KETIK, JAKARTA – Marc Marquez menjalani salah satu balapan paling sulit musim ini di MotoGP Austria 2026. Start dari baris depan, rider Ducati Lenovo Team tersebut justru harus berjuang keras hingga akhirnya finis kelima di Red Bull Ring, Minggu (20/9/2026).
Hasil tersebut sebenarnya masih membuat Marc menjadi pembalap Ducati terbaik di garis finis. Namun, dengan Jorge Martin finis kedua dan Pedro Acosta meraih kemenangan, posisi Marc di puncak klasemen dunia akhirnya kembali tergeser.
Martin kini memimpin dengan 306 poin, unggul 12 poin atas Marc yang mengoleksi 294 poin. Marco Bezzecchi berada di posisi ketiga dengan 264 poin.
Yang membuat P5 Marc terasa berbeda adalah masalah teknis yang menghantuinya hampir sepanjang paruh pertama balapan.
Start Buruk, Masalah Rem Muncul
Marc mengawali balapan dari posisi kedua, tetapi langsung kehilangan beberapa posisi setelah lampu start padam.
Ia turun ke posisi kelima pada lap pertama, sementara di depan Jorge Martin, Marco Bezzecchi, dan Pedro Acosta mulai membentuk rombongan terdepan.
Namun persoalan Marc bukan hanya kehilangan posisi.
Sejak lap pertama, ia mulai merasakan sesuatu yang tidak beres dengan rem depan Ducati-nya.
Titik gigitan tuas rem berubah-ubah pada setiap pengereman. Kondisi tersebut membuat Marc tidak bisa memprediksi secara konsisten kapan rem akan bekerja dengan normal.
“Sejak lap pertama saya melihat ada sesuatu yang terjadi pada rem depan. Setiap pengereman, tuas berada di posisi yang berbeda dan saya melakukan kesalahan tanpa benar-benar melakukan kesalahan,” ujar Marc seperti dilansir Sky Sport.
Masalah itu sangat berpengaruh di Red Bull Ring.
Sirkuit Austria memiliki beberapa zona pengereman keras, terutama menuju Tikungan 1, 3, dan 4. Ketika respons rem tidak konsisten, Marc praktis harus menebak bagaimana motor akan bereaksi setiap kali menarik tuas.
“Saya Mengerem, Tapi Tidak Ada Rem," ucap Marquez.
Situasi kemudian mencapai titik paling mengkhawatirkan di Tikungan 1. Marc mengerem, tetapi tuas terasa kosong. Akibatnya, ia melebar jauh dan kehilangan beberapa posisi.
“Saya mengerem dan tuasnya kosong. Tidak ada apa-apa. Karena itu saya melebar sangat jauh, bukan sedikit,” ungkap Marc seperti dilansir Motorsport.com.
Insiden tersebut membuat Marc semakin kehilangan momentum. Ia bahkan sempat turun hingga posisi ketujuh sebelum perlahan mulai menemukan kembali ritmenya.
Yang menarik, Marc mengaku sempat berpikir untuk mengakhiri balapan lebih awal.
"Hari ini kami sangat beruntung. Pada satu titik saya melihat dan berpikir, ‘Oke, saya tidak bisa melanjutkan," jelasnya.
Namun kemudian sesuatu berubah. Rem depan Ducati-nya mulai kembali bekerja dengan lebih konsisten.
Rem Kembali Normal, Marc Mulai Bangkit. Memasuki paruh kedua balapan, Marc mulai mendapatkan kembali kepercayaan dirinya.
Setelah sebelumnya harus berhati-hati di setiap pengereman, ia akhirnya bisa kembali menyerang.
Satu demi satu posisi mulai direbut.
Marc melewati Brad Binder dan kemudian Fermin Aldeguer untuk kembali naik ke posisi kelima. Namun masalah yang terjadi pada awal balapan sudah membuatnya kehilangan terlalu banyak waktu.
Pedro Acosta sudah terlalu jauh di depan. Jorge Martin dan Marco Bezzecchi juga sedang bertarung memperebutkan posisi kedua.
Marc akhirnya melewati garis finis 7,3 detik di belakang Acosta. Bagi Marc, posisi kelima sebenarnya sudah mendekati batas maksimal dari apa yang bisa ia dapatkan hari itu.
"Saya merasa sangat beruntung karena hari ini posisi maksimal kami mungkin kedua atau ketiga, tetapi akhirnya kami finis kelima,” ujar Marc.
Ducati Masih Punya Pekerjaan Rumah
Masalah rem memang menjadi faktor terbesar dalam balapan Marc, tetapi Ducati juga tidak tampil sekuat biasanya di Austria.
Acosta membawa KTM meraih kemenangan, sementara tiga posisi setelahnya ditempati Aprilia: Martin, Bezzecchi, dan Ai Ogura.
Marc akhirnya menjadi pembalap Ducati terbaik di P5, diikuti Brad Binder P6 dan Francesco Bagnaia P7.
Sebelumnya, Marc juga sudah menyoroti kesulitan Ducati dengan karakter ban belakang Michelin yang digunakan di Red Bull Ring.
Namun ia tidak ingin menjadikan ban sebagai alasan.
“Pada akhirnya sama untuk semua orang. Memang benar kami harus bekerja dengan baik karena di Thailand kami kesulitan, dan di sini kami juga kesulitan,” kata Marc seperti dilansir Motorsport.com.
Bagi Ducati, persoalan ini menjadi semakin penting karena beberapa seri berikutnya akan kembali menggunakan karakter ban yang membuat mereka kesulitan.
Gelar Juara Dunia Mulai Berubah Arah
Yang paling terasa dari hasil Austria tentu saja klasemen. Sebelum akhir pekan ini, Marc masih berada di puncak. Namun setelah Sprint dan balapan utama, Martin berhasil mengambil kembali posisi teratas.
Martin mengumpulkan 32 poin sepanjang akhir pekan dari kemenangan Sprint dan finis kedua di race utama. Marc hanya memperoleh 15 poin setelah finis kedua di Sprint dan kelima pada Minggu.
Hasilnya, Martin kini unggul 12 poin. Tetapi perebutan gelar belum hanya menjadi urusan dua pembalap tersebut.
Bezzecchi masih berada di posisi ketiga dengan 264 poin, sementara Acosta mendapatkan tambahan 25 poin penting dari kemenangan perdananya dan kini semakin dekat dengan kelompok teratas.
Marc sendiri justru menilai persaingan gelar masih sangat terbuka. “Ada empat pembalap yang bertarung untuk gelar,” ujarnya seperti dilansir GPOne.
Austria akhirnya menjadi akhir pekan yang harus diterima Marc dengan cara yang tidak mudah. Ia datang sebagai pemimpin klasemen, sempat finis kedua di Sprint, tetapi kemudian menghadapi masalah rem yang membuatnya kehilangan banyak waktu pada balapan utama.
Namun ada satu hal yang tetap berhasil dilakukan Marc: Ia membawa Ducati sampai garis finis.
Dan ketika championship fight memasuki fase akhir musim, 11 poin dari posisi kelima mungkin tetap jauh lebih berharga daripada pulang tanpa membawa angka sama sekali. (*)
