KETIK, MALANG – Universitas Negeri Malang (UM) menggelar bedah buku "Irian Barat: Intrik Global dalam Bayang-Bayang Pembunuhan Kennedy" karya Yusron Ihza Mahendra pada Senin, 5 Oktober 2026 di Ruang Baca Du Xiu Shu.
Kegiatan ini berlangsung pukul 08.30–12.00 WIB dan menghadirkan Rektor UM Prof. Dr. Hariyono, M.Pd., narasumber Indah Wahyu Puji Utami, serta moderator Nora Titahning Ayudha dengan tujuan untuk mengajak sivitas akademika mengkaji sejarah Irian Barat dalam kaitannya dengan dinamika geopolitik dan perubahan politik global.
Buku tersebut mengangkat sejarah Irian Barat dalam latar Perang Dingin, persaingan ideologi, serta kepentingan ekonomi dan politik internasional. Melalui perpaduan fakta dan fiksi, Yusron menghadirkan narasi yang menghubungkan berbagai peristiwa di Indonesia dengan dinamika global, termasuk pembunuhan Presiden Amerika Serikat John F. Kennedy pada 1963.
Dalam sambutannya, Prof. Dr. Hariyono, M.Pd., menyampaikan apresiasi kepada Yusron Ihza Mahendra atas keberhasilannya menghadirkan perspektif yang dapat memperluas wawasan pembaca.
Menurutnya, karya semacam ini penting dibaca agar sivitas akademika tidak memandang suatu peristiwa secara terpisah, tetapi mampu memahami keterkaitan berbagai peristiwa pada tingkat nasional dan global.
“Bagaimana kita bisa mengembangkan cakrawala kalau cakrawala kita masih sempit,” ujar Prof. Hariyono.
Menurutnya, buku Irian Barat menarik sebab mengajak pembaca untuk bisa melihat persoalan Indonesia dalam konteks yang lebih luas. Buku ini tidak hanya dapat dipahami sebagai persoalan antara Papua dan Jakarta, tetapi juga perlu dilihat dari kemungkinan keterkaitannya dengan kepentingan dan kekuatan global.
Prof. Hariyono juga menegaskan bahwa perguruan tinggi memiliki peran penting dalam membangun pemikiran kritis. UM tidak seharusnya hanya berdasarkan pada pencapaian peringkat sebagai perguruan tinggi, tetapi juga harus me jadi bagian dalam menciptakan wacana publik dengan memperluas pemahaman masyarakat terhadap persoalan global.
“Ketika kita ingin UM menjadi kampus besar, kampus yang ikut berpengaruh dalam wacana, problemnya bukan hanya kita masuk peringkat berapa, tetapi bagaimana kita memahami kekuatan global yang bermain,” tutur Prof. Hariyono.
Sementara itu, Yusron Ihza Mahendra menjelaskan bahwa Irian Barat merupakan karya yang memadukan referensi sejarah dengan unsur fiksi.
Sekitar 65–70 persen materi dalam novel ini bersumber dari berbagai referensi, sementara bagian lainnya merupakan fiksi yang digunakan untuk membangun alur dan menghadirkan nuansa nyata dari sastra bagi pembaca.
“Tanpa fiksi, bagaimana saya bisa membangun ceritanya,” jelas Yusron.
Pengalaman Yusron dalam dunia wartawan selama sekitar satu dekade, peneliti, dan penulis menjadi bekal dalam proses kreatifnya dalam menyusun novel. Ia mengatakan penulisan novel memiliki tantangan tersendiri karena tidak hanya membutuhkan referensi, tetapi juga imajinasi untuk mengolah peristiwa nyata menjadi cerita yang dapat dinikmati pembaca.
Menurut Yusron, penentuan referensi menjadi bagian penting dalam proses penulisan. Sehingga, narasi yang dikembangkan tetap memiliki pijakan. Karena itu, ia melengkapi sejumlah bagian dalam novel dengan catatan kaki dan rujukan yang mendukung materi yang diangkat.
Kegiatan bedah buku tersebut tidak hanya menjadi forum untuk memperkenalkan karya sastra dan sejarah, tetapi juga membuka ruang diskusi bagi sivitas akademika untuk membahas terkait hubungan antara sejarah Indonesia, ekonomi politik, penanaman modal asing, dan dinamika kekuatan global.
Kegiatan ini sejalan dengan Sustainable Development Goal (SDG) 4: Pendidikan Bermutu, khususnya dalam mendorong budaya belajar, penguatan literasi, serta pengembangan kemampuan berpikir kritis melalui ruang pembelajaran di luar kelas.
Melalui kegiatan ini, UM menegaskan perannya sebagai ruang akademik yang mendorong tumbuhnya budaya literasi dan dialog intelektual.
Bedah buku Irian Barat diharapkan tidak berhenti pada pemahaman terhadap sebuah karya, tetapi menjadi pemantik bagi sivitas akademika untuk terus membaca, mempertanyakan, dan melihat berbagai persoalan dari cakrawala yang lebih luas.(*)
