KETIK, BOGOR – Ketergantungan Indonesia terhadap kedelai impor masih menjadi tantangan besar bagi sektor pangan nasional. Kondisi tersebut membuat industri tahu dan tempe sangat rentan terhadap perubahan nilai tukar rupiah maupun gejolak perdagangan dunia.
Dosen Sekolah Bisnis IPB University, Dr Tanti Novianti, menjelaskan bahwa saat ini sekitar 90–95 persen bahan baku tahu dan tempe masih berasal dari impor. Sementara itu, produksi kedelai dalam negeri belum mampu memenuhi kebutuhan nasional yang mencapai sekitar 2,5–2,7 juta ton setiap tahun.
Menurutnya, rendahnya produktivitas kedelai lokal menjadi salah satu penyebab utama Indonesia masih bergantung pada pasokan luar negeri.
Meski demikian, peluang meningkatkan produksi nasional masih terbuka lebar. Indonesia memiliki lahan yang cukup luas, pasar domestik yang besar, serta kesempatan mengembangkan varietas unggul yang sesuai kebutuhan industri pangan.
“Petani perlu diberikan insentif ekonomi yang jelas. Tidak cukup hanya mendorong mereka menanam kedelai, tetapi juga harus ada kepastian harga, pasar, benih, teknologi, dan pendampingan,” jelasnya, Minggu, 5 Juli 2026.
Dr Tanti menilai upaya memperkuat kedelai lokal harus menjadi agenda jangka panjang agar ketahanan pangan nasional tidak terus bergantung pada pasar global.
Di sisi lain, tingginya ketergantungan impor membuat pengrajin tahu dan tempe menjadi pihak yang paling merasakan dampak ketika dolar AS menguat atau rupiah melemah.
“Tempe dan tahu merupakan sumber protein rakyat yang bahan bakunya hingga saat ini masih didominasi impor, sekitar 90–95 persen. Ketika dolar AS menguat atau rupiah melemah, harga kedelai impor otomatis menjadi lebih mahal dalam rupiah meskipun harga kedelai dunia relatif tetap,” ujarnya.
Akibat kenaikan harga bahan baku, banyak pelaku UMKM harus memilih antara menaikkan harga jual, mengurangi ukuran produk, atau menekan keuntungan agar pelanggan tidak beralih.
Untuk mengurangi ketergantungan tersebut, Dr Tanti juga mendorong pemerintah memperluas akses pembiayaan murah melalui KUR, memperkuat koperasi pengrajin, mengembangkan varietas unggul, serta memodernisasi industri tahu dan tempe.
Menurutnya, kombinasi kebijakan tersebut akan memperkuat daya saing kedelai lokal sekaligus menjaga keberlangsungan usaha pengrajin dalam jangka panjang.
“Ketahanan pangan bukan hanya soal beras, tetapi juga protein rakyat seperti tempe dan tahu. Karena itu, kebijakan yang melindungi pengrajin sekaligus memperkuat produksi kedelai lokal perlu terus didorong agar usaha tetap berkelanjutan dan pangan tetap terjangkau bagi masyarakat,” pungkasnya. (*)
.png)