KETIK, AGAM – Sebuah terobosan tak biasa yang dilakukan Kapolres Agam mendadak jadi perbincangan hangat dan trending di media sosial.
Tidak lagi sekadar mengandalkan tindakan hukum tegas atau patroli bersenjata, Kepolisian Resor (Polres) Agam kini resmi mengoperasikan strategi “Benteng Kamtibmas” yang menyatukan hukum negara dengan filosofi luhur Minangkabau: Adat Basandi Syarak, Syarak Basandi Kitabullah.
Langkah brilian ini menempatkan para ninik mamak, alim ulama, cadiak pandai, tokoh pemuda, hingga Pemerintah Daerah sebagai barisan terdepan dalam menjaga keamanan dan ketertiban masyarakat (Kamtibmas).
Musyawarah di Atas Segalanya: Rumah Gadang Jadi Garda Depan
Bagi masyarakat Sumatera Barat, adat dan musyawarah adalah marwah. Menyadari modal sosial yang begitu mendalam ini, Kapolres Agam AKBP Masnoni menegaskan bahwa kepolisian hadir bukan untuk menggeser peran pemuka adat, melainkan memperkuatnya.
Sengketa maupun potensi konflik kini dicegah sejak dini dari tingkat nagari dan Rumah Gadang sebelum membesar menjadi hukum pidana.
“Kita tidak ingin menunggu persoalan menjadi besar baru kita turun tangan. Mari kita cegah sejak awal. Kalau ada persoalan di tengah masyarakat, kita duduk bersama, kita bicarakan dengan kepala dingin dan kita cari solusi terbaik. Polisi tidak bisa bekerja sendiri. Kekuatan terbesar kita adalah kebersamaan,” tegas Kapolres Agam.
Bukan Cuma Tangkap Penjahat, Polisi Rangkul Seluruh Anak Nagari
Skema anyar ini mengubah wajah kepolisian di Agam menjadi jauh lebih humanis dan preventif. Komunikasi intensif dibangun bukan saat gejolak terjadi, melainkan sebagai agenda rutin harian untuk menyerap aspirasi warga.
Sinergi Total: Menghubungkan jalur komunikasi antara Mapolres, Pemda, dan lembaga adat di nagari.
Pencegahan Dini: Menyelesaikan gesekan sosial lewat kearifan lokal tanpa harus berujung pada proses hukum formal jika memungkinkan.
Eksistensi Nilai Lokal: Menjadikan Adat Basandi Syarak, Syarak Basandi Kitabullah sebagai benteng moral membendung potensi kejahatan dan kenakalan remaja.
Agam Siap Jadi Percontohan Nasional
Pendekatan dialogis ini mendapat apresiasi luas dari berbagai lapisan masyarakat. Kapolres Agam optimistis bahwa keamanan yang berkelanjutan hanya bisa dicapai jika masyarakat merasa memiliki tanggung jawab yang sama atas kampung halamannya.
“Kita jaga marwah nagari, kita hormati ninik mamak, kita kuatkan peran alim ulama, kita rangkul generasi muda dan kita satukan langkah dengan Pemerintah Daerah. Polisi bersama masyarakat, bukan polisi di belakang masyarakat,” pungkasnya.
Dengan berdirinya “Benteng Kamtibmas” berbasis adat dan agama ini, Kabupaten Agam kini bersiap menjadi role model daerah paling aman, damai, dan kondusif di Indonesia.(*)
.png)