KETIK, SURABAYA – Tidak hanya dikenal sebagai kota kelahiran semangat perlawanan 10 November 1945, Surabaya juga menyimpan kisah kepahlawanan dari sosok yang sebelumnya dikenal sebagai atlet sepak bola.
Salah satunya Soegiarto, pemain Persebaya era 1930-an yang rela meninggalkan lapangan hijau untuk mengangkat senjata demi mempertahankan kemerdekaan Indonesia.
Kisah heroik tersebut menjadi salah satu cerita utama yang diangkat dalam Parade Surabaya Juang 2026 bertema “Surabaya Wani”, yang akan digelar Minggu, 1 November 2026.
Melalui pertunjukan teatrikal, masyarakat diajak mengenal perjalanan seorang pesepak bola yang tidak hanya mengharumkan nama Surabaya melalui olahraga, tetapi juga mempertaruhkan nyawanya di medan perjuangan.
Soegiarto merupakan arek Suroboyo asli yang berasal dari kawasan Ngaglik. Pada era 1930-an, ia tercatat sebagai pemain Persebaya yang ikut mempertahankan Surabaya dari ancaman dan serangan Inggris.
Kecintaannya terhadap sepak bola tidak membuatnya berpangku tangan ketika tanah air membutuhkan perjuangan.
Bahkan, pada masa penjajahan Jepang, Soegiarto bersama Persebaya masih sempat mengikuti dua kompetisi, yakni di Jakarta pada 1942 dan di Solo.
Kompetisi tersebut berlangsung di bawah organisasi olahraga Tai Iku Kai.
Namun, situasi perjuangan kemudian mengubah jalan hidupnya. Sepatu sepak bola yang biasa dikenakannya berganti dengan senapan untuk membela tanah kelahirannya.
Soegiarto kemudian bergabung dengan Pasukan Pertahanan Pemuda Kantor Kota. Pasukan tersebut turut memperkuat kubu pertahanan di kawasan Kapasan hingga Van Sandick Straat, yang kini dikenal sebagai Jalan Residen Sudirman.
Di tengah berkecamuknya pertempuran Surabaya, ia terus menjalankan tugas mempertahankan kemerdekaan hingga akhirnya gugur di medan pertempuran.
Jenazah Soegiarto dimakamkan di kuburan massal seberang Lapangan Canalaan, yang kini menjadi kawasan Taman Remaja Surabaya dan kemudian dikenal sebagai Taman Makam Pahlawan Kusuma Bangsa.
Kisahnya menjadi pengingat bahwa perjuangan kemerdekaan melibatkan berbagai kalangan, termasuk para olahragawan yang berani mengorbankan jiwa dan raga.
Sekretaris Dinas Kebudayaan, Kepemudaan, dan Olahraga (Disbudporapar) Kota Surabaya, Irwan Andeska Machmudi, mengatakan pengangkatan sosok Soegiarto juga berkaitan dengan persiapan Surabaya menjadi tuan rumah Pekan Olahraga Provinsi (Porprov) Jawa Timur 2027.
Pemkot ingin menghadirkan semangat olahraga sekaligus menghubungkannya dengan sejarah perjuangan kota.
“Pada 2027 Surabaya akan menjadi tuan rumah Porprov Jawa Timur. Kami ingin menghidupkan suasana olahraga melalui sosok yang memiliki keterkaitan dengan sejarah perjuangan Surabaya,” kata Irwan dalam konferensi pers di Ruang Rapat Romansa Disbudporapar Surabaya, Jumat, 30 Oktober 2026.
Heri Lentho (kanan) sutradara Parade Surabaya Juang 2026 saat memaparkan alur cerita dalam jumpa pers, Jumat 29/10/2026. (Foto: Sutejo Rc/ketik.com)
Dalam parade nanti, perjalanan Soegiarto akan divisualisasikan melalui adegan teatrikal, mulai dari aktivitasnya sebagai pemain sepak bola hingga keputusannya bergabung dalam perjuangan melawan Sekutu.
