berputus asa dari rahmat Allah Swt dengan berprasangka buruk sebab selagi kita masih bernafas, pintu taubat dan ampunan-Nya sangatlah luas.
Sebanyak atau sebesar apapun dosa yang pernah diperbuat, Allah Swt Maha Pengampun dan siap menerima hamba-Nya yang ingin kembali kepada-Nya.
Sebagaimana penggalan ayat Al-Qur'an dari Surat Al-Insyirah ayat 5-6 “Inna ma'al usri yusro” artinya maka sesungguhnya beserta kesulitan ada kemudahan. Ayat ini diulang dua kali sebagai penegasan dari Allah SWT bahwa di balik setiap ujian pasti ada jalan keluar dan kemudahan.
*) Bambang Suharto merupakan alumni Fakultas Hukum Universitas Trunojoyo
**) Isi tulisan di atas menjadi tanggung jawab penulis
***) Ketentuan pengiriman naskah opini:
- Naskah dikirim ke alamat email [email protected]
- Berikan keterangan OPINI di kolom subjek
- Panjang naskah maksimal 800 kata
- Sertakan identitas diri, foto, dan nomor HP
- Hak muat redaksi.(*)
.png)