KETIK, JAKARTA – Sebagai salah satu aset strategis dalam armada tempur laut, kapal induk TNI Angkatan Laut yaitu KRI Sriwijaya-100 dirancang dengan kombinasi ketangguhan mekanis dan fleksibilitas operasional yang tinggi. Selain memiliki dek penerbangan, kapal ini juga dilengkapi dengan sejumlah persenjataan untuk pertahanan diri.
Sebelum dihibahkan ke Indonesia, kapal tersebut dulunya dimiliki oleh Marina Militare atau Angkatan Laut Italia dan memiliki nama ITS Giuseppe Garibaldi dengan nomor lambung C 551. Dirancang sebagai kapal induk ringan dengan memiliki bobot 14.150 ton, panjang 180,2 meter, dan lebar 30,4 meter.
Untuk sistem propulsi, kapal ini memiliki empat mesin turbin gas GE-Avio LM2500 yang menghasilkan daya sebesar 60.400 kW dan disalurkan melalui dua poros baling-baling. Sehingga, mampu menghasilkan kecepatan maksimum 30 knot serta jarak jelajah operasional sekitar 7.000 mil laut.
Selain itu, kapal tersebut juga memiliki enam generator diesel dan satu generator cadangan untuk mendukung pasokan sistem kelistrikan. Dalam operasionalnya, kapal ini diawaki oleh 570 personel dan sudah mencakup elemen pendukung penerbangan.
Sebagai elemen pertahanan diri, kapal ini dilengkapi dengan berbagai senjata. Meliputi rudal permukaan ke udara Aspide, rudal anti kapal Teseo Mk2, dua tabung torpedo tripel 324 milimeter, serta tiga meriam laras ganda kaliber 40 milimeter.
Untuk mendukung dinamika operasional yang semakin kompleks, maka kapal ini akan menjalani proses modernisasi melibatkan galangan kapal dalam negeri PT PAL serta Ficantieri selaku pembuat kapal. Selain melakukan penyegaran pada mesin dan struktur lambung, juga integrasi sistem manajemen tempur modern, berbagai perangkat radar sensor, dan perangkat komunikasi taktis terkini.
