KETIK, SLEMAN – Dinas Kesehatan Kabupaten Sleman merangkul institusi perguruan tinggi untuk memperluas jangkauan program Cek Kesehatan Gratis (CKG).

Langkah ini diambil untuk mengejar target capaian nasional sekaligus mengoptimalkan potensi Sleman sebagai pusat pendidikan tinggi yang dihuni puluhan ribu mahasiswa, dosen, dan tenaga kependidikan.

Plt. Kepala Dinas Kesehatan Sleman Ir Dwi Anta Sudibya MT menyampaikan bahwa CKG merupakan bentuk terobosan pemerintah untuk mendorong kebiasaan masyarakat dalam memeriksakan kondisi fisik secara berkala. Pemeriksaan ini menitikberatkan pada tindakan pencegahan penyakit sejak dini.

"CKG merupakan inovasi baru untuk meningkatkan kesadaran masyarakat dalam melakukan pemeriksaan kesehatan secara berkala dan memperluas jangkauan pemeriksaan kesehatan," kata Sudibya, Rabu, 23 September 2026.

Ia menjelaskan, program CKG sejalan dengan agenda besar pembangunan Sumber Daya Manusia (SDM) yang tertuang dalam delapan Misi Asta Cita Presiden.

Baca Juga:
Mendag Budi Santoso Sidak Pasar Potrojayan Sleman, Pastikan Harga Pangan Stabil dan Pasokan Aman

Melalui misi tersebut, Kementerian Kesehatan RI mendapat mandat mengawal tiga Program Hasil Terbaik Cepat (PHTC), yaitu pembangunan rumah sakit berkualitas di seluruh kabupaten, penekanan kasus tuberkulosis hingga 50 persen dalam jangka waktu lima tahun, serta pelaksanaan CKG secara menyeluruh.

"CKG dilaksanakan melalui pendekatan siklus hidup, dimulai sejak bayi baru lahir hingga lanjut usia. Pendekatan ini difokuskan pada upaya promotif dan preventif yang bersifat holistik, terintegrasi, dan berbasis kelompok sasaran.

CKG ditujukan untuk mendeteksi faktor risiko kesehatan, kondisi pra-penyakit, serta penyakit dengan tujuan meningkatkan kualitas hidup dan angka harapan hidup masyarakat Indonesia," ujar Sudibya.

Dinas Kesehatan Kabupaten Sleman menggelar Bimtek Kampus Sehat bersama perwakilan perguruan tinggi dan puskesmas untuk memperkuat program Cek Kesehatan Gratis di Aula Wistara Dinkes Sleman. (Foto: Dinkes Sleman for Ketik.com)

Baca Juga:
Lantai Tiga Kosong, Pejabat Disperindag Sleman Bungkam Soal Sepinya Pasar Godean

Masyarakat dapat mengakses fasilitas ini tanpa dipungut biaya. Setiap warga berhak mendapat pemeriksaan satu kali dalam setahun, terhitung sejak hari ulang tahun hingga 30 hari setelahnya.

Skema pelaksanaannya terbagi ke dalam tiga kelompok sasaran utama. Pertama, kategori umum bagi bayi usia 2 hari hingga anak prasekolah usia 6 tahun, serta kelompok dewasa dan lansia mulai usia 18 tahun ke atas. Kedua,

CKG Sekolah bagi anak usia sekolah tingkat SD, SMP, SMA, atau sederajat (usia 7–17 tahun) yang terintegrasi dengan kegiatan Penjaringan Kesehatan pada setiap awal tahun ajaran baru.

Ketiga, CKG Khusus bagi ibu hamil, bayi, dan balita sesuai standar pelayanan Kesehatan Ibu dan Anak (KIA).

Layanan medis yang disediakan disesuaikan secara cermat dengan rentang usia penerima. Bagi bayi baru lahir, skrining meliputi deteksi dini hormon tiroid, defisiensi enzim G6PD, penyakit jantung bawaan, dan pemantauan pertumbuhan.

Balita dan anak prasekolah mendapatkan skrining TBC, penglihatan, pendengaran, kesehatan gigi, serta deteksi thalasemia dan diabetes melitus.

Sementara untuk kelompok remaja hingga lansia, pemeriksaan difokuskan pada tekanan darah, gula darah, kolesterol, kesehatan jiwa, fungsi organ tubuh, serta deteksi dini berbagai jenis kanker seperti kanker leher rahim, payudara, paru, dan usus.

Sasar Siklus Hidup dan Ekosistem Kampus

Sebagai langkah nyata, Dinas Kesehatan Sleman menggelar Bimbingan Teknis (Bimtek) Kampus Sehat, Rabu, 16 September 2026 sepekan lalu di Aula Wistara Dinkes Sleman. Forum ini difokuskan untuk membangun peran aktif civitas akademika dalam mendeteksi Penyakit Tidak Menular (PTM) dan penyakit katastropik seperti jantung, stroke, dan kanker secara dini.

Kepala Bidang Kesehatan Masyarakat Dinkes Sleman dr Seruni Angreni Susila MPH. menegaskan bahwa kolaborasi berbasis kampus menjadi kunci vital untuk mencapai target nasional CKG sebesar 46 persen. Integrasi program ke dalam ekosistem perguruan tinggi diyakini mampu mendongkrak capaian deteksi dini secara signifikan.

Kegiatan bimbingan teknis yang diprakarsai Tim Kerja Promosi Kesehatan dan Tata Kelola Kesehatan Masyarakat ini menghadirkan dr Novi Husmarini MSc SpKKLP dari Polkesyo sebagai narasumber.

Forum tersebut dihadiri oleh perwakilan LLDIKTI Wilayah V, 12 perguruan tinggi terkemuka di Sleman termasuk UGM, UII, UNY, UPN Veteran, UIN, AMIKOM, Unres, Unisa, Unjani, STIE YKPN, Unkris Immanuel, dan Polkesyo. Serta jajaran Kepala Puskesmas dari wilayah Depok 1, 2, 3, Gamping 1, 2, dan Ngemplak 1.

Pertemuan diakhiri dengan penyusunan Rencana Tindak Lanjut (RTL) untuk memperkuat gerakan kampus sehat secara berkelanjutan. (*)