KETIK, JAKARTA – Mahasiswa yang akan mengikuti aksi unjuk rasa di kawasan Tugu Tani, Jakarta, Selasa, 20 Oktober 2026 tidak akan memakai almamater. Langkah ini dilakukan agar mahasiswa bisa lebih membaur dengan masyarakat sipil.
Koordinator Sosial dan Politik BEM UI, Hafidz Hernanda, mengatakan aksi tersebut tidak hanya melibatkan mahasiswa, tetapi juga berbagai elemen masyarakat sipil. Karena itu, peserta memilih tidak menggunakan identitas kampus agar gerakan lebih inklusif.
“Kali ini kawan-kawan dari BEM UI akan mengadakan aksi tidak menggunakan almamater sama sekali, bersama teman-teman mahasiswa. Biar kita bisa lebih inklusif dan bisa lebih membaur dengan masyarakat sipil,” kata Hafidz.
Menurut Hafidz, mahasiswa bukan satu-satunya pihak yang berhak menyampaikan kritik terhadap pemerintah. Masyarakat juga memiliki peran dalam mengawasi dan mengevaluasi jalannya pemerintahan.
Ia menilai, semangat perubahan dan kontrol sosial tidak hanya melekat pada mahasiswa, tetapi juga bisa dilakukan seluruh masyarakat yang merasa mengalami ketidakadilan.
“Pada sejatinya kitalah yang seharusnya bisa bersuara lebih. Saya rasa tentang mitologisasi yang ada kepada mahasiswa, seperti agent of change, social control, dan sebagainya, semua orang di Indonesia yang saat ini di bawah penindasan bisa melakukan hal tersebut,” ujarnya.
Melalui aksi ini, ia mengajak masyarakat untuk bersama-sama mengevaluasi dua tahun pemerintahan Prabowo Subianto-Gibran Rakabuming Raka. Menurutnya, masih ada tiga tahun masa pemerintahan yang perlu menjadi perhatian publik.
Hafidz memperkirakan sekitar 500 hingga 700 orang akan mengikuti aksi tersebut. Massa berasal dari sejumlah perguruan tinggi dan elemen masyarakat sipil yang sebelumnya telah melakukan konsolidasi.
Mahasiswa yang dikabarkan ikut serta antara lain berasal dari Universitas Lambung Mangkurat, Universitas Brawijaya, Universitas Gadjah Mada, Politeknik Negeri Jakarta, Universitas Diponegoro, UPN Veteran Yogyakarta, Institut Teknologi Bandung, dan Universitas Airlangga. (*)
