KETIK, BONDOWOSO – Dalam rangka menyambut dan memeriahkan Hari Santri, Lembaga Perekonomian Nahdlatul Ulama (LPNU) PCNU Bondowoso resmi menggelar Gebyar Ekonomi Santri (GES) 2026 untuk pertama kalinya.
Ajang perdana yang mengombinasikan pemberdayaan UMKM dan penerapan ekonomi hijau (green economy) ini dijadwalkan berlangsung selama sepekan penuh, mulai 28 Oktober hingga 4 November 2026.
GES 2026 mencetak sejarah baru sebagai perhelatan pertama di Kabupaten Bondowoso yang berkomitmen penuh menghadirkan konsep acara bebas sampah (zero waste event).
Selain memutar roda perekonomian santri, event ini menjadi pionir dalam penerapan sistem manajemen pengelolaan sampah berbasis edukasi langsung dan pemilahan terintegrasi di ruang publik.
Ketua Panitia GES 2026, Muhassim, menegaskan bahwa penyelenggaraan ini merupakan tonggak sejarah bagi Bondowoso dalam membangun kesadaran lingkungan yang berkelanjutan.
"Poin utama yang kami angkat adalah menjadikan acara ini bebas sampah selama kegiatan berlangsung," ujar Muhassim di sela-sela kegiatan.
Penyelenggaraan GES 2026 diprediksi menyedot perhatian ribuan pengunjung. Selain menghadirkan Panggung Santri yang menampilkan tari kolosal Saman oleh 1.000 siswa At-Taqwa, seni budaya lokal, dan ruang ekspresi pelajar, perhelatan ini juga menyediakan 130 stan usaha dan pelayanan.
Stan tersebut terdiri dari 85 pelaku UMKM, 11 Organisasi Perangkat Daerah (OPD) Pemkab Bondowoso, serta 24 Lembaga dan Badan Otonom NU.
Guna menjaga kelancaran dan kebersihan selama acara, panitia menggandeng komunitas pengelolaan sampah Sarkaspace beserta badan otonom NU. Tak hanya itu, acara ini juga diisi dengan rangkaian pelatihan selama enam hari berturut-turut, meliputi pelatihan pengelolaan persampahan hingga pelatihan ekonomi kreatif.
Founder Komunitas Sarkaspace, Ahmad Quraisy, menjelaskan bahwa untuk memastikan efektivitas manajemen sampah (waste management), pihaknya menyiagakan relawan di 12 titik strategis. Setiap titik disediakannya tiga kategori tempat sampah terpilah, yakni organik, anorganik, dan residu.
"Setiap setengah jam, tim di 12 titik itu berkeliling. Para relawan tidak hanya berjaga, tetapi juga aktif mengedukasi pengunjung sejak dari sumbernya serta melakukan penyisiran dan pencatatan volume sampah secara berkala setiap tiga hari sekali," terang Quraisy.
Ia berharap sistem terstruktur ini dapat menjadi percontohan bagi event-event lain di masa mendatang.
Di sisi lain, Ketua PCNU Bondowoso, M. Syaeful Bahar, menekankan pentingnya mengonversi modal sosial (social capital) Nahdlatul Ulama yang besar menjadi kekuatan ekonomi nyata bagi masyarakat, bukan sekadar dimanfaatkan untuk momentum politik semata.
"Islam mengajarkan bahwa Allah mencintai umat yang kuat—bukan hanya kuat fisik, tetapi juga kuat secara ekonomi, pemikiran, dan keilmuan. Kita memiliki potensi besar tersebut, tinggal bagaimana kita mengorganisasi dan percaya diri bahwa kita mampu mewujudkan kemandirian ekonomi bersama," tegas Syaeful Bahar.
Melalui kesuksesan Gebyar Ekonomi Santri 2026, LPNU PCNU Bondowoso berharap kegiatan ini dapat menjadi agenda tahunan yang tak hanya menggerakkan sektor riil dan kemandirian ekonomi santri, tetapi juga menetapkan standar baru perhelatan acara yang ramah lingkungan di Kabupaten Bondowoso.(*)