Persebaya juga akan hadir dalam barisan parade dengan membawa trofi Piala Presiden, disusul partisipasi tim futsal Bintang Timur Surabaya.
Sutradara Parade Surabaya Juang 2026, Heri Lentho, menjelaskan setiap kelompok peserta akan menampilkan atraksi dan koreografi sepanjang rute dari Tugu Pahlawan menuju Balai Pemuda.
Selain teatrikal perjuangan, penonton juga akan disuguhi koreografi laskar bambu runcing serta visualisasi prestasi olahraga Persebaya dan Bintang Timur Surabaya dalam barisan Surabaya Hebat.
Bahkan untuk menambah suasana heroik, akan ada beberapa ledakan dibeberapa titik yang menggunakan bahan TNT, "Ledakan terbesar akan ditempatkan sekitar gedung Siola, sehingga nantinya penonton akan merasakan dentuman bom yang sebenarnya," papar Heri Lentho.
Kepala Bidang Kebudayaan Disbudporapar Surabaya, Ridzotullahmad Nurchakim, menambahkan Parade Surabaya Juang juga menjadi sarana memperluas promosi wisata sejarah dan budaya ke pasar internasional.
Pemkot menggandeng sejumlah hotel untuk menyebarluaskan informasi kegiatan kepada tamu, sekaligus mengundang perwakilan kedutaan negara sahabat.
Para narasumber saat jumpa pers dari kanan Edo, Hanang, Irwan dan Yudho selalu pembawa acara. (Foto: Sutejo Rc/ketik.com)
Parade ini bahkan telah diajukan untuk masuk dalam Kharisma Event Nusantara (KEN) 2027 dan sedang melalui proses verifikasi Kementerian Pariwisata.
Dari sisi penyelenggaraan, parade tahun ini melibatkan 2.150 peserta, termasuk 375 reenactor dari berbagai daerah.
Antusiasme internasional juga terlihat dari pendaftaran peliputan oleh dua stasiun televisi asal Prancis dan Korea.
Selain promosi wisata, kegiatan ini diharapkan menggerakkan perekonomian masyarakat melalui kebutuhan transportasi, penginapan peserta luar daerah, serta pelibatan UMKM bersama Kecamatan Genteng.
Untuk mendukung kenyamanan dan keamanan pengunjung, Dinas Perhubungan Kota Surabaya menyiapkan 14 titik parkir di sekitar kawasan kegiatan.
Kepala Bidang Pengawasan dan Pengendalian Dishub Surabaya, Hanang Prasetyo Adi, menyebut lokasi parkir tersebut meliputi: Gedung Siola, eks Pasar Tunjungan (Seiko), Jalan Embong Malang sisi utara, Jalan Genteng Kali di depan masjid, Jalan Genteng Kali depan Bank Mandiri–Resto Bima, Jalan Gemblongan sisi kanan, Jalan Praban sisi kiri, Jalan Genteng Besar sisi barat setelah pertigaan Pasar Genteng, Jalan Kenari, Parkir Tugu Pahlawan, Jalan Bubutan sisi kanan, Jalan Kebon Rojo, Jalan Pasar Besar Wetan, serta Jalan Taman Apsari.
Pengunjung diimbau membayar parkir menggunakan uang tunai atau voucher dan tidak memarkir kendaraan sembarangan di luar lokasi yang telah disediakan.
Melalui Parade Surabaya Juang 2026, Pemkot Surabaya ingin menghadirkan sejarah bukan sekadar sebagai cerita masa lalu, melainkan pengalaman yang bisa disaksikan dan dirasakan generasi sekarang.
Kisah Soegiarto menjadi pesan kuat bahwa semangat “Surabaya Wani” tidak hanya lahir dari para pejuang bersenjata, tetapi juga dari mereka yang berani meninggalkan profesi dan kenyamanannya demi kemerdekaan bangsa. (*)
