KETIK, BLITAR – Dugaan gangguan kesehatan yang dialami puluhan siswa setelah menyantap makanan Makan Bergizi Gratis (MBG) berujung pada penghentian sementara operasional SPPG Cik Ditiro Kota Blitar.
Badan Gizi Nasional (BGN) menjatuhkan sanksi penghentian operasional atau suspend terhadap SPPG Cik Ditiro selama 20 hari.
Keputusan tersebut diambil setelah laporan mengenai kejadian yang dialami siswa dari SLB Negeri 1 Kota Blitar dan SMP Al Muhafizhoh diteruskan kepada BGN untuk ditindaklanjuti.
Kepala Bidang Kesehatan Masyarakat Dinas Kesehatan Kota Blitar, Endang Purwono, membenarkan adanya penghentian sementara operasional SPPG tersebut.
“Sudah dilaporkan ke BGN dan SPPG Cik Ditiro disuspend selama 20 hari,” ujar Endang saat ditemui di kantor Dinkes Kota Blitar, Kamis 17 September 2026.
Penghentian operasional ini menjadi perkembangan baru dalam penanganan dugaan kejadian yang sebelumnya membuat sejumlah siswa harus mendapatkan perawatan medis.
Seperti diberitakan Ketik.com sebelumnya, sebanyak 20 siswa dari dua sekolah tersebut mengalami keluhan kesehatan setelah mengonsumsi makanan MBG pada Rabu 16 September 2026.
Dari 20 siswa tersebut, 18 orang sempat mendapatkan penanganan di fasilitas kesehatan.
Rinciannya, 16 siswa ditangani di Puskesmas Kepanjenkidul, satu siswa mendapat perawatan di RSUD Mardi Waluyo Kota Blitar dan satu lainnya ditangani di Klinik Siti Khodijah.
Sedangkan dua siswa lainnya tidak menjalani perawatan di fasilitas kesehatan karena kondisinya telah membaik setelah mendapatkan penanganan awal.
Di tengah proses penanganan siswa, Dinkes Kota Blitar juga melakukan pemeriksaan terhadap sampel makanan yang dibagikan melalui program MBG.
Hasil pemeriksaan awal menemukan kandungan logam berat berupa arsen pada salah satu menu, yakni rolade telur.
Namun, temuan tersebut belum menjadi kesimpulan mengenai penyebab gangguan kesehatan yang dialami para siswa.
Dinkes masih membutuhkan pemeriksaan laboratorium lanjutan untuk memastikan hasil pemeriksaan awal sekaligus menelusuri kemungkinan sumber kontaminasi.
“Dari pemeriksaan awal terhadap sampel makanan, ditemukan adanya kandungan logam berat, yaitu arsen pada rolade telur. Namun ini masih pemeriksaan awal dan perlu ditindaklanjuti dengan pemeriksaan laboratorium untuk memastikan hasilnya,” jelas Endang.
Karena itu, penghentian sementara operasional SPPG Cik Ditiro dan proses pemeriksaan penyebab kejadian merupakan dua proses yang berjalan beriringan.
Suspend selama 20 hari membuat SPPG Cik Ditiro untuk sementara tidak menjalankan kegiatan operasional seperti sebelumnya.
Langkah tersebut menjadi bagian dari tindak lanjut setelah laporan kejadian diterima dan diteruskan kepada BGN.
Di sisi lain, penyebab pasti keluhan kesehatan yang dialami para siswa masih menunggu hasil pemeriksaan lebih lanjut.
Temuan arsen pada rolade telur menjadi salah satu bagian penting yang sedang ditelusuri, tetapi hubungan langsung antara temuan tersebut dengan kondisi para siswa belum dapat dipastikan.
Hingga berita ini ditulis, pihak SPPG Cik Ditiro belum memberikan keterangan resmi terkait keputusan suspend selama 20 hari tersebut.
Ketik.com masih berupaya mendapatkan penjelasan dari pihak pengelola maupun Yayasan Kemala Bhayangkari Kota Blitar yang menaungi SPPG Cik Ditiro.
Sementara itu, proses pemeriksaan terhadap makanan dan penelusuran kejadian terus dilakukan untuk mengetahui secara utuh apa yang terjadi dalam distribusi MBG kepada para siswa di Kota Blitar.
