KETIK, JAKARTA – Rupiah ditutup melemah ke level Rp18.083 per dolar Amerika Serikat pada perdagangan Selasa, 28 Juli 2026. Kondisi ini membuat mata uang Garuda menjadi yang terlemah di kawasan Asia.

Data Bloomberg menunjukkan bahwa rupiah ditutup turun 0,41 persen dibandingkan penutupan perdagangan sebelumnya yang berada di level Rp18.009 per dolar AS.

Menurut Analis Doo Financial Futures, Lukman Leong, pelemahan rupiah tidak lepas dari pengunduran diri Gubernur Bank Indonesia, Perry Warjiyo yang dinilai memicu kekhawatiran pelaku pasar terhadap kebijakan moneter Indonesia.

"Rupiah ditutup melemah terhadap dolar AS di tengah sentimen negatif oleh pengunduran diri Warjiyo sebagai gubernur BI," ujar Lukman seperti dilansir Suara.com, jaringan Ketik.com. 

Tidak hanya faktor sentimen negatif dalam negeri, rupiah juga tertekan akibat menguatnya ekspektasi pasar bahwa bank sentral AS atau The Fed akan tetap mempertahankan kebijakan moneter yang ketat.

Baca Juga:
Pengganti Perry Warjiyo Diminta Jaga Independensi Bank Indonesia di Tengah Tekanan Global

"Rupiah masih tertekan karena tekanan dolar yang menguat oleh ekspektasi sikap hawkish The Fed dalam pertemuan FOMC besok," jelas Lukman.

Selain rupiah, sejumlah mata uang di kawasan Asia juga mengalami pelemahan. Dolar Singapura turun 0,15 persen, dolar Taiwan melemah 0,34 persen, kemudian ringgit Malaysia dan bath Thailand yang terkoreksi 0,08 dan 0,07 persen.

Kendati demikian, di tengah melemahnya sejumlah mata uang di kawasan Asia, kondisi sebaliknya justru ditunjukkan won Korea Selatan. Mata uang Negeri Gingseng ditutup menguat 0,31 persen terhadap dolar AS.(*)

Baca Juga:
Independensi Bank Indonesia Jadi Sorotan Usai Perry Warjiyo Mundur, Arah Kebijakan Otoritas Moneter Dinanti