KETIK, MALANG – Universitas PGRI Kanjuruhan Malang (Unikama) mendorong mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) tidak hanya menyelesaikan program kerja, tetapi juga memastikan manfaatnya dapat terus dirasakan masyarakat.
Hal itu menjadi perhatian dalam monitoring dan evaluasi (monev) KKN di Desa Wonokerso, Kecamatan Pakisaji, Kabupaten Malang, Selasa, 18 Agustus 2026.
Monev yang dilakukan Direktorat Pembelajaran, Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (DP3M) Unikama tersebut dihadiri Rektor Unikama Prof. Dr. Sudi Dul Aji, M.Si., Dekan Fakultas Bahasa dan Sastra (FBS) Rusfandi, S.Pd., MA., Ph.D., serta Kepala Pusat Pengembangan Pembelajaran dan Magang Dr. Agus Sholeh, S.Pd., M.Pd.
Koordinator Desa (Kordes) Wonokerso, M. Rif'an Rizqi, mengatakan pelaksanaan KKN sejauh ini berjalan baik. Mahasiswa tidak hanya menjalankan program yang telah disusun, tetapi juga menyesuaikannya dengan potensi dan kebutuhan masyarakat.
Tiga program unggulan yang dikembangkan yakni digitalisasi UMKM, pembuatan Bokashi Plus, dan budidaya maggot. Dalam digitalisasi UMKM, mahasiswa mendampingi pelaku usaha memanfaatkan QRIS, Nomor Induk Berusaha (NIB), Google Maps, dan Linktree.
Sementara Bokashi Plus dan budidaya maggot masih dalam tahap pengembangan. Khusus Bokashi Plus, program tersebut muncul setelah mahasiswa menemukan potensi pertanian di Desa Wonokerso yang dinilai dapat dikembangkan.
Selain menjalankan program utama, mahasiswa juga aktif dalam berbagai kegiatan masyarakat, mulai dari Posyandu, TPQ, administrasi kantor desa, bersih dusun, hingga menjadi panitia perlombaan dan jalan sehat.
“Kami juga membantu kegiatan Posyandu, TPQ, piket kantor desa dalam membantu administrasi, bersih dusun, serta menjadi panitia perlombaan dan jalan sehat di RT 09 Dusun Wonokerso,” kata Rif'an.
Mahasiswa juga berkolaborasi dengan Balai Penyuluhan Pertanian (BPP) Pakisaji dalam Gerakan Tanam Demplot PMAAS (Pertanian Modern Agriculture Advanced System). Kegiatan ini menjadi pengalaman langsung bagi mahasiswa dalam mengenal penerapan pertanian modern.
Rektor Unikama Prof. Dr. Sudi Dul Aji, M.Si. menegaskan, monev dilakukan untuk memastikan mahasiswa mendapatkan pengalaman nyata selama berada di tengah masyarakat.
“Tujuan kami melakukan kunjungan monev adalah untuk memastikan apakah mahasiswa kami yang melakukan KKN sudah benar-benar mendapatkan pengalaman di masyarakat,” ujar Prof. Sudi.
Ia juga meminta mahasiswa memikirkan keberlanjutan setiap program yang dibuat. Menurutnya, program seperti Bokashi Plus tidak cukup hanya menghasilkan produk, tetapi harus memiliki manfaat yang dapat diteruskan masyarakat setelah KKN berakhir.
“Tidak hanya sekadar Saudara membuat pupuk plus itu, tapi bagaimana kelanjutan kebermanfaatannya. Kalau mungkin sekarang dalam jumlah kecil langsung saja dipakai oleh petani, tapi kalau nanti menjadi besar seperti apa? Nah, ini juga menjadi pemikiran-pemikiran Saudara seperti apa selanjutnya,” jelasnya.
Prof. Sudi menilai kondisi Desa Wonokerso yang berada di antara karakter pedesaan dan perkotaan membuka peluang bagi mahasiswa untuk menggali berbagai potensi. Ia juga mendorong mahasiswa dari berbagai disiplin ilmu untuk menggabungkan kompetensinya dalam menyusun program.
“Kalau melihat jumlah mahasiswa kita yang dikirim ke desa, 30 dari multidisiplin. Barangkali dari situ bisa kita buat program yang dari masing-masing keahlian bisa mengembangkan pikirannya, bisa menyumbangkan ide gagasannya untuk secara multidisiplin kita kemas,” ungkapnya.
Sementara itu, Kepala Desa Wonokerso Nariyadi, S.Sos., mengapresiasi kontribusi mahasiswa KKN Unikama. Ia menilai mahasiswa mampu beradaptasi dan terlibat dalam berbagai kegiatan masyarakat.
“Kami juga sangat terbantu dengan kehadiran anak-anak di sini. Mudah-mudahan di tahun-tahun depan ada lagi KKN dari Unikama yang di Desa Wonokerso ini,” tuturnya.
Nariyadi berharap kerja sama dengan Unikama dapat berlanjut setelah KKN selesai. Ia bahkan membuka peluang agar program pengabdian kepada masyarakat yang dilakukan dosen Unikama dapat diarahkan ke Desa Wonokerso.
“Kami juga menginginkan bilamana ada pengabdian masyarakat dosen, bisa diarahkan ke Desa Wonokerso,” katanya.
Dengan masa KKN yang masih berjalan, mahasiswa diharapkan memperkuat koordinasi dengan pemerintah desa dan masyarakat. Program yang telah dirintis pun didorong agar tetap berjalan meski mahasiswa nantinya kembali ke kampus.
“Saudara tidak sekadar membuat, tetapi bagaimana Saudara nanti bisa mengajak warga, pengurus kepemudaan untuk nanti bisa melanjutkan. Ada training, ada pembekalan bagi mereka. Begitu nanti Saudara tinggalkan, ini masih bisa berjalan,” tegas Prof. Sudi.(*)
.png)