KETIK, MALANG – Kampung Cempluk yang digelar oleh warga Desa Kalisongo, Kabupaten Malang hadir kembali dengan konsep mengangkat budaya sekitar yang disukseskan oleh para muda mudi. Dengan tema "Bumi Adhikarya Paramartha", acara ini memiliki pesan pemanfaatan hasil bumi untuk kemaslahatan bersama.
Mohammad Ridwan, Ketua Pelaksana Kampung Cempluk ke-16 menyampaikan bahwa warga Desa Kalisongo memiliki banyak kos. Karenanya, banyak para pemuda dan pemudi yang tinggal di desa ini, khususnya mahasiswa.
"Kami menggunakan format yang sama yaitu event swadaya masyarakat. Jadi, di mana keseluruhan dari acara ini disukseskan oleh muda-mudi dan warga itu sendiri," ujarnya.
Pasalnya, Desa Kalisongo dekat dengan kampus 2 Universitas Brawijaya (UB). Tak heran jika banyak warga Desa Kalisongo yang membuka rumah kos untuk memberikan tempat tinggal bagi para mahasiswa rantauan.
Dari hal tersebut, para pemuda dan pemudi Desa Kalisongo memberikan kesempatan bagi para mahasiswa untuk bisa ikut berpartisipasi dalam kegiatan desa. Salah satunya adalah gelaran Kampung Cempluk.
Ridwan menjelaskan bahwa dalam mengadakan kampung budaya ini, ia membuka volunteer bagi mahasiswa untuk bisa bergabung menjadi panitia penyelenggara Kampung Cempluk. Tentunya ini menjadi bentuk upaya untuk saling merangkul warga sekitar, meski mereka adalah pendatang.
"Karena kita maksudnya kampung lingkar kampus, jadi kita juga membuka volunteer. Itu untuk menarik bagaimana mahasiswa luar ini menilik bagaimana event yang ada di kampung ini, seperti itu, juga turut membantu mensukseskan acara ini," jelas Ridwan.
Tak hanya itu, Desa Kalisongo juga dikelilingi oleh banyak sumber air, di mana saat pra acara telah digelar prosesi tirta yatra, kegiatan mengunjungi sumber mata air oleh para panitia pelaksana. Hal ini dilakukan sebagai wujud rasa syukur atas kekayaan alam yang dimiliki oleh Desa Kalisongo.
Penampilan kesenian di Kampung Cempluk. (Foto: Aliyah/Ketik.com)
Kampung Cempluk ke-16 ini menghadirkan 145 stan dari para warga Desa Kalisongo. Ridwan mengungkapkan bahwa kegiatan ini juga memberikan peningkatan ekonomi bagi para warga.
Ia juga menegaskan bahwa dengan diselenggarakannya Kampung Cempluk setiap tahun, tentunya akan akan meningkatkan value pada desa.
Ridwan menyampaikan bahwa stan-stan yang berdiri memang diprioritaskan untuk para warga sekitar terlebih dahulu. Hal ini menjadi dukungan untuk masyarakat Desa Kalisongo untuk berjualan.
"Jadi memang untuk stand sendiri kita prioritaskan masyarakat sekitar sebagai UMKM sekitar untuk berjualan dulu seperti itu," tuturnya.
Dengan sinergi atar warga, selama 16 tahun, Kampung Cempluk selalu sukses digelar. Menurut Ridwan, kekuatan kebersamaan antar warga menjadi kekuatan yang dapat mempertahankan Kampung Cempluk.
Kampung Cempluk ke-16 diselenggarakan sejak 18 hingga 24 Oktober 2026 dengan rangkaian kegiatan yang cukup menarik. Diawali dengan pawai budaya oleh seluruh warga pada momen pembukaan.
Sampai tanggal 24 Oktober 2026, stan UMKM akan terus ada. Serta beberapa hari akan ada penampilan kesenian budaya, mulai dari tari tradisional hingga musik kontemporer. Di hari terakhir, Kampung Cempluk akan ditutup dengan prosesi yang berkesan.
Kegiatan penampilan kesenian budaya juga disambut antusias masyarakat yang cukup tinggi. Masyarakat desa hingga umum turut meramaikan acara dengan penampilan hiburan. Ridwan menjelaskan jika pawai budaya dan panggung kesenian diikuti oleh lebih dari 500 orang.
Ridwan berharap Kampung Cempluk bisa menjadi kegiatan kampung festival yang bisa diberdayakan oleh masyarakat, di mana kampung menjadi lebih bervalue.
"Harapannya dari Kampung Jemput ke-16 ini kita berusaha bagaimana Kampung Cempluk Festival ini tetap menjadi event yang diberdayakan oleh masyarakat sendiri yang mana membuat kampung ini itu lebih bervalue. Jadi untuk masyarakat," ucap Ridwan penuh harapan.(*)
