KETIK, SURABAYA – Kursus Pembina Pramuka Mahir Tingkat Dasar (KMD) kembali digelar, lokasinya di Universitas PGRI Adi Buana (UNIPA) Surabaya yang berlangsung mulai tanggal 14, 15 dan 18 hingga 20 September 2026 di Kampus II Unipas Surabaya. KMD diikuti 200 peserta.

Ketua Kwartir Daerah Gerakan Pramuka Provinsi Jawa Timur, (Kwarda Pramuka Jatim) Kak Arum Sabil dalam sambutannya memberikan poin penting kepada para peserta KMD.

Menurutnya menjadi pembina bukan sekadar memiliki keterampilan dalam bidang kepramukaan saja, tapinjuga menjadi pembina yang teladan untuk anggota Pramuka lain.

Dengan demikian, keberhasilan seorang pembina tidak hanya diukur dari banyaknya materi yang disampaikan kepada peserta didik. Namun, dapat tercermin dari tumbuhnya karakter positif dalam diri anak-anak yang dibina.

Kegiatan KMD Pramuka di UNIPA dihadiri 200 peserta. (Foto: Pramuka Jatim)

Baca Juga:
Bukan Halangan untuk Berkarya! 36 Pramuka Difabel Kota Malang Tampil Memukau di Stadion Gajayana

“Anak-anak mungkin lupa apa yang pernah kita katakan. Tetapi mereka akan mengingat apa yang pernah kita lakukan,” tegasnya.

Selain itu, pelaksaan KMD juga menjadi momentum penting memperkuat sinergi antara dunia akademik dan Gerakan Pramuka. Menurutnya perguruan tinggi memiliki kekuatan dalam ilmu pengetahuan, penelitian, inovasi dan pengabdian.

Sedangkan Pramuka menjadi ruang pembentukan karakter, kepemimpinan, kedisiplinan, kemandirian, serta kepedulian melalui pengalaman nyata.

“Perguruan tinggi mengajarkan bagaimana berpikir. Pramuka mengajarkan bagaimana bertindak. Ketika keduanya bersatu, kita tidak hanya melahirkan manusia yang cerdas, tetapi manusia yang berkarakter dan bermanfaat,” katanya.

Baca Juga:
Pengukuhan Pramuka Garuda Kota Malang, Pimpinan Kwarda Jatim Kiagus Firdaus Ajak Jaga Kualitas

Dalam kesempatan yang sama, Kak Arum mendorong kerja sama antara UNIPA dan Gerakan Pramuka Jatim agar tidak berhenti menyelenggarakan KMD. Ia berharap kolaborasi dapat diperluas dalam bidang pendidikan lain.

 “Saya ingin melihat semakin banyak Pramuka berprestasi yang mendapatkan kesempatan melanjutkan pendidikan tinggi melalui program beasiswa penuh,” katanya.

Bagi Kak Arum, beasiswa tidak hanya sekadar bantuan pembiayaan pendidikan saja, melainkan kesempatan membuka masa depan bagi mahasiswa yang membutuhkan.

“Jangan sampai seorang anak yang memiliki prestasi harus berhenti bermimpi hanya karena keterbatasan ekonomi,” tegasnya.

Ia menggambarkan pendidikan sebagai mata rantai kebaikan. Anak Pramuka yang memperoleh kesempatan kuliah dapat berkembang menjadi guru, ilmuwan, pengusaha maupun pemimpin, lalu kembali memberikan kontribusi kepada masyarakat. 

"Ketika kami memberikan pendidikan kepada satu anak, sesungguhnya ini sedang menanam satu benih masa depan,” katanya.

Kak Arum juga menekankan pentingnya kolaborasi lintas sektor. Kampus memiliki kekuatan ilmu dan inovasi, Pramuka memiliki pengalaman serta ruang pengabdian, pemerintah menghadirkan kebijakan dan dukungan, dunia usaha membuka peluang, sementara masyarakat menjadi ruang pengamalan.

“Ketika ilmu bertemu pengalaman, ketika pengetahuan bertemu pengabdian, maka lahirlah perubahan,” ujarnya. (*)