KETIK, MALANG – Di kompleks Pesarean Gunung Kawi, Kabupaten Malang, terdapat sepasang guci tua yang hingga kini masih dijaga sebagai salah satu peninggalan Eyang Djoego. Guci tersebut menjadi saksi sejarah sekaligus bagian dari tradisi spiritual yang telah diwariskan secara turun-temurun.
Akun Instagram resmi Pesarean Gunung Kawi, @pesareangunungkawi, menjelaskan bahwa guci tersebut dikenal dengan nama Janjam. Pada awalnya terdapat tiga buah guci, namun dua di antaranya kemudian dibawa oleh Raden Mas Iman Soedjono ke Gunung Kawi.
"Awalnya ada tiga guci. Dua di antaranya dibawa ke Gunung Kawi oleh Raden Mas Iman Soedjono. Pada zamannya, Eyang Raden Mas Iman Soedjono sering menggunakannya dalam mengobati orang-orang yang sakit dengan cara memberikan air yang diambil dari dalam guci tersebut.," tulis akun tersebut.
Menurut staf Humas dan Media Sosial Pesarean Gunung Kawi, sebelumnya Eyang Djoego juga memanfaatkan air yang disimpan di dalam guci tersebut sebagai media pengobatan bagi masyarakat. Tradisi itu bermula ketika wilayah sekitar dilanda wabah penyakit yang menyebar luas.
Kala itu, banyak warga datang mengadu kepada Eyang Djoego untuk meminta pertolongan dalam menghadapi wabah. Sebagai tokoh penyebar agama sekaligus sosok yang dihormati karena kemampuan spiritualnya, Eyang Djoego kemudian memanjatkan doa dan menggunakan air sebagai perantara.
"Beliau berdoa, kemudian menggunakan media air. Air itu diminumkan kepada orang-orang yang sakit. Menurut cerita yang diwariskan, banyak yang kemudian sembuh sehingga masyarakat berdatangan meminta pertolongan," kata Nanda, sapaan akrab Ananda.
Seiring berjalannya waktu, guci tersebut menjadi bagian dari sejarah Pesarean Gunung Kawi. Hingga kini, guci peninggalan Eyang Djoego masih berada di area makam dan tetap dirawat sebagai benda bersejarah yang memiliki nilai budaya sekaligus spiritual.
Nanda mengatakan, sebagian peziarah masih meyakini air dari guci tersebut membawa berkah. Karena itu, tidak sedikit pengunjung yang datang untuk memohon doa sekaligus meminta air dari guci, baik untuk kesehatan maupun sebagai ikhtiar dalam menjalankan usaha.
"Sampai sekarang masih banyak peziarah yang percaya air dari guci itu membawa berkah. Ada yang datang meminta air untuk keluarga yang sakit, ada juga yang berharap diberi kelancaran usaha," ungkapnya.
Meski demikian, pengelola menempatkan guci tersebut sebagai salah satu warisan peninggalan Eyang Djoego yang sarat nilai sejarah. Keberadaannya menjadi pengingat perjalanan dakwah, pengabdian, dan kedekatan Eyang Djoego dengan masyarakat pada masanya.
.png)