Mas Radit Hadir Bawa Tangki Air Bersih Gratis saat DPRD Dinilai Hilang Empati

25 Oktober 2026 19:38 25 Okt 2026 19:38

Ahmad Istihar, Mustopa

Redaksi Ketik.com
Thumbnail Mas Radit Hadir Bawa Tangki Air Bersih Gratis saat DPRD Dinilai Hilang Empati

Armada truk tangki Mas Radit saat mengantre mengambilan Air Bersih di Desa Sidoharjo, Kecamatan Senori, Kabupaten Tuban, Minggu 25 Oktober 2026 (Foto : Ahmad Istihar/Ketik.com)

KETIK, TUBAN – Masalah kekeringan yang parah kembali menjadi kenyataan pahit bagi ribuan keluarga di wilayah selatan Kabupaten Tuban. Mulai dari wilayah Kecamatan Senori, Bangilan, Parengan, hingga Singgahan, Kenduruan, disaat sumur milik warga sudah mengering tidak mengeluarkan debit air.

Di tengah kesulitan warga yang sedang bingung mencari air bersih tersebut, muncul sebuah pemandangan sangat berlawanan.

Saat warga sangat membutuhkan bantuan, para wakil rakyat yang duduk di kursi DPRD Tuban khususnya dari Daerah Pemilihan (Dapil) IV justru dinilai tidak peduli dan tidak hadir membantu masyarakat.

Bukan hanya itu, bantuan dari Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Tuban melalui Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) juga dinilai sangat lambat.

Hal ini terjadi karena pemerintah memakai aturan yang kaku, dimana bantuan air baru akan dikirim jika ada laporan resmi yang dibuat secara berjenjang mulai dari tingkat desa lalu diteruskan ke pihak kecamatan.

Bagi warga yang sedang kehausan, menunggu proses surat-menyurat dan aturan pemerintah seperti itu dirasa terlalu lama. Sebagian kalangan ekonomi menengah lebih memilih pembeli air bersih eceran.

Melihat lambatnya bantuan dari pemerintah dan tidak adanya kepedulian dari anggota dewan, seorang warga biasa bernama Raditia Airlangga memilih untuk langsung turun tangan. Pemuda yang akrab disapa Radit berasal Desa Sidoharjo, Kecamatan Senori.

Hebatnya, aksi berbagi air bersih bukan baru pertama kali dilakukan. Radit sudah konsisten membagikan air bersih secara gratis selama 3 tahun berturut-turut setiap kali musim kemarau datang.

Gerakan kemanusiaan, ia mulai lakukan di tahun 2023 dengan modal 2 truk tangki. Kini tahun 2026, armadanya bertambah menjadi 5 unit truk tangki yang bisa menampung 5.000 hingga 8.000 liter air. Truk-truk inilah yang setiap hari keliling mengantar air ke rumah warga hingga pondok pesantren di Senori.

"Alhamdulillah, gerakan ini sudah berjalan kurang lebih 3 tahunan. Kalau awal tahun 2023 kami baru memakai 2 armada truk, per tahun 2026 jumlahnya bertambah menjadi 5 armada," kata Radit kepada Ketik.com, Minggu 25 Oktober 2026.

Foto Iring - iringan Armada truk tangki Air bersih saat akan disalurkan kepada warga yang membutuhkan di Kecamatan Senori, Minggu 25 Oktober 2026 (Foto: Ahmad Istihar/Ketik.com)Iring-iringan Armada truk tangki Air bersih saat akan disalurkan kepada warga yang membutuhkan di Kecamatan Senori, Minggu 25 Oktober 2026 (Foto: Ahmad Istihar/Ketik.com)

Langkah cepat Radit menjadi teguran keras bagi jalannya birokrasi pemerintah yang lamban. Tanpa perlu menunggu warga membuat laporan resmi dan tanpa perlu proposal, truk-truk tangki berwarna biru cerah bertuliskan "MAS RADIT" langsung masuk menyisir gang-gang kecil di depan rumah warga Desa Sidoharjo.

Tidak hanya memberi air, Radit juga membagikan terpal plastik besar secara gratis agar bisa digunakan warga sebagai wadah penampungan air darurat.

Untuk melakukan aksi sosial tersebut, Radit rela menghabiskan uang dari kantong pribadinya sendiri. Ia menghitung bahwa total biaya operasional truk tangki air gratis hingga musim hujan tiba nanti diperkirakan mencapai Rp380 juta.

