KETIK, JAKARTA – Harga bahan bakar minyak (BBM) di Iran menjadi perhatian. Berdasarkan konversi tarif BBM bersubsidi, harga bensin di negara tersebut setara sekitar Rp198 per liter.
Mengacu pada laporan Reuters, pemerintah Iran menerapkan sistem harga BBM bertingkat berdasarkan jumlah konsumsi.
Pengendara mendapatkan kuota 60 liter pertama setiap bulan dengan harga 15.000 rial Iran per liter.
Jika dikonversikan menggunakan kurs referensi pada Jumat, 30 Oktober 2026, tarif tersebut setara sekitar Rp198 per liter.
Sementara itu, 50 liter berikutnya dikenakan tarif 30.000 rial atau sekitar Rp396 per liter.
Adapun konsumsi di atas 110 liter dikenakan harga 100.000 rial per liter atau setara sekitar Rp1.320.
Sistem tersebut merupakan bagian dari kebijakan pemerintah untuk menjaga keterjangkauan energi bagi masyarakat sekaligus membatasi konsumsi BBM berlebihan.
Salah satu faktor utama murahnya BBM di Iran adalah besarnya sumber daya minyak dan gas yang dimiliki negara tersebut.
Negara tersebut memiliki cadangan minyak dan gas alam dalam jumlah besar sehingga sektor energi menjadi salah satu penopang utama perekonomiannya.
Berdasarkan data Badan Informasi Energi Amerika Serikat (EIA), Iran menempati posisi ketiga dunia untuk cadangan minyak terbukti dan posisi kedua untuk cadangan gas alam pada 2023.
Kekayaan sumber daya tersebut memberikan Iran akses terhadap pasokan energi domestik dalam jumlah besar.
Pemerintah kemudian mempertahankan harga BBM dalam negeri melalui kebijakan subsidi sehingga masyarakat tidak harus membayar bensin mengikuti harga pasar internasional.
Selain itu, pelemahan mata uang rial juga membuat harga BBM Iran terlihat semakin murah ketika dikonversikan ke mata uang asing, termasuk rupiah.
Nilai nominal harga BBM yang dipertahankan pemerintah menjadi sangat kecil jika dibandingkan dengan nilai tukar mata uang internasional.
Namun, kebijakan harga murah tersebut bukan tanpa konsekuensi.
Iran justru menghadapi persoalan meningkatnya konsumsi BBM yang tidak selalu sebanding dengan kemampuan produksi dalam negeri.
Iran Open Data dalam laporan 20 September 2026 menyebut konsumsi bensin Iran mencapai sekitar 134 juta liter per hari.
Sementara itu, produksi kilang konvensional belum mampu memenuhi seluruh kebutuhan tersebut.
Kondisi tersebut membuat Iran masih membutuhkan impor bensin untuk menutup kekurangan pasokan.
Nilai impor bensin bahkan meningkat dari 197 juta dolar AS pada periode Maret 2021 hingga Maret 2022 menjadi lebih dari 2,9 miliar dolar AS pada periode Maret 2025 hingga Maret 2026.
Persoalan lainnya adalah penyelundupan BBM ke negara-negara tetangga.
Perbedaan harga yang sangat jauh antara BBM bersubsidi di Iran dan harga di negara sekitar menciptakan celah keuntungan bagi praktik penyelundupan.
Iran Open Data memperkirakan sekitar 8 juta hingga 10 juta liter bensin diselundupkan keluar Iran setiap hari, terutama menuju Pakistan dan Afghanistan.
Pemerintah Iran pun mulai melakukan penyesuaian kebijakan harga.
Pada September 2026, tarif untuk konsumsi di atas kuota 110 liter dinaikkan menjadi 100.000 rial per liter.
Sementara itu, harga untuk kuota pertama dan kedua tetap dipertahankan.
Murahnya BBM di Iran sebelumnya juga dibuktikan oleh pasangan suami istri asal Aceh, T. Faisal Laksamana (65) dan dr. Indriati (61).
Mereka membagikan pengalaman mereka selama melakukan perjalanan keliling dunia menggunakan mobil pribadi.
Dalam pemberitaan ANTARA, Jumat, 30 Oktober 2026, keduanya menyebut harga bensin RON 90 yang dibeli di Iran setara sekitar Rp1.500 per liter.
Sementara itu, air mineral dalam kemasan botol besar di supermarket dibanderol sekitar Rp4.000.
Perbedaan harga tersebut membuat BBM di Iran dinilai lebih murah dibandingkan air mineral kemasan.(*)
