KETIK, MALANG – Lahan seluas 71,25 hektar di Merjosari dan Kedungkandang, Kota Malang mulai ditanami bibit cabai. Diperkirakan bibit cabai yang ditanam mampu menghasilkan sekitar 71 ton cabai dalam sekali panen.
Kepala Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian (Dispangtan) Kota Malang, Slamet Husnan menjelaskan penanaman bibit cabai diawali di lahan Merjosari seluas 6.000 meter persegi. Sebanyak 4.000 benih cabai ditanam di sela-sela pohon jeruk.
"Di akhir tahun 2026 dan menjelang musim hujan. Kemarin ada 75 saset biji cabai kemudian disemai. Nanti musim hujan lahan yang sebelah timur itu ditanami juga," ujarnya, Rabu, 21 Oktober 2026.
Pemkot Malang sendiri memiliki 2 titik lokasi penanaman cabai di Merjosari sekitar 30 hektar, dan Kedungkandang 41,25 hektar. Nantinya bibit cabai yang berhasil tumbuh dapat berproduksi hingga 12 kali panen.
"Di setiap musim tanam biasanya cabai itu bisa 10 kali sampai 12 kali panen. Dan 1 hektarnya kurang lebih bisa 1 ton dalam satu tanam masa tanam. Kemudian jarak tanam panen pertama kedua itu kurang lebih 1 sampai 2 minggu," lanjutnya.
Baca Juga:
Cukup Dua Tahun! Aksi Demonstrasi Mahasiswa Kota Malang Dapat Dukungan MasyarakatKelurahan Merjosari memiliki ketersediaan air di tandon sehingga dapat ditanam ketika masih musim kemarau. Sementara itu, lahan yang tidak memiliki pasokan air dari tandon baru dapat mulai ditanami saat musim hujan tiba.
Slamet menyebut pasokan air yang berlebihan dapat memicu busuk akar akibat jamur, bahkan tanaman cabai mati. Kelembapan yang tinggi pun berpotensi memicu pertumbuhan jamur pada daun dan buah cabai.
"Untuk tanah sawah irigasi teknis ini hanya sedikit yang ditanami cabai hanya 1.700 meter persegi. Karena ada resiko kalau di lahan irigasi teknis, begitu musim hujan air berlebih malah mengalami busuk akar, muncul jamur di akar sehingga bisa mematikan pohon cabai. Kemudian jamur di daun maupun di buahnya," kata Slamet.
Kendati demikian Slamet menyebut total 71 ton cabai yang diproduksi belum dapat mencukupi kebutuhan di masyarakat. Kota Malang masih mengandalkan pasokan cabai dari Probolinggo, Jember, Lumajang, hingga Banyuwangi.
Baca Juga:
Lomba Kampung Mbois Jadi Langkah DLH Kota Malang Hidupkan Budaya Jaga Lingkungan"Kami melalui penyuluh pertanian, melalui bidang pertanian, melaksanakan pendampingan, monitoring, evaluasi setiap pertengahan tahun. Biasanya merencanakan kebutuhan pupuk di tahun berikutnya, kemudian terkena penyakit apa, nanti solusinya seperti apa. Lebih ke pendampingan monitoring dari penyuluh pertanian," pungkasnya.(*)