Hingga hari ini saja, uang pribadi Radit sudah terpakai untuk membeli air bersih dan operasional truk telah mencapai Rp315 juta.

"Bagi saya, ini adalah bentuk hubungan baik kepada Allah/Hablum Minallah dan hubungan baik sesama manusia/Hablum Minannas. Kebahagiaan paling tinggi bagi saya adalah melihat warga bisa tersenyum di saat mereka sedang kesulitan air," ujar Radit dengan tulus sambil meminta doa agar dirinya selalu diberi konsistensi.

Radit juga menambahkan bahwa penanganan kekeringan tahunan tidak bisa hanya mengandalkan warga biasa.

"Kegiatan sosial kuncinya harus terus berjalan (Istiqomah) berkelanjutan. Namun, kita juga berharap ada kemauan politik (political will) dari pemerintah kota untuk memutus mata rantai masalah kekeringan tahunan di Tuban Selatan," jelasnya.

Supaya pembagian air berjalan tertib dan rapi, Radit mengelola tim secara profesional dengan memberikan upah bagi 12 orang pekerja menggunakan uang pribadinya.

Tim tersebut terdiri mandor, koordinator lapangan, sopir (driver), dan kernet (helper). Tugas mereka hanya satu yaitu membagikan air bersih secara gratis tanpa boleh meminta uang sepeser pun dari warga setempat.

"Dari pagi sampai siang kami fokus bolak-balik sampai 20 kali untuk menyalurkan air bersih di dalam wilayah Desa Sidoharjo. Kalau malam hari, pengiriman air kami alihkan ke luar desa seperti wilayah Katerban, Rayung, Medalem, Kaligede, hingga masuk ke pondok pesantren yang membutuhkan," kata Abdul Khalim, mandor yang memimpin kru di lapangan.

Disisi lain, bantuan air bersih gratis dari Mas Radit menjadi penyelamat ekonomi bagi masyarakat desa. Di beberapa desa seperti Desa Kaligede, Jatisari, dan Sendang, warga yang kurang mampu sudah berbulan-bulan terpaksa memotong biaya kebutuhan lain hanya untuk membeli air bersih eceran per jerigen demi bisa memasak dan mandi.

"Bantuan dari Mas Radit sangat kami butuhkan karena sumur andalan kami sudah kering total. Mas Radit sudah tiga tahun berturut-turut memberikan air gratis, di saat kami sendiri belum melihat ada tindakan nyata dari wakil rakyat atau pejabat yang dulu kami pilih disini," keluh salah satu warga Desa Kaligede.

Krisis air di wilayah Tuban Selatan memang bukan sekadar masalah cuaca, melainkan juga masalah kepedulian dari para pejabat pemerintah.

Data resmi Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) melalui Stasiun Meteorologi Tuban menunjukkan bahwa ketersediaan air tanah di Tuban saat ini sudah masuk tahap kritis, yakni tersisa 0 hingga 20 persen saja akibat dampak dari fenomena alam El Niño yang sangat kuat.

Berdasarkan data pengamatan BMKG Stasiun Klimatologi Jawa Timur di Surabaya, wilayah Tuban Selatan mengalami kekeringan ekstrem karena sudah lebih dari 60 hari sama sekali tidak turun hujan.

Sementara Pemkab Tuban lewat BPBD baru hadir sebatas urusan surat administrasi, Raditia Airlangga sudah bergerak nyata menyelamatkan warga dengan tangki air bersihnya.

Aksi dropping air gratis dipastikan akan terus berlanjut menyasar desa-desa terdampak parah lainnya, bahkan tim Mas Radit juga siap sedia membantu jika ada permintaan darurat dari warga.

Apa yang dilakukan oleh tim dan seluruh pekerja Mas Radit bukan sekadar membagikan air bersih. Aksi nyata dilakukan menjadi pengingat yang kuat bagi kita semua bahwa di saat fungsi jabatan para pejabat dipertanyakan, nilai kemanusiaan akan selalu menemukan jalannya sendiri untuk menolong sesama yang sedang kesusahan.(*)

Tombol Google News

Tags:

Raditia Airlangga Mas Radit Kekeringan Ekstrim bpbd TUBAN Politik dan pemerintahan Pemkab Tuban DPRD Tuban