KETIK, MALANG – Selama 28 tahun, Siti Maimunah menjual barang elektronik bekas di Pasar Comboran Kota Malang. Dengan penghasilan yang tak menentu, ia tetap bersyukur dan masih bisa memenuhi kebutuhan hidupnya.

Kawasan Comboran memang telah dikenal sebagai pasar loak atau tempat membeli barang-barang bekas. Dengan harga yang cukup miring, pelanggan bisa mendapatkan barang-barang dengan merek cukup bagus. 

Salah satu pedagang yang telah puluhan tahun berjualan barang bekas di kawasan Comboran adalah Siti Maimunah. Sejak tahun 1998, ia bersama suami telah menawarkan beragam barang elektronik bekas yang telah diperbaiki. 

Ia menyebutkan beberapa barang yang ia jual, seperti kipas, mixer, blender, magic com, dan masih banyak lagi. Ia mengungkapkan bahwa barang-barang tersebut ia beli dengan kondisi rusak, setelah itu sang suami yang memperbaikinya dan kemudian dijual kembali. 

Barang-barang elektronik bekas yang dijual oleh Siti Maimunah di kawasan Comboran Malang. (Foto: Aliyah/Ketik.com)

Baca Juga:
Hilang Sejak Sabtu, Ibu Muda di Malang Ditemukan di Dasar Jurang

"Saya beli, saya jual lagi, cuma sama bapak diperbaiki dulu, diservis dulu. Kan ada yang bisa, ada yang tidak. Kalau yang bagus bisa ya langsung saya dasar. Kalau yang tidak bisa dibenerin bapak dulu, baru saya dasar," ujar Siti Maimunah.

Ia juga menyampaikan bahwa membeli barang-barang tersebut dengan sistem borongan atau langsung membeli banyak untuk mendapatkan harga yang lebih murah.

Siti Maimunah mengungkapkan bahwa barang-barang yang Ia jual dibanderol dengan harga mulai Rp35 ribu dan rata-rata barang yang ia jual memiliki harga di bawah Rp100 ribu.

"Kalau yang merek China itu ya, kalau yang kecil, ukuran kecil itu ya Rp35 ribu. Kan rusak, di sini diperbaiki dulu, belikan alat dulu. Kalau yang kecil, yang besar, merk-merk itu ada yang saya ambil Rp50 ribu, Rp40 ribu," jelas Siti Maimunah.

Baca Juga:
Klinik Pratama UM Berkolaborasi dengan BPJS, Mahasiswa Luar Kota Bisa Berobat

Ia juga mengungkapkan bahwa menentukan harga juga dilihat dari pembeli yang menawarkan. Beberapa pembeli menawarkan dengan harga yang lebih sedikit, namun ia langsung memberikan barang tersebut.

Siti Maimunah bercerita bahwa ketika awal berjualan barang rombeng (bekas) di tahun 1998, tidak banyak pedagang di kawasan Comboran. Ia mengungkapkan bahwa dulu ia dan suami berjualan sejak pagi hingga jam 11.00 WIB siang saja karena kawasan Comboran telah sepi.

"Dulu suami saya itu kalau rombeng, mulai jam pagi sampai jam 11.00 siang. Soalnya kan disini sudah sepi, jam segitu kan tidak ada. Ini tidak ada, ini masih gudang, di depan masih gudang," tuturnya.

Kini ia berjualan sejak pukul 10.00 WIB hingga 17.00 WIB. Namun, terkadang ia pulang sesuai dengan keinginannya. Sehingga, tidak menentu.

Siti Maimunah mengungkapkan bahwa di era sekarang, ia masih bisa mendapatkan penghasilan yang dapat memenuhi kebutuhan hidupnya. Ia tak hanya menjual barang-barang rumah tangga, tetapi juga alat-alat pertukangan bekas. 

Terkadang, ia mendapatkan barang-barang pertukangan yang besar dan harga jualnya cukup tinggi, seperti bor, serkel atau alat cutting untuk aluminium, hingga genset. Untuk alat-alat besar seperti ini ia menjual dengan harga di atas Rp1 juta.

Tak hanya itu, meski menjual barang bekas, Siti Maimunah masih memberikan garansi satu minggu kepada pembeli. Menurutnya, pembeli akan kasihan jika barang tersebut tidak bisa digunakan.

"Pokoknya yang dijual lagi saya harus kasih yang bagus. Sekiranya konsumennya tidak kembali gitu. Kita masih menerima garansi, satu minggu. Namanya kan barang bekas, kan kasihan kalau tidak digaransi," jelas Siti Maimunah.

Siti Maimunah juga mengungkapkan bahwa ia terkena dampak adanya toko online. Ia bercerita bahwa sebelum adanya toko online, tempatnya selalu rame pembeli. Namun, kini ia kalah dengan toko online. 

Meski demikian Siti Maimunah tetap bersyukur telah berjualan barang rombeng selama puluhan tahun. Ia sampai saat ini masih semangat menawarkan barang-barang yang ia jual kepada pengunjung yang sedang lewat atau sekadar melihat-lihat.

"Dulu rame banget, masih belum ada online-online gitu rame, sebelum ada online itu rame. Sekarang udah ada gitu. Jual apapun sekarang kalah sama itu online-shopping gitu, tapi kita bersyukur. Ini kan jualannya udah hitungan bertahun-tahun, puluhan tahun," ucapnya penuh syukur.(*)